JOGJA – Meski sudah beberapa kali diadakan operasi pasar (OP) beras oleh Bulog, ternyata harga beras di Kota Jogja belum juga turun. Berdasarkan data Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Jogja, harga beras di pasaran masih berkisar antara Rp 10.500 hingga Rp 12.000 per kilogram.
Untuk itu Kota Jogja kembali mengajukan pelaksanaan OP beras ke Bulog Divre DIJ. Tetapi kali ini Disperindagkoptan meminta lokasi pelaksanaan OP beras tidak lagi dilakukan di pasar-pasar tradisional, tapi di tiap kantor kecamatan.
“Kami sudah mengajukan lagi pelaksanaan operasi pasar beras murah ke Bulog, tapi lokasinya jangan di pasar tapi di tiap kecamatan,” ujar Kepala Disperindagkoptan Kota Jogja Suyana kemarin (2/3).
Pihaknya mensinyalir dalam pelaksanaan OP beras yang dilakukan di pasar-pasar tidak tepat sasaran. Hal itu karena dalam OP beras di pasar justru para pedagang beras yang membelinya, bahkan dalam jumlah banyak.
Beras-beras itu nantinya dijual kembali oleh pedagang ke masyarakat dengan nilai jual yang tinggi. “Karena itu supaya tepat sasaran, kami minta operasi pasar dilakukan di kantor kecamatan,” terangnya.
Meskipun begitu, untuk waktu pelaksanaanya masih menunggu konfirmasi Bulog DIJ. Termasuk untuk jumlah beras yang akan digelontorkan. Suyana berharap paling tidak tiap kecamatan bisa mendapatkan jatah OP beras sebesar satu atau dua ton, tergantung ketersediaan beras di gudang Bulog.
Selain itu untuk memenuhi ketahanan pangan di Kota Jogja, Disperindagkoptan juga akan memaksimalkan peran gabungan kelompok tani (Gapoktan) di Kota Jogja. Di antaranya didorong menjadi distributor dan pembelian beras dari luar daerah, seperti halnya Bulog. “Gapoktan itu dapat dana dari kementerian, akan diaktifkan menjadi penjual beras, minimal untuk anggotanya,” terang Suyana.
Saat ini di wilayah Kota Jogja terdapat 14 Gapoktan yang tersebar di 14 kecamatan. Selama ini, lanjut Suyana, Gapoktan di Kota Jogja hanya berfungsi sebagai tempat budidaya serta bercocok tanam produk pertanian dalam rangka mendukung ketahanan pangan.
“Untuk Kota Jogja tetap hanya fokus pada ketahanan pangan. Gapoktan kita beri fungsi distribusi saja, coba cari beras keluar kota,” jelasnya.
Sebelumnya Kepala Bulog Divre DIJ Langgeng Wisnu Adinugroho mengatakan, pihaknya menjual beras dengan kualitas cukup baik, dalam OP beras dengan harga Rp 6.800 per kilogram. Untuk Kota Jogja sendiri Bulog mendistribusikan beras 10 ton, di pasar-pasar serta kantor kecamatan.
Sedangkan untuk stok cadangan beras di gudang Bulog DIJ, saat ini mencapai 8.753 ton yang bisa memenuhi kebutuhan selama tiga bulan. Bulog DIJ juga akan memperoleh tambahan beras sebanyak 7.000 ton yang berasal dari Jawa Timur dan Solo. (pra/laz/ong)