ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
EFEKTIF: APILL bertenaga surya semakin banyak digunakan karena dinilai lebih efisien dan praktis ketika listrik sering padam akibat buruknya cuaca. Dibandingkan dengan yang konvensional, APILL bertenaga surya ini memang lebih mahal harganya.
BANTUL – Buruknya cuaca akhir-akhir ini mendorong Dinas Perhubungan (Dishub) mengambil inisiatif untuk mengantisipasi operasional alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL).Sebab, buruknya cuaca yang ber-dampak pada pemadaman listrik berdampak pada matinya lampu, sehingga berpotensi mengakibatkan kecelakaan lalu lintas. “Makanya di beberapa tempat kami menggunakan APILL bertenaga surya,” terang Kepala Dishub Bantul Suwito, kemarin (4/3).
APILL bertenaga surya tetap dapat berfungsi, meskipun ada pemadaman listrik. Berbeda dengan apill konvensional yang sumber tenaganya berasal dari aliran listrik. APILL jenis ini akan ikut padam menyusul matinya aliran listrik jika terjadi cuaca buruk seperti belakangan ini.Memang, kata Suwito, harga satu set APILL bertenaga surya ini dua kali lipat lebih mahal dari APILL konvensional. “Satu set lengkap sekitar Rp 300 juta,” sebutnya.
Namun demikian, penggunaan apill bertenaga surya ini juga dapat meng-hemat tagihan pembayaran listrik. Menurutnya, Dishub telah mendata sejumlah titik yang perlu menggunakan APILL bertenaga surya. Ada sejumlah pertimbangan titik-titik tersebut harus terpasang APILL yang diklaim lebih tahan terhadap gangguan ini. Antara lain, kepadatan volume kendaraan, dan rentan terjadi kecelakaan lalu lintas. “Sudah kami masukkan dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah,” ungkapnya.Ada sejumlah titik yang telah terpasang APILL bertenaga konvensional. Misalnya, simpang empat Klodran, simpang tiga Cepit, simpang empat Jonggrangan, dan simpang tiga Ringinharjo, Bantul. “Tahun ini di simpang empat Bangunjiwo (Kasihan),” jelasnya. (zam/din/ong)