DWI AGUS/RADAR JOGJA
MERESPONS PBTY: Lukisan yang dipamerkan di Posnya Seni Godod hingga 9 Maret mendatang.

Ruang Terbatas, 140 Lukisan Terpaksa Gantian Dipajang

Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) X yang berlangsung di Kampung Ketandan Jogja turut direspons para seniman lukis. Secara khusus, para seniman ini menyelenggarakan dua pameran di tempat yang berbeda. Yakni di Kampung Ketandan hingga 5 Maret, dan di Posnya Seni Godod hingga 9 Maret mendatang
DWI AGUS, Jogja
KOORDINATOR pameran Godod Suteja mengungkapkan, pameran ini adalah wujud kolaborasi, di mana para seniman pelukis melihat kebudayaan Tionghoa sebagai nilai seni. Keindahan ini diwujudkan dalam lu-kisan yang berjumlah lebih dari 140 lukisan.”Lukisan-lukisan ini merupakan respons dari kegiatan budaya yang dilakukan tahun 2014 lalu. Tepatnya saat perayaan Peh Cun awal Juni. Total ada lebih dari 140 pelukis yang hadir, dengan merespons kegiatan Peh Cun yang berlangsung pada waktu itu,” kata Godod saat ditemui di Posnya Seni Godod, Suryodiningaratan, Jogja, kemarin (3/3).
Pameran yang terbagi dalam dua tempat ini menyajikan keindahaan sudut pandang para seniman. Terutama naga liong yang pernah memecahkan rekor MURI saat penyelenggaran MURI 2010. Sang naga ter-lihat mendominasi seluruh lukisan yang dihasilkan oleh para pelukis.Godod mengungkapkan karya-karya para seniman ini memiliki kedekatan emosional. Dengan adanya kolaborasi ini, maka turut mewujudkan persatuan Indonesia. Dengan melibatkan seniman lintas suku dan agama dalam merespons peristiwa budaya Tiong-hoa
“Pameran ini sebenarnya merupakan penyelenggaraan ketiga. Pameran pertama di Sa-hid Rich Hotel Juni 2014, lalu Jogja City Mall masih di bulan yang sama. Kemudian di Pekan Budaya Tionghoa 2015 dan di sini (Posnya Seni Godod, Red),” ungkapnya.Keterbatasan tempat mem-buat semua karya tidak bisa dipamerkan secara bersamaan. Akhirnya selama tiga hari se-kali, karya-karya ini bertukar posisi alias bergantian, sehing-ga seluruh karya dapat dipamer-kan untuk dinikmati pengunjung.Setelah pameran, seluruh ka-rya akan dikembalikan kepada seniman pembuatnya.
Namun dari seluruh karya ini, beberapa karya telah laku terjual. Seperti karya milik Kartika Affandi, Go-dod Suteja, Tulus Warsito, Nur Hidayat, Fathkur, BSW Adji Ko-esomo, dan Valentino Vebri.Pameran tidak hanya melibat-kan seniman pelukis yang sudah memiliki nama. Dalam kesem-patan partisipan juga datang dari siswa SMA maupun SMK, mahasiswa seni, hingga pegawai negeri dan pegawai swasta.”Pameran ini juga bisa dibilang sebagai bentuk keguyuban para seniman. Karena seniman mu-da dan senior melukis dalam satu tempat. Saling melihat dan bertukar ide untuk menambah wawasan berkarya seni,” tambah Godod. (*/laz/ong)