Hari Ini PK Digelar, Hakim Siapkan Sidang Maraton

SLEMAN – Hari Selasa (3/3) ini Pengadilan Negeri (PN) Sleman menggelar sidang peninjauan kembali (PK) perkara penyalahgunaan narkoba dengan terpidana mati Mary Jane Fiesta Veloso, 30. Dalam surat permohonan PK tertanggal 16 Januari 2015, perempuan asal Baliung, Bulacan, Filipina, ini dikawal tujuh advokat dari Jakarta yang diketuai Rudyantho SH.
PN Sleman menetapkan perkara Nomor 01/Pen.Pid.PK/2015/PN.Smn, tertanggal 24 Februari 2015. PN memerintahkan pemohon dan termohon, dalam hal ini jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Sleman untuk menghadap di persidangan yang telah ditentukan. Yakni dengan menghadirkan saksi-saksi yang perlu didengar dan surat-surat yang akan diajukan sebagai bukti.
Sidang dipimpin Marliyus M.s SH MH dengan hakim anggota Chandra Nurendra SH dan Sony Alfian SH, serta panitera penggangi Rodhiyah. “Pemohon tentu bawa novum (bukti baru). Akan dibuka saat persidangan,” ungkap Marliyus yang juga humas PN Sleman kemarin (2/3).
Sidang perkara ini menjadi prioritas. Ini mengingat bahwa pemohon yang juga dijuluki ratu heroin itu adalah terpidana mati yang permohonan grasinya telah ditolak oleh Presiden Joko Widodo dengan ketetapan Keppres 31/G 2014.
Marliyus menjelaskan, dalam persidangan, semua saksi dan novum akan diperiksa. Jaksa diberi kesempatan untuk menjawab permohonan tersebut. Atau bisa diteruskan dengan agenda replik dan duplik. “Secepatnya. Kalau perlu (sidang) maraton. Karena menyangkut nyawa seseorang,” ungkap Marliyus yang berharap pemeriksaan selesai dalam dua kali persidangan.
Selanjutnya, majelis hakim membuat berita acara pendapat untuk dikirim ke Mahkamah Agung (MA). Keputusan PK di tangan MA.
“PN hanya menerima dan memeriksa (permohonan PK). Semua dikembalikan ke MA,” lanjutnya.
Dari catatan Radar Jogja, Mary Jane ditangkap di Bandara Adisutjipto 25 April 2010 setelah kedapatan membawa heroin seberat 2,61 kilogram senilai Rp 6,5 miliar. Lulusan SMP yang bekerja di sektor informal sebagai pembantu rumah tangga itu dicokok petugas Kantor Pengawasan, Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) DIJ saat melewati pintu X-ray sekitar pukul 08.30.
Mary Jane menyembunyikan barang haram itu dalam ruang palsu yang dibuat di balik kopor merek Polo Paite. Serbuk heroin berwarna coklat muda dibungkus dalam empat kemasan aluminium foil berwarna silver terbalut lakban hitam. Ia tiba di Jogjakarta dari Kuala Lumpur, Malaysia, dengan menumpang pesawat Air Asia bernomor penerbangan AK-594.
Dalam wawancara dengan Radar Jogja, Mary berdalih tak tahu-menahu tentang barang yang dibawanya. Dia mengatakan, hanya dititipi kopor oleh orang asing yang merayunya dengan upah lumayan, untuk membawa kopor tersebut ke Indonesia. Himpitan ekonomi dan status janda dengan dua anak memaksanya menerima tawaran itu. Sesampai di Jogjakarta, Mary dijanjikan dijemput oleh seseorang yang juga tak dikenalnya. Namun, dia ditangkap aparat sebelum keluar bandara.
Atas tindakannya itu, Mary Jane dijerat UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika pasal 113 ayat (2) dengan ancaman hukuman pidana mati, kurungan seumur hidup atau pidana paling singkat 5 tahun dan paling lama 10 tahun. Selain itu juga denda maksimal Rp 10 miliar ditambah.
Dalam persidangan yang dipimpin majelis hakim Dahlan SH, dengan anggota Suratno SH, dan Kadarisman SH, Mary Jane divonis hukuman mati. Dalam kasus lain, tiga hakim tersebut juga memvonis mati terpidana narkoba lain, yakni RA Srie Moertarini, 37, warga RT 05/RW 02 Kelapa Dua, Jakarta Barat. Hanya, Srie yang membawa sabu-sabu seberat 2,6 kilogram lebih beruntung. Sidang banding di Pengadilan Tinggi Jogjakarta menguatkan vonis PN Sleman. Namun, MA memutuskan lain yakni Srie dijatuhi hukuman penjara 18 tahun. (yog/laz/ong)