FOTO-FOTO: GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
TETAP SEMANGAT: Peserta kirab tampak antusias meski hujan lebat menguyur Kota Jogja, kemarin. Demikian juga masyarakat yang tetap berjubel di sepanjang rute kirab.
PERHELATAN Pisowanan Agung beserta peluncuran branding Jogja Istimewa tetap meriah meski Jogja kemarin sore (7/3) di-guyur hujan deras. Ini terlihat dengan rang-kaian acara yang berjalan lancar disaksikan ribuan warga yang datang memadati Page-laran Keraton Jogja
Mengusung semangat Jogja Gumregah, rangkaian acara diawali dengan pelaksanaan kirab mulai pukul 14.00. Seba-nyak 3.500 peserta kirab mulai diberangkatkan dengan melalui Jalan Malioboro hingga berakhir di titik pusat pelaksanaan acara. Sebelum kirab dilangsungkan, awan mendung menggelayut di kawasan Malioboro. Tetesan air sudah mulai turun ketika 66 kontingen kirab bergerak ke arah Alun-Alun Utara. Meski begitu, para peserta kirab tetap antu-sias berjalan di bawah gerimis. Di barisan depan, peserta kirab dari SKPD Provinsi DIJ tampak dengan baju peranakan khas Jogja.
Sekretaris Daerah Pro-vinsi Ichsanuri tampak paling depan memimpin barisan kirab. Di belakangnya tim Paskibraka DIJ dengan pakaian serba pu-tihnya ikut meramaikan kirab.Koordianator Kirab Widihasto mengatakan, kirab diikuti oleh perwakilan dari lima kabupten/kota yang ada di DIJ. Masing-masing kabupaten/kota, mengirimkan perwakilan untuk ikut serta dalam mera-maikan Pisowanan Agung.”Ini susuai semangat Gumre-gah. Setiap daerah bergerak memberikan yang terbaik,” kata Hasto di sela-sela acara kemarin. Tidak hanya kirab mengusung tema seni.
Para pedagang ang-kringan pun turut serta meme-riahkan acara itu. Sebanyak 26 pedagang angkringan mendorong gerobak menuju Alun-Alun Utara. Menu dagangan itu disa-jikan untuk para pengunjung yang hadir. Kegigihan para pe-serta kirab juga terlihat ketika hujan lebat turun. Para peserta tetap melanjutkan kirab di tengah guyuran hujan.Sementara itu budayawan Bu-tet Kertaradjasa mengatakan, kegiatan budaya inilah yang membedakan Jogja dengan kota lain di Indonesia. Menurut-nya, Jogja memiliki kekuatan kebudayaan. “Sebuah logo saja dirayakan dan diurus oleh seluruh warga kota. Ini karena akar ke-budayaan Jogja masih sangat kuat,” jelasnya.
Bahkan, kata Butet, berbeda dengan politik, di kebudayaan hal-hal seperti ini dilakukan secara sukarela alias tidak di-bayar. “Mereka ikut pawai tidak dibayar, berbeda dengan dunia politik untuk mengumpulkan orang minimal pakai nasi bung-kus,” terangnya sambil terse-nyum.Sementara itu harapan juga disampaikan oleh pelaku pari-wisata akan hadirnya logo dan branding baru. Ketua PHRI DIJ Istidjab Danunagoro berharap, kehadiran logo baru dapat men-dongrak kunjungan pariwisata di Jogjakarta, sehingga dapat mendongrak tingkat hunian hotel. “Saya harap dengan logo baru, semangat untuk memaju-kan pariwisata juga tumbuh, sehingga hotel tidak sepi,” kata Istidjab.
Sementara itu, Pentas musik keroncong dan campursari di halaman Dinas Pariwisata (Din-par) DIJ turut memeriahkan peringatan 26 tahun jumenengan atau naik takhta Sri Sultan Ha-mengku Buwono X sebagai raja Keraton Jogja, semalam. Belasan lagu keroncong dan campursa-ri mengalun merdu menghibur masyarakat yang memadati ka-wasan Malioboro usai menyak-sikan kirab budaya pisowanan agung “Jogja Gumregah” di Ke-raton Jogja.Tampil perdana grup keroncong “Mustika Nada” pimpinan AndiSuryatmanto dari Kemetiran, Jogja. Sejumlah tembang keron-cong lawas mampu mengobati kerinduan pengunjung yang didominasi kaum dewasa. “Agak sulit mencari hiburan keroncong saat ini. Bersyukur malam ini ada keroncong di sini,” ungkap Siswoyo, salah seorang peng-unjung.
Usai keroncong, pertunjukan dilanjutkan dengan penampilan grup campursari “Yoben Eling” pimpinan Yuli asal Godean, Sle-man. Sejumlah penonton turut bergoyang mengikuti alunan musik campursari yang diden-dangkan. “Ini pertunjukan spe-sial bertepatan dengan pengetan jumenengan dalem HB X dan kirab budaya,” tutur pemimpin event organizer Prakasa Enter-prise, Rahadian Gita Dharmawan.Pentas musik keroncong dan campursari semalam berlangs-ung mulai pukul 19.00 sampai 23.00 guna menghibur pengun-jung Malioboro. Khususnya pengunjung yang berada di sisi utara Malioboro atau di sekitar kantor Dinpar DIJ. “Hiburan musik Sabtu malam semacam ini sudah kita gelar secara berkala sejak tahun lalu. Kebetulan malam ini spesial memeriahkan pisowanan agung Jogja Gumregah dalam rangka peringatan Jumenengan Dalem Sultan HB X,” terang Kepala Seksi Objek dan Daya Tarik Wi-sata (Kasi ODTW) Dinas Pari-wisata DIJ Mohammad Haliem.
Musik hiburan musik di hala-man Dinpar DIJ merupakan agenda rutin untuk memberi tontotan bagi masyarakat Jog-jakarta maupun wisatawan yang sedang berada di kawasan Ma-lioboro. Sebagai pusat perbe-lanjaan, Malioboro lebih ramai dengan hiruk-pikuk khalayak yang bertransaksi jual beli. Ha-dirnya pentas seni dan hiburan pun cukup dinantikanwi sa tawan. Selain keroncong dan cam-pursari, pentunjukan rutin “Pen-tas Seni Jogja Istimewa” garapan Prakasa Enterprise di halaman Dinpar DIJ juga menampilkan sejumlah grup musik bergenre lain seperti rock, blues, pop dan banyak lagi lainnya. “Kami juga kerap menampilkan grup-grup musik remaja dan anak muda juga, karena penonton di sini juga banyak anak muda dan remajanya,” ujar Haliem. (bhn/fid/cr/amd/laz/ong)