GUNUNGKIDUL – Badan Pe-nyuluhan dan Ketahanan Pangan Gunungkidul beranggapan, kenaikan harga beras menjadi momen untuk menyukseskan program diversifikasi pangan. Salah satunya, dengan menggulirkan program sehari tanpa nasi.”Meski demikian, kebijakaan tersebut akan dikoordinasikan dengan pihak terkait,” kata Kepala BPKP Gunungkidul I Ketut Santosa, kemarin (4/3).Dia menjelaskan, tingginya harga beras bisa menjadi berkah terhadap program diversifikasi pangan. Dengan begitu, masyarakat tidak terus bergantung pada komoditas beras sebagai bahan makanan pokok. “Momen ini sangat baik, karena bisa berimplikasi terhadap program ketahanan pangan selain beras. Apalagi di sini (Gunungkidul) bahan pangan selain beras tersedia melimpah ruah,” ujarnya.
Nah, untuk menyukseskan program diversifikasi pangan, digulirkanlah wacana satu hari tanpa nasi. Sasaran awal program ditujukan kepada jajaran pegawai Pemkab Gunung-kidul. Pertimbangannya, PNS di wilayah masing-masing memiliki pengaruh. “Jadi, kalau bisa berhasil pasti akan diikuti oleh masyarakat lain,” terangnya.Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Gunungkidul Azman Latif mengakui program sehari tanpa nasi bisa mengurangi tingkat ketergantungan masyarakat terhadap beras. Diakui, meski tingkat konsumsi beras masih di bawah angka rata-rata secara nasional, namun jika program dilaksanakan itu jelas baik. “Terlebih, potensi makanan peng-ganti beras mudah diketemukan di Gunungkidul. Ada ubi jalar, ganyong, talas, jagung dan masih banyak lagi,” terang mantan Kepala BPKP itu.
Konkretnya, dalam waktu dekat pihaknya akan menggandeng Univeristas Gadjah Mada (UGM) untuk penelitian potensi keaneka-ragaman pangan. Direncanakan, kegiatan tersebut berlangsung selama tiga tahun, mulai dari pen-dataan, pemililihan komoditas unggulan hingga pengelolaan.”Kami sudah bertemu dengan perwakilan dari UGM. Mereka juga sudah meminta izin untuk menjalin kerja sama di bidang ketahanan pangan,” bebernya. (gun/ila/ong)

Warga Banjaroya Harapkan OP Beras

SEMENTARA ITU, Warga Banjaroya, Kalibawang, Kulonprogo mengharapkan adanya Operasi Pasar (OP) beras Bulog. Itu menyikapi tingginya harga beras beberapa pekan terakhir. Alasannya cukup logis, sebagian besar wilayah Banjaroyo berada di daerah tidak ada sawah, adapun hanya sedikit sekali.Kecamatan Kalibawang tampaknya tidak membuang peluang yang ditawarkan pemerintah dalam mengatasi lonjakan harga beras di pasaran. Terlebih warga di Kalibawang, khususnya di Banjaroyo memang benar-benar membutuhkan.
Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Trasnmigrasi (Dinsosnakertrans) Kulon-progo Eka Pranyata mengatakan akan menindaklanjuti bersama Bagian Per-ekonomian Setda untuk mengadakan OP beras yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu Pasar Bendungan Wates.”Akan kita tindaklanjuti permohonan itu dengan berkoordinasi dahulu dengan Bagian Perekonomian,” ucapnya, kemarin (4/3).Sementara itu, Perwakilan dari Bulog Divre DIJ Priyo mengaku siap menggelar OP beras sesuai permintaan pemkab. Sekaligus mengevaluasi pendistribusian raskin untuk perbaikan di waktu-waktu yang akan datang.
“Pada prinsipnya Bulog tetap menjamin distribusi lancar dan beras baik sesuai dengan Pedoman Umum Raskin. Terkait OP kami juga siap,” tegasnya.Terkait distribusi Raskin bulan Maret 2015, akan dilaksanakan tak lama setelah jarak raskin bulan Februari dilsalurkan. Harapannya pendistribusian raskin bulan April sudah sesuai dengan jadwal bulannya. (tom/ila/ong)