GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
LOGO BARU: Gubernur DIJ Hamengku Buwono X menerima logo Jogja Istimewa dari Tim 11 dalam peluncuran yang dikemas dengan tema Jogja Gumregah di Pagelaran, Keraton Jogja, kemarin (7/3).
Hujan deras mengguyur begitu sebagian dari 66 rombongan karnaval budaya mulai memasuki seputar Alun-Alun Utara, Keraton Jogja. Masyarakat pun mulai berhamburan masuk ke area Pagelaran Keraton. Tepat pukul 16.00, Gubernur DIJ HB X didampingi putri serta para kepala daerah mulai masuk ke Pagelaran.
PERINGATAN Jumenengan 26 tahun bertakhta-nya Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai raja Keraton Jogja serta peluncuran logo Jogja Isti-mewa, yang dikemas dengan tema Jogja Gumregah pun dimulai
Diawali penyerahan logo Jog-ja Istimewa oleh Tim 11 kepada Sultan HB X, serta penyerahan buku untuk setiap kepala daerah. Menurut Sultan HB X, setelah 26 tahun sejak jumenengan 1989 silam, misinya tetap sama, yaitu Hamangku, Hamengku, Hameng-koni bagi rakyat Jogja. Diakui, meski iklim sosial politik sudah berbeda, roh keistimewaanya tetap sama. “Saya tetap konsis-ten ora mingkuh, untuk mewu-judkan ikrar takhta dan men-jadi Sultan hanya untuk kese-jahteraan rakyat,” tegasnya.Selain itu dalam sambutannya Sultan mengatakan, setelah keluarnya UU No 13/2012 tentang Keistimewaan DIJ, selama tiga tahun perjuangan dianggap su-dah selesai. Masyarakat DIJ di-buai dalam masa tenang. U
ntuk itu, Jogja Gumregah kali ini se-mangatnya sama dengan Jogja Bangkit, pasca gempa 2006. “Jogja Gumregah bukan hanya kata benda dan wacana, tapi menjadi kata kerja yang diikuti aksi massa untuk mewujudkan-nya,” terang Sultan.Dikatakan, untuk mewujudkan perlu dukungan semua kalangan masyarakat, baik Keraton sen-diri, birokrasi, rohaniawan, aka-demisi dan masyarakat luas. Model sinergi antara Keraton, penyelenggara pemerintahan, kampus serta kampong, ini yang akan dikembangkan. Keraton, lanjut dia, harus bisa mengubah cara berpikir dan kerja menjadi masyarakat yang terbiasa berpikir, inisiatif serta bergerak maju. “Di tangan en-titas tersebut standar hidup Jogja Istimewa dipertaruhkan,” jelasnya.
Sultan menjelaskan logo Jogja Istimewa yang menggunakan huruf kecil menunjukkan seman-gat egaliter, kesederajatan, per-saudaraan dan kesetiakawanan sosial antara Keraton dengan seluruh rakyat Jogja. Sedangkan warna merah raja menunjukkan semangat keberanian, seperti dulu yang pernah ditunjukkan saat mempertahankan kemer-dekaan.Logo Jogja Istimewa, jelas Sul-tan, merupakan kebangkitan zaman baru, renaisance Jogja. Membangkitkan kembali seman-gat Jogja, dalam rangka mewu-judkan Jogja istimewa. Dalam renaisance Jogja ini digagas dengan harmoni masa lalu, masa kini dan masa depan. “Hal itu supaya titik singgung warisan masa lalu, kegelisahan masa kini dan harapan masa depan tidak saling meniadakan,” ung-kapnya.
Sultan mencontohkan peru-bahan menuju Jogja Istimewa, misal dalam penertiban lalu lintas dan periklanan di ruang publik. Menurutnya, dua hal itu merupakan visualisasi yang ter-tangkap indera saat berkunjung ke Jogja. Sultan meminta permasala-han lalu lintas dan iklan bisa ditertibkan, sehingga mem-bedakan dan menjadi isti-mewa dibanding kota lain. “Saya minta Pemkot Jogja dan Pemkab Sleman segera men-gaturnya, agar tidak semakin semrawut,” pintanya.
Sultan yang juga Gubernur DIJ juga meminta supaya bisa mengangkat pamong budaya di tiap kecamatan, yang nantinya diperbantukan ke Satuan Polisi Pamong Praja di tingkat keca-matan. “Setelah diberi pelatihan, pamong budaya ini juga bisa melakukan penertiban Perda,” lanjutnya.Perda yang mengatur tentang iklan diminta lebih ketat dalam pemberian izin. “Kalau langkah kecil seperti ini tidak dapat dila-kukan, bagaimana bisa melaku-kan hal besar,” katanya.
Sementara itu Founder and CEO at MarkPlus Inc Hermawan Kartajaya mengatakan, kehadi-ran logo merupakan arah baru DIJ tidak berhenti dan membangun sesuatu yang baru. Hermawan yang dulu dipercaya membuat logo Jogja Never Ending Asia in, menambahkan, jiwa Jogja Renaisance sudah ada di dalam logo tersebut. “Jogja mesti tetap mempertahankan peradaban yang sakral dan tinggi, tetapi dengan menerima budaya-budaya baru. Itulah ke-istimewaan Jogja,” terangnya. (pra/fid/laz/ong)