DWI AGUS/RADAR JOGJA
DEDIKASI: Karya almarhum Hendro Suseno tetap dikenang. Karya-karyanya yang dibuat selama hidupnya tersaji dalam pameran bertajuk Soliter vs Solider hingga 14 Maret mendatang.
JOGJA – Meski telah tiada, namun karya almarhum Hendro Suseno tetap dikenang hingga saat ini. Karya-karyanya yang dibuat selama hidupnya tersaji dalam pameran bertajuk Soliter vs Solider. Puluhan karya ini tersaji di Bentara Budaya Jogja-karta hingga 14 Maret mendatang.Penulis katalog pameran Kuss Indarto menilai Hendro meru-pakan seniman dengan dedi-kasi tinggi. Dalam berkarya se-niman ini cenderung spontanitas. Karya-karya yang dihasilkan juga lebih hidup karena hadir dengan tulus tanpa tendensi.”Saya mengenang ketika ada acara Pak Kayam Pamit Pensiun di tahun 1997. Beberapa hari ber-selang dia menyodorkan panto-mimer Jemek Supardi untuk mela-kukan aksi pantomim. Judulnya Pak Jemek Pamit Pensiun semacam sindirian tersingkirnya seniman-seniman kecil,” kenangnya.
Dalam kenangan ini Kuss juga mengingat bahwa duet Hendro dan Jemek terus menguat. Ter-masuk dalam aksi pantomim di pemakaman umum di belakang Purawisata Jogjakarta. Mereka menggagas bersama untuk ke-mudian Jemek tampil sebagai jenazah di peti mati yang siap dikuburkan. Namun dalam ber-bagai kesempatan, Hendro cen-derung bersembunyi. Kuss me-nuturkan, ini sudah menjadi ciri khas seniman ini. Meski pe-rannya besar dalam berbagai kegiatan tapi dirinya tidak silau akan cahaya panggung.”Kemampuan untuk memben-dung diri agar tidak tampil se-bagai bintang atau lakon utama pantas digarisbawahi oleh ba-nyak seniman dewasa ini. Saat ini para seniman seakan saling berebut membintangkan diri,” ungkapnya.
Rektor ISI Jogjakarta Agus Burhan menilai, Hendro sebagai seniman yang kreatif dengan tema. Tema sosial politik kerap dihadirkan dalam berbagai karyanya. Khusus-nya artikulasi kritikal terhadap situasi sosial yang menekan akibat kekuasaan negara.Tema-tema ini, lanjutnya, di-wujudkan dalam berbagai objek atau figure lukisan. Figur-figur ini terkadang tidak hadir dalam wujud realitas. Namun tersam-ar dalam wujud distorsi seusai persepsi Hendro.”Banyak dari karyanya yang benar-benar hidup dan memi-liki emosi saat kita melihatnya. Figur-figur manusia dengan wajah-tubuh terpiuh, mata me-lotot, mulut menganga menahan rasa sakit tergurat jelas. Bahkan permainan pola dan warna lukisan begitu kental dimainkan olehnya,” kata Agus. (dwi/ila/ong)