GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
BERHENTI DI JEMBATAN: Pengendara berhenti di APILL (alat pemberi isyarat lalu lintas) yang baru terpasang di ujung utara Jembatan Layang Lempuyangan, Jogja, kemarin (3/3).
JOGJA – Penambahan alat pemberi isyarat lampu lalu lintas (APILL) di ujung utara Jembatan Layang Lempuyangan, mem-buat antrean kendaraan bisa sampai ke atas jembatan layang. Hal itu dikhawatirkan akan mema-kan usia jembatan layang yang dibangun pada 1988 itu.Kepala Dinas Pemukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil) Kota Jogja Toto Suroto menga-takan, secara umum kondisi jembatan layang Lempuyangan masih aman. Tetapi dengan ada-nya penambahan lampu lalu lintas di ujung utara Jembatan Layang Lempunyangan me-nyebabkan kendaraan harus berhenti di atas jembatan. “Se-benarnya jembatan layang untuk kendaraan dinamis, bukan statis yang berhenti di atas jembatan,” terang Toto kemarin (3/3).
Toto mengakui, sebenarnya Jembatan Layang Lempuyangan terakhir dicek pada 2006 silam, setelah gempa yang terjadi di Jogja. Meskipun begitu, lanjut dia, dalam perencanaan pembangunan jembatan sudah matang. Salah satunya dengan tidak banyak kolom di Jembatan Layang Lempuyangan. “Saya sudah minta ke Dinas Per-hubungan supaya prioritas dari selatan Jalan Sutomo, waktu lam-pu hijaunya diperpanjang sehing-ga mengurangi antrean kendara-an di atas jembatan,” jelasnya.
Terpisah, Kepala Seksi Re-kayasa Lalu Lintas Dishub Kota Jogja Windarto mengatakan, penambahan lampu pengatur lalu lintas di ujung utara Jem-batan Layang Lempuyangan supaya pengendara tidak saling serobot berbelok di pertemuan dengan Jalan Atmosukarto. Windarto menyebutkan upaya itu masih dalam taraf ujicoba. “Sekarang semua masih ujicoba, belum permanen sampai semuanya sinkron,” ungkapnya. Windarto mengatakan, pi-haknya berusaha mengatur waktu lampu hijau dan merah dengan sistem area traffic con-trol system (ATCS) yang bisa dikontrol dari jarak jauh. Men-urut dia, untuk lampu merah di Jalan Atmosukarto akan lebih panjang karena volume ken-daraan yang tidak seramai di Jalan Sutomo. “Kami juga me-nyesuaikan dengan lampu lalu lintas di persimpangan UKDW, sehingga bisa lebih cepat yang dari selatan,” terangnya.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan Dishub Kota Jogja, ke-padatan volume kendaraan hanya terjadi saat pagi dan sore, saat jam berangkat kerja dan sekolah serta pulang kerja. Dalam kondisi padat sekalipun, tidak sampai ada ken-daraan yang berhenti lama di atas jembatan. “Tidak sampai di pun-cak jembatan,” terangnya.Selain di jembatan layang Lempuyagan, Dishub Kota Jogja juga sedang mencari solusi di Jalan Pembela Tanah Air, supaya kendaraan tidak ada yang berhenti di atas jembatan sungai Winongo. (pra/laz/ong)