FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
BERI SEMANGAT: Tersangka Ardi Satrio Hanindito ditengok teman sebelum dibawa menggunakan Mobil Tahanan Kejari Magelang ke Lapas Magelang.
MAGELANG–Menyedihkan. Mungkin itu kata yang tepat menggambarkan kondisi saat melihat barang bukti yang disita Polres Magelang dari PNS Pemkot Magelang, Ardi Satrio Hanindito, 36. Ia merupakan tersang-ka kasus korupsi Biaya Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) Pemkot Magelang Tahun 2012
Dari sekitar Rp 601.070.250 dana yang digelapkan, penyidik hanya bisa menyita sofa, LCD TV, printer, komputer, sejumlah dokumen, dan satu unit sepeda motor Viar biru tua bernomor polisi AA 5405 GK. Kemarin (5/3), barang bukti dan tersangka dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Magelang karena sudah lengkap (P21).”Iya, hari ini kami menerima pelimpahan tahap kedua untuk kasus dugaan korupsi dana BPHTB dari polisi berupa barang bukti dan tersangkanya,” kata Kepala Kejaksaan Negeri ( Kajari) Magelang James Fudhoil James SH kemarin (5/3).Dari barang bukti yang sempat diangkut dengan pikap oleh polisi, tidak terlihat barang yang mewah. Sofa yang diangkut dari rumah tersangka di Kampung Trunan, Kelurahan Tidar Selatan, Magelang Selatan bentuknya sangat sederhana. Begitu juga dengan LCD TV, bukan yang ukuran besar, melainkan hanya 21 inchi.”Langkah kami selanjutnya, segera limpahkan kasus ke Peng-adilan Negeri (PN) Magelang. Jika kemarin-kemarin di kepoli-sian tidak ditahan, kini akan kami tahan dengan dititipkan ke Lapas IIA Magelang. Dasarnya, perkara sudah memenuhi pasal-pasal yang dituduhkan, yakni korupsi,” paparnya.
Tersangka tiba di Kantor Kejari Magelang di Jalan Veteran sekitar pukul 09.00 dengan berbaju garis-garis besar disertai penyidik Ti-pikor Polres Magelang Kota yang dipimpin Aiptu Sudarsana. Dalam pelimpahan tersebut, tersangka yang saat ini bertugas di Inspek-torat Pemkot Magelang tersebut didampingi kuasa hukumnya, Janu Ismanto. Korupsi dilakukan tersangka saat bertugas di Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan Daerah (DPPKD) dengan mem-proses 82 wajib pajak (WP) selama bulan Januari-Agustus 2012, tanpa melalui manual pendapa-tan daerah. Ia juga memalsu tanda tangan atasannya yang bernama Sudewanto dan benda-hara bernama Mujayanti, serta stempel dinas.”Sebelum diserahkan ke Kejari, klien saya sudah diperiksa penyi-dik sekitar empat kali sejak 2014. Selama penyelidikan, klien saya sangat kooperatif. Klien saya mengakui telah menggelapkan pajak BPHTB itu senilai Rp 601.070.250,” ungkap Janu Iswanto.
Terpisah, tersangka mengaku khilaf atas kejadian tersebut. Ia membenarkan uang hasil ko-rupsi digunakan untuk bersenang-senang di dunia malam. Tepat-nya untuk karaoke di sebuah tempat hiburan di Jogja.”Iya, saya buat karaoke. Di Jogja. Tepatnya mana, biar men-jadi privasi saya,” ungkapnya.Saat ditanya soal penggunaan uang Rp 600 juta, tersangka mengaku habis tidak lebih dari tiga bulan.”Saya setiap karaoke paling sedikit menghabiskan Rp 5 juta dan hampir tiap malam saya lakukan itu,” paparnya.Dari informasi, dalam seming-gu tersangka bisa menghabiskan uang Rp 60 juta hanya untuk bersenang-senang. Kasus ter-sebut sebenarnya sempat bebe-rapa kali dimediasi agar dibay-ar kerugian negara. Tapi seper-tinya ada orang kuat yang men-ghendaki kasus tahun 2012 ini tetap masuk ranah hukum.”Ada pihak pemkot yang ngo-tot minta kasus ini tetap ditanga-ni polisi. Padahal ada upaya mengganti kerugian negara,” ungkap sumber koran ini.
Saat ditanya soal kemungkinan membayar kerugian, tersangka yang saat ini sudah beristri dan mempunyai dua anak tersebut mengaku sudah tidak lagi mem-punyai uang.”Yang buat mbay-ar, sudah tidak ada,” ujarnya.Sekitar pukul 13.00, tersangka yang didampingi istrinya akhir-nya dibawa ke Lapas Magelang dengan menggunakan Mobil Tahanan Kejari Magelang Nopol AA 9506 UH untuk ditahan. Se-belumnya, tersangka sempat Salat Dhuhur bersama pegawai Kejari Magelang. Ia juga sempat dikunjungi beberapa rekannya dari Inspektorat.”Sudah dua tahun Ardi itu kerja di Inspektorat. Ya sudah sewajarnya, kami menjenguk dia, karena hubungan kami baik-baik saja,” tutur salah satu staf Inspektorat Kota Ma-gelang di depan ruang Kasi Pidsus Kejari Magelang.Sesaat sebelum masuk ke mo-bil tahanan, Ardi diminta mengenakan rompi berwarna oranye. Ia menyempatkan untuk berjabat tangan dengan sejum-lah rekannya.Sang istri enggan memberikan informasi lebih, ketika awak media menanyakan ihwal kasus yang menjerat suaminya itu. “Saya serahkan sepenuhnya (kasus ini) kepada yang berwajib saja,” katanya. (dem/hes/ong)