DWI AGUS/RADAR JOGJA
HARMONI : Pementasan Bertabur Gerak di Jagongan Wagen yang digelar di Padepokan Seni Bagong Kussudiarja (PSBK), Sabtu malam (28/2).
BANTUL – Jagongan Wagen hadir dengan warna berbeda. Empat penari dengan latar belakang yang berbeda-beda meng-hiasi Padepokan Seni Bagong Kussudi-arja (PSBK), Sabtu malam (28/2). Me-reka adalah Nini Tri Wahyuni, Elisabeth Nur Nilasari, Anter Asmorotedjo dan Maria Magdalena Ngatini.Bertajuk Bertabur Gerak, mereka me-maknai tema sesuai persepi masing-masing. Meskipun begitu, gerak-gerak ini tetap terlihat harmonis dalam satu kesatuan. Makna tema ini mampu di-hidupkan melalui olah gerak tubuh masing-masing. “Proses kali ini benar-benar mengajak berpikir dan mengulang beberapa memori. Bagaimana pemak-naan diri terhadap olah gerak tubuh. Rekaman memori tentang gerak ini benar-benar telah dikuasai tubu teru-tama tangan,” kata Ninin.
Dalam Jagongan Wagen kali ini be-berapa nuansa tradisi masih terasa begitu kental. Mulai dari gending pengiring gerakan hingga olah gerak tari itu sendiri. Meski begitu setiap penari mampu mengemasnya dengan gaya kontemporer.Unsur-unsur kebaruan yang menjadi warna indah dalam karya ini. Anter yang memiliki kiblat gerakan tari klasik pun hadir dengan warna yang berbeda. Be-berapa gerakan wayang orang terlihat disematkan olehnya.”Bagaimana membangun kesenangan dalam menari. Semua gerak ini berko-ordinasi dan menjadi sebuah kekuatan. Bagaimana tubuh kita bereksplorasi dan membangun kesenangan dalam me-nari,” katanya.Interaski pun dibangun dalam pemen-tasan ini. Para penonton yang hadir diajak untuk naik ke panggung. Penon-ton dibebaskan untuk bergerak sesuai keinginan mereka. Gerakan tari ini seo-lah menguatkan tema tentang pemak-naan gerak tubuh manusia.
Persinggungan ini seakan melahirkan suatu komunikasi yang apik. Yakni per-bedaan perspektif gerak antara penari dan juga penonton. Para penari pun menilai gerak-gerak ini menjadi sebuah kekuatan dalam mengenal dan mem-pelajari tubuh.”Bergerak itu seperti mengobrol dengan teman tapi tidak dengan berbicara. Bisa dengan tari atau wujud lainnya. Ini juga wujud energi untuk melakukan sinergi antar penari dan juga manusia,” kata Elisabeth Nur Nilasari.Setiap gerakan dalam Jagongan Wa-gen kali inipun identik. Karena focus pada gerakan tangan para penari. Dan ini menjadi tantangan bagi para pe-nari untuk menghadirkan dan meng-hidupkan Bertabur Gerak sebagai tema yang diusung.Mengakiri pementasan, para penari kompak menarikan gerakan yang rampak. Diiringi gending tayub keempat penari ini mengakhiri komunikasi mereka dengan penonton secara apik. (dwi/din/ong)