FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
BUTUH PERBAIKAN: Candi Losari di Dusun Losari, Desa Salam, terendam. Ini patut mendapat perhatian dengan perbaikan drainase secepatnya.
MUNGKID – Terendamnya Candi Losari di Dusun Losari, Desa Salam, Salam patut mendapat perhatian. Drainase di sekitar Candi Losari di-minta segera diperbaiki. Salah satu caranya dengan membuat saluran air yang tidak mengarah ke area Candi tersebut.”Dengan demikian, mata air yang ada di sekitarnya bisa dimanfaatkan pertanian dengan maksimal. Di satu sisi, juga tidak akan mengganggu terkait pariwisata,” kata Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Magelang Achmad Sarwo Edi kemarin (2/3)
Menurut Edi, tergenangnya candi Losari karena ada aliran mata air yang mengarah di se-kitar candi. Posisi candi dike tahui ada di bawah permukaan tanah. Candi terlihat seperti ditengah kolam jika dilihat dari atas. Di sekitar candi itu sudah lama muncul beberapa mata air.”Karena itu, perlu perbaikan drainase mata air. Sehingga air bisa dimanfaatkan dengan mak-simal dan tidak mengganggu kondisi candi,” tegasnya.
Pria yang juga anggota DPRD periode 2009-2014 ini meng-ungkapkan, Komisi II pernah rapat bersama SKPD, terkait keberadaan candi di Kabupaten Magelang. Pihaknya mendorong pemerintah untuk meng-alokasikan anggaran khusus soal pengamanan candi-candi yang ada.”Kami mendorong pada 2016 mendatang ada anggaran yang dialokasikan untuk candi-candi di Kabupaten Magelang. Candi ini jangan sampai tidak eksis dan dikesampingkan. Inventarisir candi-candi ini perlu dilakukan tanpa menghilangkan nilai se-jarah dan tanpa menghilangkan nilai jual kepariwisataan,” tegas-nya.
Ia menyatakan, candi di Kabu-paten Magelang ini harus ada perhatian dari faktor keamanan. Candi yang tercecer tidak harus dikumpulkan pada satu tempat. Tetapi dibiarkan saja pada tempat semula agar tidak menghilang-kan nilai historis dan nilai sejarah candi itu sendiri.”Jadi perlu upaya inventarisir candi-candi di Magelang,” katanya.Candi Losari terletak di 4,5 meter di bawah areal perkebunan salak. Di lahan dengan ukuran 25 x 20 meter itu, air menggenangi batuan-batuan candi dan tangga besi yang mengarah ke bawah.
Meski terendam, masih ada sejumlah batuan yang masih terlihat.Air yang merendam bangunan candi ini berasal dari tiga sum-ber air yang ada di sekitarnya. Biasanya, air hanya surut be-berapa hari di penghujung mu-sim kemarau. Tinggi air yang merendam candi ini mencapai dua hingga tiga meter.Air yang menggenangi bangu-nan candi itu mulai muncul saat Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) menggali tanah sekitar 4 – 5 meter untuk mencari dasar candi, pada Oktober 2013. Kala itu air terus menerus mengalir dari tanah dan menghambat proses penggalian.
Kepala Seksi Sejarah dan Purbakala, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Ka-bupaten Magelang Titik Han-dayani mengatakan, adanya genangan air di Candi Losari ini sudah diketahui BPCB Jateng. Air itu menggenangi satu induk candi dan tiga perwara sejak beberapa kali penggalian oleh BPCB. Sejauh ini, penanganan teknis menjadi kewenangan dari BPCB Jateng.Menurutnya, mengatasi itu sudah ada kajian yang melibat-kan tim ahli Geologi dari UGM dan UPN Jogjakarta. Kajian itu untuk pembuangan air yang menggenang di bangunan candi. (ady/hes/ong)