BANTUL – Siklus lima tahunan penularan penyakit demam berdarah dengue (DBD) memang benar adanya. Ini terbukti dengan drastisnya peningkatan penderita penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes Aegypti ini. Dalam dua bulan terakhir saja, jumlah pasien penderita DBD di Bantul sudah mencapai sekitar 300-an orang.Kabid Penanggulangan Masalah Kesehatan (PMK) Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul Pramudi Darmawan menyebutkan, dari 300-an penderita ini lima di antaranya meninggal dunia. Dari jumlah itu, dua di antaranya telah diaudit. Hasilnya, dua pasien ini positif meninggal dunia karena menderita DBD. “Yang tiga belum diaudit. Jadi masih sebatas dugaan,” terang Pramudi di kantornya, kemarin (4/3).
Menurutnya, para penderita DBD ter-banyak dari wilayah penyangga. Yaitu, Kecamatan Banguntapan, Sewon, dan Kasihan. Selain berbatasan dengan Kota Jogja, banyaknya penderita DBD di tiga kecamatan ini juga karena padatnya penduduk. “Wilayah Dlingo, Pleret, Kretek, Srandakan, maupun Sanden (jumlah penderita DBD) sedikit,” ujarnya.Selain itu, dari lima penderita DBD yang meninggal tiga di antaranya berasal dari wilayah penyangga. Ada dua penderita yang meninggal dunia berasal dari kecamatan Kasihan. Satunya lagi adalah warga Sewon. Adapun dua penderita me-ninggal lainnya yang telah dinyatakan positif menderita DBD berasal dari Kecamatan Pandak dan Jetis. Guna meminimalisasi bertambahnya jumlah penderita DBD, Dinkes sebagai leading sector bersama satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait terus meningkatkan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Selain itu, masyarakat di seluruh Bantul diharapkan juga me-ningkatkan program serupa. “Fogging bukan solusi karena hanya membunuh nyamuk besarnya,” ungkapnya.
Meskipun penderita DBD meningkat drastis, Pramudi memastikan stok obat-obatan di rumah sakit maupun puskesmas se-Bantul tercukupi. Toh, tidak ada obat khusus bagi penderita DBD karena virusnya tidak bisa dibunuh dengan obat. “Kalau panas ya dengan obat penurun panas. Kalau ada tanda pendarahan ya kita tindak,” jelasnya. Kasi Surveilans Dinkes Widawati me-nambahkan, penderita DBD yang meninggal dunia pada bulan Januari sebanyak dua orang. Adapun pada bulan Februari sebanyak tiga orang.”Mudah-mudahan auditnya bisa kami lakukan bulan ini,” tandasnya.Dari catatan Radar Jogja, jumlah penderita DBD meningkat drastis pada bulan Februari. Sebab, dalam kurun bulan Januari hingga awal Februari jumlah penderita baru mencapai 115 orang. (zam/din/ong)