SETIAKY/RADAR JOGJA
BERHARAP DITERIMA:Mary Jane Fiesta Veloso (kiri) didampingi seorang penerjemah bahasa Tagalog, Jefry K Tindik dalam sidang lanjutan PK di PN Sleman, kemarin (4/5).
grafis-mery
SLEMAN – Dua saksi dihadirkan di muka sidang hari kedua penin-jauan kembali (PK) kasus pe nye-lundupan 2,6 kg heroin atas ter-pidana mati Mary Jane Fiesta Ve loso di Pengadilan Negeri (PN) Sle man, kemarin (4/3)
Mereka adalah rohaniwan Pas-tur Bernhard Kieser dan Agus Irwanto dari Sekolah Tinggi Ba-hasa Asing LIA Jogjakarta.Keduanya dihadirkan tim kuasa hukum terpidana yang diketuai Rudyantho SH untuk membuktikan novum bahwa Nuraini, penerjemah yang men-dampingi Mary Jane selama penyidikan hingga sidang pada 2010, tak profesional hingga merugikan warga negara Fili-pina itu.
Sebab, Mary tak me-mahami bahasa hukum dan proses persidangan yang setiap percakapannya diterjemahkan dalam bahasa Inggris.Rudyantho juga memperma-salahkan surat tugas dari kampus bagi Nuraini, yang saat menjadi penerjemah sidang berstatus mahasiswa STBA LIA Jogja. “Su-rat dibuat Minggu. Ini jelas sejak awal ada rekayasa,” ungkap Ru-dyantho, usai sidang. Advokat asal Jakarta yang ditunjuk Kedutaan Besar Filipina untuk Indonesia itu juga menyayangkan sikap jaksa yang tak menghadirkan Nuraini untuk diperiksa sebagai saksi. Agus Salim SH, advokat lain menyatakan sempat terjadi salah pemahaman oleh Mary Jane atas kalimat terjemahan Nuraini dalam bahasa Inggris, yang berakibat fatal bagi terpidana mati itu.
“Mary ditanya apakah dia mengaku salah. Dijawabnya iya. Padahal, maksud yang dipa-hami Mary adalah apakah kamu menyesal. Ya, dia menyesal tapi merasa tak bersalah karena di-jebak,” papar Agus Salim.Agus Salim menegaskan se-suai pasal 51 KUHAP, terdakwa suatu perkara berhak mengeta-hui dasar bahasa yang dimenger-ti saat menjalani persidangan. Karena itu, jaksa wajib mengha-dirkan penerjemah yang kom-peten. “Dia (Mary) hanya bisa bahasa Tagalog. Bukan Inggris,” katanya.
Sesuai keterangan Agus Ir-wanto, Nuraini adalah alumnus STBA LIA dengan spesifikasi bahasa Inggris.”Apakah sau-dara Nuraini menguasai bahasa Tagalog,” tanya Rudyantho. Agus Irwanto menjawab, “tidak”.Usai mendengar keterangan dua saksi, ketua majelis hakim Marliyus SH menskors sidang yang berlangsung sekitar 30 menit sejak pukul 09.45. Skorsing dilakukan untuk membuat be-rita acara sidang.Sidang kembali dibuka setelah jeda 2,5 jam. Dibuka lagi hanya tiga menit, Marliyus lantas menge-tuk palu lagi tiga kali untuk menutup sidang. “Dengan ini sudah tak ada sidang. Selanjut-nya berita acara beserta penda-pat hakim akan dikirim ke Ma-hkamah Agung secepatnya,” ujar Marliyus, sebelum ketok palu.
Usai sidang, Marliyus yang juga Humas PN Sleman mema-parkan bahwa semua keterang-an saksi telah ditarik kesimpulan dalam berita acara. Pendapat hakim bisa menerima atau me-nolak novum (bukti baru) yang diajukan pemohon PK. “Semua terungkap. Tapi, tentang penda-pat hakim sifatnya rahasia. Kami tak bisa sampaikan di sini,” je-lasnya.Mengenai percepatan putusan PK, lanjut Marliyus, tergantung hakim agung di MA. “Kami ha-nya administrasi dan laporkan fakta siding,” lanjutnya. Jaksa Penuntut Umum Sri Ang-graeni Astuti SH mengatakan, usai sidang PK, terpidana bisa sewaktu-waktu dipindah dari Lapas Wirogunan Jogja ke Nusa-kambangan, Cilacap. Apakah hal itu harus menunggu putusan MA atau tidak, Anggraeni tak bisa memastikan. (yog/laz/ong)