ADIDAYA PERDANA/RADAR JOGJA
GOTONG ROYONG: Masyarakat dibantu relawan, TNI, dan Polri menyingkirkan tanah bekas longsoran di Desa Ngemplak.
MUNGKID – Ancaman bencana alam tanah longsor terus menghantui warga di Kabupaten Magelang. Terbaru, ben-cana tanah longsor menerjang lereng Gunung Sumbing. Tepatnya di Desa Gunungsari, Kecamatan Windusari. Di desa yang berbatasan langsung dengan Desa Tanggul Angin, Keca-matan Selopampang, Kabupaten Temanggung tersebut, tanah long-sor tersebar di enam titik. Yaitu, di Dusun Gugu I dan Dusun Gugu II, masing-masing ada tiga titik tanah longsor. Selain menerjang dua rumah warga, bencana itu juga sempat menutup arus lalu lintas antar desa. Beruntung, warga dibantu relawan dan TNI-Polri langsung terjun ke lapangan
Ruas jalan Desa Ngemplak – Gumuk sudah bisa dilalui ken-daraan pada Rabu pagi (4/3).Peristiwa itu bermula ketika wilayah Gunung Sumbing diter-jang hujan hampir satu hari penuh hari Selasa (3/3). Hujan turun dari pukul 11.00-22.00. Tanah yang mayoritas di lereng-lereng bukit itu mengalami longsor.”Dua rumah yang terkena langs-ung tanah longsor kondisinya jebol dan roboh. Paling parah, rumah milik Suwadi, 60. Dinding rumahnya sampai jebol,” kata Kepala Desa Gunungsari, Win-dusari Suwadi, 36, kemarin (4/3).
Rumah Sukoyo berada persis di bawah tebing dengan keting-gian 20 meter. Dua dinding ka-mar yang dihuni enam jiwa tersebut mengalami jebol. Se-mentara, satu rumah lagi yang roboh merupakan tempat penyimpanan tembakau. Akibat peristiwa ini, kerugian diperki-rakan mencapai Rp 150 juta.”Dua rumah berdampak langs-ung. Sementara rumah warga lain dalam kondisi menggantung. Karena, rumah di sini rata-rata bangunanya terlalu mojok ke senderan,” jelasnya.Desa Gunungsari, Windusari terbagi menjadi enam dusun. Ya-kni, Dusun Gugu I, Gugu II, Gunungsari, Manggal, dan Mbelang. Jumlah penduduk di desa tersebut sebanyak 2.209 jiwa. Mereka ber-tempat tinggal di 534 rumah.”Dari jumlah itu, mayoritas rumah mereka berada di atas tebing. Bahkan, dari seluruh rumah yang ada, 60 persen rumah dibangun di daerah rawan tanah longsor,” ungkapnya.
Sementara itu, Camat Windu-sari Syiha Bidin menjelaskan, selain di Desa Gunungsari, tanah longsor juga terjadi di Desa Ngemplak dan Genito yang masing-masing satu titik tanah longsor. Dari pengamatannya, tanah longsor paling parah ada di Desa Gunungsari.”Setelah diketahui ada tanah longsor, warga langsung dibantu satu pleton dari polres dan satu pleton dari TNI. Sekitar 200 war-ga juga dibantu relawan untuk proses pembersihan,” jelasnya.
Mantan Camat Kajoran itu menjelaskan, di Kecamatan Windusari secara keseluruhan ada sembilan desa yang kon-disinya rawan tanah longsor. Yakni, Ngemplak, Dampit, Gunungsari, Girimulyo, Tanjungsari, Pasangsari, Wono-roto, Genito, dan Candisari. Mayoritas pemukiman warga di sembilan desa tersebut berada di tanah yang miring.”Kecamatan Windusari memi-liki kontur tanah yang miring dengan tingkat kemiringan ber-variasi,” jelasnya.Dikatakan, total warga di Kecamatan Windusari ada 50.053 jiwa. Hampir separo dari jumlah itu, warganya tinggal di daerah rawan bencana tanah longsor. Sebagai langkah antisipasi, pihak kecamatan sudah melakukan sosialisasi terhadap linmas di desa-desa untuk siaga bencana.”Jika terjadi bencana alam, mereka langsung melakukan kerja bakti. Jika hanya bencana kecil, nantinya ditangani sen-diri. Sebaliknya, andai skala besar,kami minta bantuan ke BPBD,” katanya. (ady/hes/ong)