Dwi Agus/Radar Jogja
MEMUKAU: Naga motif batik sepanjang 159 meter unjuk kebolehan saat pembukaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) X 2015.

Agar Naga 159 Meter Beraksi, 200 Personel TNI Gotong Royong

Tangan kreatif warga Jogja tak henti menorehkan prestasi. Kali ini, naga (liong) Jogja yang khas dengan motif batik di sekujur tubuhnya, dinobatkan oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai replika naga motif batik terpanjang di dunia dengan panjang 159 meter.
DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja
Rasa penasaran masyarakat terjawab ketika Naga Jogja melintas. Besarnya naga, membuat kagum ribuan pasang mata yang sudah berdiri di pinggir jalan, mulai kawasan parkir Abu Bakar Ali, di sepanjang Jalan Malioboro hingga seputaran Titik Nol Kilometer. Berbagai jenis kamera dari DSLR, kamera handphone hingga kamera bertenaga baterai A3 pun berebut mendokumentasikan si naga raksasa.
Tak ada batasan usia, tua muda semua memiliki kesempatan yang sama untuk menyaksikan aksi perdana naga raksasa di publik. Naga yang telah dirancang selama kurun waktu dua bulan ini dijadikan bintang tamu yang dinantikan dalam pembukaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) X 2015. Menjadi gong berakhirnya rangkaian karnaval budaya sekaligus aksi 15 peserta Jogja Dragon Festival (JDF) IV, Minggu (1/3).
Menggunakan rangka dari bambu dan rotan, dilapisi sterofom dan dibalut kain katun, motif aplikasi batik karya seni ini dibuat semirip mungkin dengan wujud naga. Menjelang aksinya, naga motif batik ini didaftarkan ke MURI dengan panjang 150 meter. Dengan harapan dapat memecahkan rekor MURI dan menjadi kebanggan masyarakat Jogja.
“Naga ini berhasil menjadi rekor dunia dengan panjang 159 meter, sebelumnya rekor ini dipecahkan di Semarang pada 16 Maret 2014 sepanjang 128,5 meter,” ujar Senior Manager MURI Paulus Pangka.
Tercatat dengan nomor 6.849, naga motif batik ini jadi ikon baru PBTY setelah sebelumnya event yang digagas untuk merayakan Tahun Baru Imlek ini telah membubuhkan rekor MURI dengan Naga Lampion raksasa sepanjang 130,6 meter pada tahun 2010.
Meskipun bertampang sangar, naga memiliki filosofi yang baik. Naga perlambang keperkasaan dan kewibawaan. Dalam satu rangkaian, masing-masing bagian memiliki makna tersendiri. Kumala diartikan sebagai visi, kepala sebagai pemimpin, badan sebagai eksekutif, sedangkan ekor merupakan rakyatnya.
Selain itu ada satu syarat yang sangat penting dan harus disadari oleh pemain naga, yakni adanya cu atau bola api. Karena itulah perlambang spirit yang tidak bisa ditawar. Jika tidak ada Cu, maka tidak ada spirit dalam naga, tanpa Cu naga bukanlah naga.
“Sebagai ikon, tentu saja dengan adanya naga motif batik raksasa ini bisa merealisasikan pariwisata, menjadi magnet keramaian tersendiri pada PBTY tahun ini,” ujar Ketua Jogja Chinese Art Culture and Centre (JCACC) Tendean Hari Setya.
Malam itu, Hari berperan sebagai pemain Cu. Dia yang mengarahkan ke mana naga bergerak, meliuk dan menarik nafas. Mengomandani sekitar 200 personel TNI AU Lanud Adisutjipto dari Skadron Teknik dan Skadron Pendidikan. Mereka bergotong royong, yang masih bugar mengganti yang sudah kehabisan nafas, terus berulang agar gerak naga tidak terhenti di tengah jalan. Tubuh tegap dan latihan yang telah dilakukan mendulang riuh tepuk tangan masyarakat yang menonton.
Permainan naga motif batik raksasa pun ingin merepresentasikan tema PBTY X 2015 yakni Merajut Budaya, Merenda Kebersamaan. Menggunakan karya seni berbentuk naga, dengan kebersamaan menghasilkan sebuah pertunjukan yang hanya bisa disaksikan di Jogja.
“Ini memang sebuah obsesi untuk membuat kembali naga raksasa, dan kali ini terwujud dengan adanya naga motif batik raksasa. Ini sebuah keinginan untuk membanggakan Jogja. Dan masyarakat yang melihat juga ikut bangga, seperti halnya sang naga, kuat namun ramah,” ujar pemrakarsa naga motif batik raksasa Sukeno.
Penampilan naga motif batik raksasa ini menutup aksi dari 15 peserta JDF IV. Lomba ini menampilkan aksi naga dari berbagai sasana dan paguyuban baik di Jogja, Semarang dan juga Magelang. Penilaian naga bukan hanya dari keserasian dan kerapian saat penampilan saja, tapi juga ketahanan dalam menampilkan atraksi serta kreativitas.
Untuk ketiga kalinya, Naga Doreng dari Batalyon Arhanudse 15 Kodam IV/Diponegoro jadi jawara dalan JDF. “Sebelum tampil kami mohon doa restu dan minta Hu di Klenteng Fuk Ling Miau, Gondomanan. Mohon doa agar para pemain diberi keselamatan dan acara diberi kelancaran, karena di sini kami hanya tamu, tapi ingin turut memeriahkan acara,” ujar Komandan Batalyon Arhanudse 15 Kodam IV/Diponegoro Mayor Arh Nova Mahanes. (*/laz/ong)