JOGJA – Sebagai perguruan tinggi, Universitas Sarjanawiata Tamansiswa (UST) tak sekadar fokus bidang pendidikan. Lem-baga pendidikan yang didirikan Ki Hadjar Dewantara ini diminta terus memelopori dan mengawal ekonomi kerakyatan di Indonesia. Tujuannya, agar ekonomi Indo-nesia tidak dikuasai para pemilik modal besar, terutama asing.”Ki Hadjar Dewantara telah mendoktrin kepada kita semua, agar setiap aktivitas yang kita jalankan selalu bernafaskan ke-bangsaan dan kerakyatan. Kita semua harus selalu rukun, gotong royong, dan saling membantu,” kata Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa Sri Edi Swasono saat peresmian gedung Fakultas Pertanian UST di Jalan Batikan, Jogja kemarin.
Dalam kesempatan itu, Edi meng-kritisi program pemerintah yang kurang berpihak kepada petani dan nelayan. Menurutnya, swa-sembada beras tidak ada artinya, bila kebanyakan petani Indonesia masih miskin. Begitu pula tak ada artinya pelabuhan dibangun besar, tapi keterampilan dan peralatan nelayan tidak memadai.”Buat apa swasembada pangan, bila petaninya tetap miskin. Sebe-lum membangun infrastruktur, pastikan dulu sumber daya manu-sia (SDM) memadai,” terang Edi.Agar UST semakin dikenal masyarakat, Edi berharap dosen dan dekan di UST terus mening-katkan keilmuannya. Bukti ek-sistensi seorang dosen tidak sekadar membuat karya pene-litian/ilmiah, tapi sebuah buku. Karena itu, ia mendorong ke-pada dosen dan dekan di ling-kungan UST berani belajar dan kembali meneruskan membuat buku dengan merujuk pada aja-ran Ki Hadjar Dewantara. “Saya ingin, dosen-dosen per-tanian UST mampu menemukan tanaman baru. Nanti, tanaman baru tersebut diberi nama UST, agar mudah dipahami dan di-kenal masyarakat,” harap Edi.
Rektor UST Pardimin menga-takan, gedung baru yang di-bangun di atas tanah seluas 597,27 meter persegi ini, dibangun Yayasan Sarjanawiata Tamans-iswa. Nantinya, gedung ini akan difungsikan untuk kegiatan be-lajar mengajar Fakultas Perta-nian. Gedung yang ada di Jalan Batikan berlantai 3 itu, memi-liki 10 kelas, ruang lobi, dan ruang laboratorium. Untuk me-maksimalkan belajar mengajar, kelas kuliah dilengkapi LCD.”Pada hari libur, ruang parkir ini bisa disewa pegawai dan ma-syarakat sekitar. Ini sesuai ajaran Ki Hadjar Dewantara juga,” kata Pardimin. (mar/jko/ong)