DWI AGUS/RADAR JOGJA
TOMBO KANGEN: Lukisan-lukisan karya dua seniman, Enroel dan Setyoko yang dipamerkan di IFI Sagan Jogjakarta kemarin (2/3).
JOGJA – Jogja merupakan kota yang memiliki makna le-bih bagi dua seniman, Enroel dan Setyoko. Ini dibuktikan dengan pameran bertajuk My Soul and My Line di IFI Sagan Jogjakarta. Pameran dibuka sejak Senin (2/3), dan baru berakhir Sabtu (7/3) mendatang.Pameran kali ini memiliki makna istimewa bagi Setyoko. Pasalnya merupakan pameran pertama kalinya dia kembali ke Jogja. Jika dihitung, kurang lebih 10 tahun dirinya sudah tidak berpameran di Jogjakarta.”Pameran ini merupakan tombo kangen, karena sudah lama tidak berpameran di sini. Saya senang, akhirnya bisa menyapa lagi Jogja-karta. Sebuah pertemuan yang menyenangkan,” kata seniman kelahiran 13 Juni 1955 ini.
Pameran mencoba meny-ampaikan pesan perjalanan hidupnya. Ini tergores dalam beberapa kanvas karya yang dipamerkan.Di mana dalam setiap karyanya, seniman ini menghadirkan so-sok perempuan dan keindahan bunga. Goresan kuasnya juga penuh warna-warni yang cerah. Dia ingin menunjukkan sisi keindahan kehidupan.Karya milik Setyoko, memiliki ciri khas. Di mana terlihat se-perti susunan puzzle. Namun di dalamnya terlihat ragam ke-hidupan yang terekam apik.”Melihat keindahan dalam per-spektif lukisan, warna yang cerah, objek lukisan dengan aktivitas yang menyenangkan. Setiap pen-gunjung, bisa memiliki hipotesanya sendiri,” kata Setyoko.
Sementara Enroel hadir dengan perspektifnya sendiri tentang My Soul and My Line. Enroel mengang-kat bagaimana dirinya menemu-kan garis berkeseniannya sejak 2010. Sejak tinggal di Eropa, se-niman kelahiran 26 April 1961 ini memiliki variasi dalam karyanya. Tak berbeda jauh dengan Se-tyoko, permainan warna men-jadi kunci utama karyanya. Namun dirinya tidak ingin kehilangan jati diri budaya Jawanya.”Salah satunya dalam karya yang berjudul Garwo, karya itu penuh dengan makna jati diri saya sebagai orang Jawa. Tetap berkembang, tapi tidak mening-galkan identitas,” paparnya.Dalam berkarya, Enroel me-miliki ciri khas dalam berproses. Salah satunya konsisten dalam menggoresnya kuas. “Maknanya seperti kehidupan yang panjang dan berliku. Tapi dalam proses ini, pasti ada ce-rita dan makna yang hadir,” imbuhnya. (dwi/jko/ong)