BAHANA/RADAR JOGJA
SUKARELAWAN: Arief Budiman. Kanan (dari atas ke bawah) logo dan tagline lama Jogja Never En ding Asia, kemudian logo yang memicu kon troversi karena terbaca togua, dan logo baru Jogja Istimewa.

Tak Dibayar, Bekerja untuk Mewadahi Aspirasi Masyarakat

Logo dan tagline baru Jogjakarta kemarin (7/3) diluncurkan bersamaan Pisowanan Agung. Dengan mengusung Jogja Gumregah, diharapkan masyarakat dapat memaknai kehadiran makna dari brand baru Jogja tersebut. Nah, bagaimana pandangan Arief Budiman selaku anggota Tim 11 terhadap logo ini.
BAHANA, Jogja
ARIEF Budiman tampak tergesa saat ditemui Radar Jogja di sela acara Pisowanan Agung sekaligus peluncuran logo dan tagline anyar Jogja Istimewa. Maklum, saat itu ia bersama anggota Tim 11 lainnya harus naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan dari Gubernur DIJ Hamengku Buwono X.Mengenakan pakaian peranakan warna biru, celana jeans dan blangkon, Arief ber-sama Tim 11 menerima penghargaan langs-ung dari Hamengku Buwono X. Peluncuran logo dan tagline baru bertepatan pengetan jumenengan Sri Sultan HB X ke-26 juga menandakan mulai digunakannya logo yang memiliki filosofi egaliter dan kebera-nian itu.Harus diakui, kehadiran logo dan tagline baru pengganti Jogja Never Ending Asia memiliki kisah tersendiri.
Berawal dari se-buah gerakan yang terbangun di media sosial terhadap logo dan tagline yang dita-warkan pakar marketing Hermawan Kerta-jaya. Ketika itu, logo yang ditawarkan Her-mawan banyak dikritik karena bentuk tuli-san lebih tepat dibaca togua ketimbang Jogja. Tak heran saat itu juga heboh tagar #Togua di sosial media.Arief menyebut liarnya kritikan terhadap konsep logo yang ditawarkan sebelumnya karena masyarakat tidak memiliki wadah untuk menyampaikan gagasan dan ide
Protes pun mereka lakukan melalui media sosial.Maka dari itu, pendiri Peta-kumpet ini menilai kehadiran Tim 11 sangat tepat sebagai wa-dah aspirasi, ide serta gagasan dari masyarakat Jogjakarta. “Maka lahirlah Urun Rembug Jogja yang diwadahi oleh Tim 11 untuk menampung aspirasi,” terang Arief.Dia menyebut, orang-orang yang ada di tim tersebut bukan orang yang ekslusif. Mereka adalah sukarelawan yang me-wadahi aspirasi masyarakat. Saat Tim 11 terbentuk pun, Arief mengatakan, tim tidak diberi apa-apa, apalagi meminta honor harian. “Tujuanya supaya kami bekerja benar-benar untuk Jog-jakarta dan tidak memiliki ke-pentingan,” terangnya. Saat diumumkan bahwa re-branding Jogja melibatkan publik, ia menyambut positif. Dia menga-kui bahwa di Jogjakarta banyak orang yang pintar mendesain, bahkan memiliki pemikiran yang kuat dalam membuat tagline. “Inilah kenapa pentingnya wa-dah,” jelasnya.
Dari hasil urun rembug Jogja sendiri berhasil menjaring 2.166 logo dan tagline yang dikirim oleh 1.191 orang. Selama ham-pir satu bulan, ribuan sumbangan ide tersebut dikumpulkan dan kemudian dipadukan dengan logo-logo yang terbaik.Hasilnya, tujuh logo terbaik berhasil dipadukan. Proses me-madukan tersebut akhirnya menghasilkan tiga logo yang dipresentasikan ke HB X untuk kemudian dipilih satu yang ter-baik. “Proses presentasi hanya satu kali. Begitu kami menghadap Sultan, beliau setuju dan memi-lih yang saat ini menjadi logo dan tagline,” katanya.
Selama proses penyeleksian dan penggabungan, diungkap-kan Arief, banyak terjadi silang pendapat di antara anggota tim. Maka tak heran selama pe nye-leksian tersebut tim bekali-kali menggelar diskusi. Menurut Arief, untuk bisa dite-rima masyarakat butuh waktu minimal enam bulan. Sebab, proses menyesuaikan branding baru bagi masyarakat memer-lukan waktu. “Nanti bila brand ini sudah banyak beredar di kaos-kaos atau media online, masyarakat akan terbiasa,” te-rangnya
.Dia pun mengakui dalam ma-sa-masa seperti sekarang ini masih ada komentar-komentar negarif terhadap branding baru tersebut. Bukan rahasia lagi me-mang, ketika logo diperkenalkan banyak juga cibiran datang dari masyarakat.”Kritikan maupun nyinyiran dari masyarakat terhadap logo kami anggap sebagai kontrol,” terang pria asal Rembang ini. Hanya saja, yang terpenting bu-kan kehadiran logo. Sebab yang utama bagaimana mentransfor-masikan makna logo itu dalam status sosial.”Harapan paling besar, keisti-mewaannya bisa dirasakan. Logo ini hanya menyumbang satu persen saja. Setelah adanya logo ini, apa yang akan diton-jolkan dari Jogjakarta,” tandasnya. (*/laz/ong)