SETIAKY/RADAR JOGJ
AJUKAN NOVUM: Terpidana mati kasus narkoba Mary Jane Fiesta Veloso (kanan) saat sidang perdana peninjauan kembali (PK) yang diajukan warga negara Filipina ini di PN Sleman, kemarin (3/3). Ratu heroin ini didampingi seorang penerjemah bahasa Tagalog, Jefry K Tindik, yang pernah bertugas sebagai penerjemah di Kedubes Indonesia untuk Filipina.
SLEMAN – Pengadilan Negeri (PN) Sleman meng-gelar sidang peninjauan kembali (PK) atas perka-ra yang menimpa terpidana mati kasus narkoba Mary Jane Fiesta Veloso kemarin (3/3). Sidang yang berlangsung satu jam itu digelar atas permo-honan warga negara Filipina itu dan tim kuasa hukumnya yang diketuai Rudyantho SH.Dalam memori PK, Rudyantho menuding pe-nerjemah saat sidang perkara yang menimpa kli-ennya pada 2010 adalah bukan seorang profesio-nal di bidangnya
Penerjemah bernama Nuraini, saat itu berstatus mahasiswa Sekolah Tinggi Bahasa Asing LIA Jogjakarta. Nuraini juga dianggap tak layak menjadi penerjemah dalam perkara di persidangan, karena tidak memiliki sertifikat dari lembaga bahasa internasional.Itulah yang dijadikan novum (bukti baru) oleh kuasa hukum pemohon PK. “Penerjemah tak punya kapasitas, sehingga kete-rangannya di persidangan tak bisa diambil manfaatnya secara maksimal oleh terdakwa (saat itu),” ungkap Rudyantho di hada-pan majelis hakim yang dipim-pin Marliyus MS SH MH.Nuraini dianggap tak berkom-peten menjadi penerjemah lan-taran tak ada kesesuaian dengan kemampuan bahasa Mary Jane.
Saat sidang, Nuraini menerje-mahkan percakapan persidangan dalam bahasa Inggris. Rudyan-tho menilai, Mary Jane yang saat disidang berusia 25 tahun sesung-guhnya tak paham bahasa In-donesia maupun bahasa Inggris. “Terdakwa hanya menguasai Tagalog (bahasa nasional Fili-pina),” ungkapnya. Rudyantho menuding penyi-dik polisi maupun kejaksaan yang tak bisa menghadirkan pener-jemah bahasa Tagalog berdam-pak merugikan kliennya. Meski-pun, majelis hakim yang me-nyidangkan perkara bisa mene-rima penerjemahan dalam ba-hasa Inggris. “Terdakwa pasrah dan diam karena tak paham, sehingga tidak menggunakan haknya untuk membela diri,” ujar Rudiyantho yang menganggap kliennya se-bagai korban sindikat pengedar narkotika internasional.
Jaksa Penuntut Umum Sri Ang-graeni Astuti SH membantah semua tudingan pemohon PK. Dalam materi kontra memori,Anggraeni menyatakan bahwa memori PK yang disampaikan tim kuasa hukum Mary Jane bukanlah novum. “Semua ter-bantahkan,” ujarnya. JPU lainnya, Muhammad Ismet SH mengatakan, dalam persi-dangan yang melibatkan pener-jemah tak mengharuskan tokoh profesional yang mengantongi sertifikat lembaga bahasa. Dalam kontra memori jaksa,
Ismet mene-kankan adanya pengajuan gra-si oleh pemohon kepada presi-den RI.”Grasi adalah permohonan pengampunan. Itu berarti pela-ku mengakui kesalahannya, sehingga minta keringanan hu-kuman,” tandasnya.Dalam persidangan kemarin, Mary Jane dibantu seorang pener-jemah bahasa Tagalog, Jefry K Tin dik yang pernah bertugas se bagai penerjemah di Kedu-taan Besar Indonesia untuk Fi-lipina.Sidang dilanjutkan hari Rabu ini untuk mendengarkan ketera-ngan saksi dari pihak pemohon. Ru dyantho menghadirkan dua sak si, salah satunya pimpinan Sekolah Tinggi Bahasa Asing LIA Jog jakarta.

Granat Sebut PK Mary Jane Mengada-ada

Ter lepas dari proses hukum yang tengah berjalan, Gerakan Na sional Anti Narkoba (Granat) DIJ lebih menekankan pada pe-ngajuan PK Mary Jane melalui pe nasihat hukumnya. Penga-juan PK itu justeru dilakukan se telah grasinya “ratu heroin” itu ditolak oleh Presiden Jokowi.”Ini menjadi hal yang mengge-likan dan terlihat mengada-ada,” ka ta Ketua DPD Granat DIJ Ryan Nugroho. Ia menggambar-kan, permohonan grasi artinya bah wa Mary Jane merasa telah bersalah atau melakukan per-bua t an melawan hukum. Atas dasar itu, kemudian meminta pengampunan kepada presiden.
Namun saat grasinya ditolak, justeru mengajukan PK.”Logika saja tidak masuk. Orang yang awalnya meminta ampunan, karena merasa bersalah, tidak diampuni, kemudian berteriak lagi, tidak bersalah,” tegasnya.Dengan demikian, Granat se-cara tegas menyerahkan proses ini ke pihak berwenang. Hanya saja ia menilai semua orang bisa memandang proses ini ha-nya untuk upaya gambling dan mengulur waktu saja. Ia berharap, seluruh unsur masyarakat dan aparat penegak hukum di Indonesia memiliki satu pandangan, bahwa keja-hatan penyalahgunaan dan peredaran narkoba merupakan kejahatan luar biasa. “Jadi saya rasa layak untuk dihukum seberat-beratnya. Bahkan sam-pai hukuman mati,” ujarnya. (yog/fid/laz/ong)

Mary Jane Jawab “Opo” Empat Kali

DIBANDING lima tahun lalu, saat wawan-cara dengan Radar Jogja di Lapas Cebong-an, tubuh Mary Jane Fiesta Veloso kini tam-pak lebih kurus. Hanya rambut hitam pan-jangnya yang kelihatan sama. Juga kebia-saannya mengucir kepang kuda rambutnya.Perempuan yang belakangan ini disebut “ratu heroin” itu mulai ramai dibicarakan publik lagi. Ini menyusul nama Mary dalam deretan terpidana kasus narkoba yang bakal dieksekusi mati. Karena permohonan grasinya ditolak oleh Presiden Joko Wi-dodo. Penetapannya dituangkan dalam ketetapan Keppres 31/G 2014.Pada April 2010, Mary ditangkap petugas pabean Bandara Adisutjipto karena keda-patan membawa heroin seberat 2,61 ki-logram. Sejak itulah janda dua anak itu menjadi pesakitan
Bermula ditahan di Mapolda DIJ, kemudian dititipkan di Lapas Cebongan sampai hakim PN Sle-man menjatuhkan vonis mati kepadanya. Selebihnya, Mary Jane dipenjara di Lapas Wirogunan, Jogja, sampai sekarang.Meski grasi ditolak, ada satu upaya hukum yang selama ini belum ditempuh Mary. Yakni, peninjauan kembali (PK) atas perkara yang menimpanya. Lang-kah itulah yang ditempuh Mary Jane melalui kuasa hukum yang ditunjuk oleh Kedutaan Besar Filipina. Sidang PK digelar di Pengadilan Negeri Sleman ke-marin (3/3).
Tiba di PN Sleman pukul 09.20, Mary yang menumpang mobil tahanan polisi jenis Ranger Ford berplat nomor 1028-32. Didampingi seorang petugas lapas perempuan, Mary dikawal tujuh polisi berbadan tegap. Lima di antaranya bersenjata lengkap.Sambil tertunduk, Mary berjalan cepat menuju ruang sel tahanan PN Sleman. Aparat sempat menghentikan langkah di depan sel untuk mem-beri kesempatan awak media mengambil foto dan video. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Mary yang dipapah petugas. Lain dari biasanya, saat itu tak ada satu pun terdakwa ada dalam sel. Mary menjadi satu-satunya di balik jeruji beru-kuran 3 x 3 meter persegi. Belum ada agenda sidang lain, kecua-li PK tersebut. “Tolong tempat ini disterilkan,” tegas perwira polisi berpangkat inspektur dua.
Di lingkungan sel hanya ada polisi, jaksa, dan petugas pengadilan. Menunggu sekitar 15 menit, Marliyus MS SH, ketua majelis hakim hadir di ruang sidang. Sidang pun segera dimulai. Se-telah membuka sidang yang terbuka untuk umum, Marliyus meminta jaksa menghadirkan terpidana ke muka meja hijau. Di kursi pesakitan, Mary tak sendirian. Dia didampingi seo-rang penerjemah bahasa Taga-log profesional, yang pernah bekerja di Kedutaan Besar In-donesia untuk Filipina. Namanya Jefri K. Kemudian ada tiga ad-vokat yang diketuai Rudyantho SH, dari Jakarta. Marliyus lantas mempersilakan penerjemah menempatkan diri duduk di samping terpidana dan mengambil sumpah. Barulah sidang pemeriksaan materi PK dimulai. “Mary Jane, Anda sehat,” kata Marliyus. “Opo,” jawab Mary Jane membenarkan kondisinya saat itu. Opo artinya “iya” dalam bahasa Tagalog. Kata itulah yang paling banyak muncul dari mulut Mary Jane sebanyak empat kali. Dia membenarkan saat Marli-yus menanyakan identitas. Mu-lai kesehatannya, nama, asal, hingga alamat tinggal. Kalimat lain adalah “terima kasih ba-nyak” dalam bahasa Tagalog.
Selebihnya, Mary yang mengena-kan kemeja putih dan celana jins hitam mengunci mulut, hing-ga polisi mengawalnya kemba-li masuk mobil tahanan. Ekstra ketat. Itulah kesan yang tampak dalam sidang PK terpi-dana mati itu. Proses sidang tak lepas dari pengawalan polisi. Tak kurang 30 polisi berjaga di ruang sidang. Dua orang bin-tara masing-masing berjaga di dua pintu depan. Dua pintu tengah dijaga masing-masing enam polisi. Delapan anggota Sabhara lainnya bersiaga di pin-tu belakang. Selain itu, masih ada beberapa perwira berseragam maupun berpakaian preman duduk di kursi peserta sidang. Itu belum termasuk puluhan anggota Pol-res Sleman yang berjaga di luar ruang sidang dan kantor peng-adilan. Di tengah persidangan, hakim menskors sidang selama lima menit karena terpidana izin un-tuk buang air kecil. Hal itu disam-paikan oleh penerjemah kepada hakim. Sidang digelar untuk mendengar memori PK oleh tim kuasa hukum Mary Jane, dan jawaban atas materi PK oleh Jaksa Sri Anggraeni Astuti SH. Sidang berakhir pukul 10.15 dan dilan-jutkan hari ini dengan agenda pemeriksaan saksi dari pemohon. (yog/laz/ong)