DWI AGUS/RADAR JOGJA
JAWA: Saidja saat dipentaskan di IFI Jogjakarta Februari lalu.
JOGJA – Papermoon Puppet Theatre menggelar pementasan di Belanda. Kali ini Papermoon bersama para seniman teater Het Volksoperahuis dari Belanda mengangkat lakon Saidja. Saidja merupakan lakon yang ditulis Jef Hofmeister. Unjuk karya ini diga-rap di Belanda dari pertengahan Maret hingga April mendatang.Sebelumnya, cerita ini pernah digarap di IFI Jogjakarta akhir Februari lalu. Cerita ini berlatar belakang masa transisi kemer-dekaan Indonesia pada akhir 1946, di mana mengangkat be-berapa kisah masa lalu yang kelam dalam masa perjuangan kemerdekaan Indonesia
“Untuk lakon ini dibalut dalam musik tradisional Jawa. Dipadukan dengan nyanyian tembang-tembang modern mem-buat nuansa yang berbeda. Juga mengusung perpaduan tarian, adegan wayang, dan tea-ter tentunya,” kata Jef beberapa waktu lalu.Saidja dihadirkan dalam tiga bahasa, Indonesia, Inggris, dan Belanda. Ini karena latar bela-kang yang diangkat erat dengan tokoh Indonesia dan juga Be-landa. Saidja sendiri merupakan seorang lelaki tua yang men-ghabiskan masa senja bersama dua cucunya, Dewi dan Sunan, di Kampung Tebu.Kampung ini terletak di kaki Gunung Merapi Di kampung ini terdapat sebuah puing pabrik gula yang sempat dimiliki kelu-arga Belanda sejak 1900-an. Hingga akhirnya sekelompok pemuda Indonesia membakar pabrik gula tersebut.”Saidja termasuk dalam pe-muda yang membakar pabrik itu. Alasannya, karena pada waktu itu sedang terjadi pepe-rangan. Sehingga segala aset milik Belanda dibakar dan di-musnahkan,” kata sang penulis naskah.
Waktu berlalu hingga akhirnya lelaki Belanda bernama Eric Coen mendatangi Saidja. Keda-tangan pria ini ternyata mem-buka luka lama Saidja. Ini ka-rena dirinya merupakan ketu-runan dari pemilik pabrik gula di Kampung Tebu.Dalam proses pencarian ini ia membawa foto seorang gadis bernama Oddah. Sosok gadis ini adalah kekasih Saidja yang mer-upakan keturunan campuran tidak resmi dari keluarga Coen. Adegan ini juga mengangkat so-sok Wally Coen, putra pemilik pabrik gula lalu Jan Princen yang membawa Oddah pergi. “Ini adalah kisah cinta di tengah masa revolusi yang bergejolak. Terinspirasi dari kisah nyata masa lalu. Mengapa cerita ini diangkat, karena saya orang campuran juga. Yang tidak hanya mengingatkan Belanda, tapi juga semuanya,” ujar Jef.
Peneliti sejarah Abdul Wahid menilai kisah tokoh fiksi Saidja diilhami kisah nyata sejarah masa lalu. Saat itu kerap terjadi pergejolakan tidak hanya antar individu, namun juga dalam diri sendiri. Kisah ini lanjutnya juga penting untuk memandang sejarah masa lalu.Menurutnya masa lalu Indo-nesia dan Belanda memanglah kelam. Namun seiring waktu sisi kelam ini harus dihapus. Tapi juga tidak langsung melu-pakan karena memiliki nilai pembelajaran dan sejarah. Teru-tama dalam terbentuknya Indo-nesia hingga saat ini.”Dalam memori seperti itu kerap hanya kisah nasionalisme dan manusiawi. Cerita penting yang tidak relevan dengan na-sionalisme, tidak dianggap penting. Seperti sisi kekerasan massa, pembunuhan, dan per-kosaan. Padahal tidak sedikit warga asing sipil dari Indonesia, Tionghoa bahkan Belanda di-anggap kaki tangan dan diper-lakukan semena-mena,” kata Wahid.
Di sisi lain, persoalan ini tidak banyak ditemui dalam buku sejarah Indonesia. Karena diang-gap tidak relevan dan bisa men-gotori kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, kisah sejarah ini tidak sehat karena dapat men-cederai makna perjuangan se-lama ini.Cerita Saidja, menurutnya, penting disaksikan oleh masya-rakat Indonesia. Ini karena per-spektif dihadirkan oleh seniman dua bangsa, yang merupakan subjek konflik pada masa lalu dan dalam lakon Saidja. “Inilah mengapa Saidja dip-entaskan tidak hanya di Indo-nesia, tapi juga di Belanda. Du-duk bersama dan membuka diri untuk instrospeksi diri. Is-tilahnya berdamai dengan ma-sa lalu, dan membuka diri untuk saling memaafkan maupun di-maafkan,” kata Jef. (dwi/laz/ong)