RADAR JOGJA FILE
BINGUNG: Perubahan harga bahan bakar seperti BBM dan gas yang terlalu cepat membuat pengusaha kebingungan. Sebab biaya produksi yang telah direncanakan harus diubah kembali demi menyesuaikan kenaikan harga BBM tersebut. Terlihat warga tengah mengantre untuk membeli BBM.
JOGJA – Kebijakan pemerintah yang menelurkan kebijakan perubahan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam rentang waktu berdekatan mendapat respons negatif dari pelaku usaha. Pasalnya, dengan kebijakan harga yang berubah-ubah pengusaha akan dipusingkan dengan penentuan harga jual.Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIJ Gonang Djuliastono mengatakan, perubahan harga bahan bakar seperti BBM dan gas yang terlalu cepat akan membuat pengusaha kebingungan. Sebab biaya produksi yang telah direncanakan harus diubah kembali demi menyesuaikan kenaikan harga BBM tersebut. “Kenaikan tersebut berdampak ke-sejumlah sektor mulai dari pembiayaan operasional hingga produksi. Kalau harga berubah-ubah, bisa-bisa kami yang ditinggalkan,” kata Gonang kepada Radar Jogja, kemarin (3/3)
Gonang mengungkapkan, melalui Kadin telah menyampaikan kepada pemerintah untuk bisa menciptakan mekanisme angka harga aman. Sehingga, bila biaya pendukung produksi mengalami kenaikan atau penurunan, pengusaha tetap aman. Melihat situasi seperti ini, jelasnya, Gonang mengimbau kepada para pengusaha untuk melakukan pengetatan dan penghematan. Dengan situasi perekonomian seperti saat ini, lonjakan kenaikan harga tidak bisa diprediksi oleh pengusaha.”Pengusaha harus lebih bijak dalam perencanaan produksi. Melihat di tahun 2015 ini harga BBM dan elpiji 12 kilogram fluktuaktif,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi dan UKM DIJ Riyadi Ida Bagus mengimbau kepada pengusaha untuk bisa menyesuaikan dengan situasi ini. Terutama terkait harga BBM dan elpiji. “Elpiji kenaikannya tidak terlalu tinggi. Hanya saja yag diperhatikan adalah kenaikan elpiji 12 kilogram yang akan berimbas pada serbuan elpiji ukuran 3 kilogram,” terangnya.Dia mengatakan, yang bisa dilakukan oleh dinas adalah memastikan keberadaan barang-barang tersebut di lapangan. Hal tersebut dilakukan untuk mengendalikan harga barang agar tidak terlalu liar. “Maka pasokan BBM dan elpiji diamankan dulu. Sebab bila terjadi kelangkaan harga akan menjadi liar,” tandasnya. (bhn/ila/ong)