MAGELANG – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mulai mem-pertanyakan penunjukkan CV Tri-karya Indah sebagai kontraktor utama pengerjaan sekat antarlos Pasar Re-jowinangun. Apalagi pola yang muncul di lapangan, pedagang tidak diper-bolehkan mengerjakan sekat sen-diri. Mereka harus memesan melalui Paguyuban Pedagang Pasar Rejo-winangun Magelang (P3RM) atau Perwakilan Pedagang Rejowinangun Magelang (PPRM). Selanjutnya, ke-dua organisasi tersebut memper-cayakan pekerjaan ke Trikarya Indah.”Adanya pengkondisian seperti itu, dampaknya jelas merugikan pedagang.Kenapa harus ada pola seperti itu. Ini bisa dikatakan ada monopoli da-lam pekerjaaan sekat antarlos di Pasar Rejowinangun,” kritik Ketua LSM Masyarak Kota (Maskot) Mage-lang Suharto kemarin (2/3).
Dikatakan pria berkacamata tebal tersebut, kerugian pedagang semakin bertambah. Karena, pihak paguyuban pedagang yang seharusnya mem-bela angggotanya, justru terlalu ba-nyak bermain. Salah satu bukti, ada-nya pembayaran yang macet dari Trikarya ke subkontraktor gara-gara setoran atau aliran dana yang ambu-radul dari paguyuban pedagang. Hal tersebut diakui pihak Trikarya maupun P3RM dalam pertemuan dengan UPTD Pasar Rejowinangun dengan subkontraktor dan Ketua AsosiasiPedagang Pasar Rejowinangun Rejotamam, pekan lalu (27/2)
“Pedagang selalu menjadi pi-hak yang dirugikan dengan per-mainan yang dilakukan pim pinan paguyuban,” paparnya.Suharto mengaku, memiliki banyak temuan di lapangan berdasarkan investigasi yang dilakukan pihaknya selama se-minggu terakhir. Di antaranya, soal pembayaran yang sebenar-nya sudah dilakukan pedagang ke paguyuban. Tetapi akhirnya tidak sampai ke subkontraktor yang menyelesaikan pekerjannya hampir setahun lalu.”Kami juga ada temuan yang cukup menarik soal ke mana aliran dana tersebut akhirnya, setelah berada di tangan pa-guyuban. Tetapi maaf, belum akan saya buka ke publik, se-belum saya laporkan ke aparat hukum,” tegasnya.
Salah satu subkontraktor pe-kerjaan sekat antarlos, Supardji menegaskan, tolak ukur ke-berhasilan di Kota Magelang era kepemimpinan Wali Kota Sigit Widyonindito tidak bisa di-lepaskan dari pembangunan pasar. Mengingat Pasar Rejo-winangun merupakan salah satu denyut nadi perekonomian masyarakat Kota Magelang. Apa-lagi pasar tersebut merupakan terbesar di Eks Karesidenan Kedu.”Berhasil menata Kota Ma gelang kalau juga bisa menata Pasar Rejowinangun. Jangan sampai dikotori kepentingan kelompok atau golongan, yang akhirnya menjadi pembangunan pasar bermasalah,” katanya.
Supardji yang mengaku men-jadi subkontraktor pekerjaan sekat karena kedekatan dengan Wali Kota Sigit Widyonindito mempertanyakan keberadaan CV Trikarya sebagai kontraktor utama.”Siapa yang menunjuk main cont (contractor)? Kenapa maincont bermasalah masih saja di-pakai? Apa di Kota Magelang sudah tidak ada orang profesio-nal lagi? Padahal jelas-jelas sangat banyak (yang profesional),” sindir Supardji.
Tidak kunjung dibayar bahan dan biaya pemasangannya, dua subkontraktor Fajar Adi Nu groho SH dan Supardji mencoba mem-bongkar rolling door yang sudah terpasang di los lantai 2 Pasar Rejowinangun, beberapa waktu lalu (11/2). Aksi tersebut dihalang-halangi beberapa pedagang yang merasa sudah melakukan pem-bayaran, baik lewat kredit di bank maupun P3RM. Saat ini, UPTD Pasar Rejo-winangun melakukan mediasi antara subkontraktor, CV Tri-karya, dan P3RM dengan batas waktu Jumat mendatang (6/3). (dem/hes/ong)