ADIDAYA PERDANA/RADAR JOGJA
PERNYATAAN YOGYAKARTA: Anggota MUI bersama pemuka agama Buddha berbagai negara bertemu di Candi Borobudur.
MUNGKID – Penyalahgunaan agama untuk mendorong diskrimi-nasi dan kekerasan di dunia perlu ditolak. Dan harus diketahui, ekstrem dan radikalisme bukan hanya mun-cul dari umat Islam saja. “Hampir semua agama muncul kelom-pok ektrimis. Jadi, jangan sampai ada stereotip dan menggeneralisasikan satu agama saja,” kata Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Samsudin pada acara pertemuan tingkat tinggi pemim-pin Buddha dan muslim Internasional di Candi Borobudur, kemarin (4/3).
Menurut Din, dalam komitmen kedua belah pihak, peran pemerin-tah harus diperkuat. Yaitu menolak diskriminasi dan kekerasan atas nama agama. Ia juga menyebutkan, upaya memberdayakan kaum mo-derat sebagai salah satu jalan tengah. Komitmen tersebut tertuang dalam “Pernyataan Yogyakarta”. Dalam komitmen tersebut, dinyata-kan adanya kesepakatan dan nilai bersama antara Buddha dan Islam
Di antaranya, membangun hubungan yang harmonis an-tarumat agama Buddha dan Islam. Ini untuk membangun perdamaian dan kemakmuran antarumat. Selain itu, juga men-ekankan bahwa kedua agama adalah agama yang penuh dengan kasih sayang dan welas asih. Keduanya memiliki komitmen pada keadilan bagi seluruh umat manusia.Selain itu, dalam kesepakatan tersebut juga ditekankan nilai-nilai mendasar yang ada dalam teks kitab suci Buddha dan Islam. Antara lain, keragaman agama dan hidup berdampingan dengan damai, kasih sayang, dan welas asih yang universal.Juga, keadilan yang universal, hidup harmoni dengan ling-kungan, martabat dan kehor-matan kemanusiaan dan anti-kekerasan.
Lahirnya pernyataan nilai dan komitmen bersama itu antara 30 pemuka agama Buddha dan Islam di 15 negara. Ini dilakukan untuk mengatasi paham ekstrem dan diskriminasi agama. Komit-men bersama tersebut juga un-tuk mendorong perdamaian dengan keadilan antarumat beragama.Harsha Kumara Navaratne dari Organisasi Persatuan Umat Buddha Dunia (INEB) menje-laskan, peran kaum moderat sangat penting dalam menga-tasi paham ekstrem dan diskri-minasi. Perpecahan umat bera-gama biasanya lahir dari adanya gelagat ekstremis. Yakni agama menjadi alat pembenar oleh seseorang.”Interaksi moderat menjadi jalan tengah. Bahkan, media massa bisa menjadi salah satu alat untuk membawa damai,” ka-tanya. (ady/hes/ong)