WAHYU METASARI/RADAR JOGJA
JOGJA GUMREGAH: Panitia launching logo baru Jogja Istimewa saat jumpa pers kemarin (5/3).
JOGJA- Setelah hampir tiga bulan berjibaku dalam pembuatan logo Jogja yang baru, pemerintah daerah yang tergabung dalam Tim 11 siap merilis logo baru “Jogja Istimewa” lengkap dengan filosofinya, Sabtu (7/2) di Pagelaran Keraton Jogja pukul 14.00-18.00 WIB.Mengambil tema “Jogja Gumregah” acara launching akan diisi dengan berbagai pertunjukan budaya, se-perti kirab, lomba foto sosial media, dan sablon kaos gratis.Selain itu, acara ini juga akan di-meriahkan band-bandnan, Jogja Hip Hop Foundation, serta pem-berian penghargaan kepada para partisipan yang dengan sukarela telah menyumbangkan design logo dan tagline kepada Tim 11. Ketua Tim II Herry Zudianto (HZ) mengatakan, peristiwa Jogja Gum-regah jangan dianggap sebagai launching logo Jogja Istimewa saja, harus juga sebagai bentuk perhe-latan budaya. Sebab dalam pe-nyeleng garaannya, bertepatan dengan Pengetan Jumenengan ke-26 Sri Sultan HB X
HZ memaparkan, kata Gum-regah, merupakan representasi dari sebuah pergerakan budaya, di mana bentuk keistimewaan-nya tidak hanya terfokus pada status politiknya, juga dapat di-nikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Dalam bahasa Indonesia, Gum-regah memiliki arti semangat, gerakan perubahan, dan greget untuk membangun sesuatu yang lebih baik.”Awalnya kami menggunakan jargon Jogja Renaissance, tapi karena kata renaissance kurang banyak dipahami, sehingga kita pakai kata Gumregah. Di mana kata Gumregah ini, begitu fami-liar dengan masyarakat Jogja-karta,” jelasnya. Dari segi konsep, brand yang diangkat lebih pada citizen bran-ding. Artinya, logo yang baru ini merupakan milik seluruh ma-syarakat Jogjakarta. “Meski be-gitu, logo tersebut jangan dija-dikan brand komersil untuk kepentingan bisnis. Misalnya ditulis di kaos merek X atau ada di makanan bu A,” tuturnya.
Mengambil tagline Jogja Isti-mewa, HZ berharap, dengan penambahan kata Istimewa, diharapkan dapat menjadi cer-min dari Jogjakarta yang lebih progresif, berintegritas, dan me-miliki deferensiasi yang kuat, dibanding dengan daerah lain. “Selain itu juga dapat menjadi pusaka bagi masyarakat Jogja-karta saat menjawab tantangan masa depan,” katanya.
Sementara itu, dua hari jelang launching logo dan tagline baru Jogja Istimewa, mulai muncul gambar-gambar lucu di media sosial. Bahkan, gambar yang diistilahkan meme tersebut juga berisi beberapa fakta me-narik.Meme tersebut berisikan sin-diran bagi pengambil kebijakan. Salah satunya meme tentang undangan umum bagi masyara-kat untuk menghadiri launching. Di undangan asli, di sisi bawah bergambarkan beberapa hal khas Jogja. Seperti lampu jalan, becak, gapura Pagelaran Keraton, yang terkesan harmoni.
Tapi, di media sosial, hal ter-sebut berubah. Gambar Tugu yang menjadi ciri khas Jogja, bersanding dengan gambar hotel dan bangunan-bangunan tinggi lain. Hal tersebut, se-perti menjadi sindiran bagi pengambil kebijakan yang su-dah tak menghargai Tugu. Sehingga, tata ruang pun tak istimewa, karena tingginya sudah jauh menjulang dari-pada Tugu.Adanya meme sindiran ini, HZ mengajak, semua pihak untuk kembali peduli dengan Jogja. Termasuk mengenai tata ruang yang sudah menunjukkan Jogja kota modern, bukan kota isti-mewa. “Istimewa harus menjadi stan-dar bagi semua hal,” kata man-tan Wali Kota Jogja ini, usai memberi penjelasan ke awak media mengenai rencana launching tersebut.Ia menuturkan, seharusnya, launching Jogja Istimewa, tak sekadar seremonial. Tapi, menjadi momentum untuk mem bangun Jogja Istimewa. “Contohnya bus, dengan Bandung bagaimana? Kalau sama saja, berarti tidak isti-mewa,” pesannya.
Sekretaris Provinsi (Sekprov) Ichsanuri yang menjadi ketua umum panitia launching mene-gaskan, ke depan akan diterbit-kan peraturan gubernur (pergub). Aturan itu secara khusus untuk menempatkan logo tersebut. Juga, pengaturan penggunaan logo itu.”Hanya soal etika peng-gunaan saja. Tidak mengikat soal sanksi,” katanya.Selain itu, pergub ini juga se-bagai instruksi untuk memasya-rakatkan logo dan tagline terse-but. Sehingga, sosialisasi bisa dengan mudah dipahami ma-syarakat. “Semua mengenai penggunaan logo akan diatur di pergub,” lanjutnya.
Sedangkan untuk mewujudkan keistimewaan tata ruang, guber-nur sudah berulang kali me-merintahkan kabupaten dan kota melakukan moratorium. “Sudah berulang kali, gubernur mengingatkan wali kota dan bupati,” ungkapnya.Hanya saja, hal tersebut kem-bali terserah kepada kabupaten dan kota. Sebab, kewenangan soal pembangunan, menjadi wewenang kabupaten dan kota. “Kami hanya mengevaluasi. Ti-dak bisa memberikan sanksi,” tuturnya.Ke depan, menurut Ichsan, itu bisa diatur dengan peraturan daerah istimewa (perdais) tata ruang. Salah satu pilar dari ke-istimewaan DIJ seperti yang tercantum di UUK. Hanya saja, sampai sekarang, pembahasan tata ruang ini belum juga masuk meja dewan untuk dibahas. “Per-dais ini, bisa mengatur banyak hal soal tata ruang DIJ,” imbuh-nya. (cr/eri/jko/ong)