YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
BANGGA: Kabag Operasional Monjali Benny Soegito menunjukkan piagam penghargaan dari MURI bersamaan peringatan Serangan Umum 1 Maret.
SLEMAN- Museum Monumen Jogja Kembali (Monjali) meraih penghargaan prestisius dalam peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949. Monjali masuk museum rekor dunia Indonesia (MURI). Piagam penghargaan diserahkan oleh Senior Manager MURI Paulus Pangka kepada manajemen Monjali sebagai pendukung penye-lenggara pameran keris bertahta emas terbanyak. Penghargaan tersebut dicatat di rekor MURI dengan register nomor 6850/R.MURI/III/2015.Dalam kesempatan itu, Paulus Pangka juga menyerahkan buku rekor MURI volume 7 kepada Bupati Sleman Sri Purnomo, penghargaan rekor MURI kepada Hutomo Mandala Putra selaku pemrakarsa pameran keris bertahta emas terbanyak, serta penghargaan MURI untuk Begug Purnomosidi sebagai penye-lenggara pameran keris bertahta emas. “Momen itu terjadi saat peringatan serangan umum di Monjali karena ada keterkaitan,” ungkap Kabag Operasional Monjali Benny Soegito kemarin (4/3)
Monjali bukan sekadar menjadi tempat penyimpanan benda-benda bersejarah peninggalan zaman perjuangan kemerdekaan. Monjali menjadi bukti perjuangan pahlawan dalam perang merebut kembali Jogjakarta dari penjajah pada 1 Maret 1949.Karena itu, manajemen Monjali berharap peringatan serangan umum 1 Maret dijadikan hari nasional oleh pemerintah.Nah, penghargaan MURI di-serahkan saat peringatan serang-an umum 1 Maret ke-66, di sela pagelaran wayang kulit, yang ditampilkan lima dalang. Yakni, KPAA Condro Kusumo (Suro Agul-Agul), Ki Widodo Wilis, Ki sigit Mursito, Ki Maryono Brahim, dan Ki Narto Gunowiyono. Pameran keris bertahta emas memper-tontonkan 145 buah koleksi milik KPAA Condro Kusumo.Sri Purnomo mengatakan, peringatan serangan umum 1 Maret penting dikenang. Karena telah membuka mata dunia bahwa TNI dan rakyat masih eksis dalam melawan Belanda. Buktinya, mereka berhasil merebut Jogjakarta selama enam jam. (yog/din/ong)