SHIO KAMBING: Dalam penutupan PBTY turut dilelang seperangkat filateli yang telah ditanda tangani oleh HB X. Edisi perdana dengan gambar Shio Kambing ini laku dengan harga Rp101 juta.
Wayang China Jawa (Wacinwa) yang merupakan wujud akulturasi antara kebudayaan Jawa dan Tionghoa memasuki babak baru. Setelah diperkenalkan pada Oktober tahun lalu, berbagai penelitian terus dilakukan. Ba-hkan pementasannya juga mu-lai dirutinkan, seperti dalam Pekan Budaya Tionghoa Yogya-karta (PBTY) belum lama ini.Peneliti Wacinwa Hanggar Budi Prasteyo mengungkapkan jejak dan alur cerita wayang ini mulai terbaca. Berawal dari pe-nelitian yang dilakukan oleh Hanggar akhir 2014 di Museum Wayang Taiwan. Dalam peneli-tian ini, dia menemukan ragam fakta dan alur cerita.”Setelah saya ke sana yang di-dukung oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) ba-nyak fakta terungkap. Ada kesa-lahan di beberapa penamaan tokoh yang kita lakukan Oktober lalu. Mulai dari kepala dan tubuh yang tidak sinkron, hingga tokoh antagonis maupun protagonis,” ungkapnya saat ditemui di penutu-pan PBTY X belum lama ini.Hanggar mengungkapkan, penokohan ini karena tidak ada-nya patokan.
Saat pertama kali dibongkar patokan yang diguna-kan adalah komik Sudiro dan wayang Potehi. Ternyata dalam penelitian ini, Wacinwa tidak terpengaruh Potehi.Untuk saat ini nama-nama tokoh telah sepenuhnya benar. Ter utama dalam menentukan pasangan badan dan kepala tokoh wayang. Dalam penelitian ini, Hanggar menemukan berbagai ciri khas identik untuk setiap tokoh.Misalkan tokoh pria ada simbol naga di setiap jubahnya. Jika kaki naga berjumlah lima maka dipas-tikan adalah seorang raja atau tokoh penting. Lain halnya jika jumlah kaki naga ini semakin se-dikit maka jabatan semakin turun.”Kalau perempuan dilambangkan dengan burung Phoenix atau burung Hong. Lalu jika tokoh dalam go-longan Sie Jin Kui pedangnya lurus, tapi kalau musuh pedangnya me-lengkung. Dulu kita juga sempat salah ketika memasangkan kepala dan badan,” katanya.
Wacinwa memang memiliki ciri khas kepala dan badan yang bisa dipisah. Ini karena pencip-tanya Gan Thwan Sing ingin agar wayang ciptaannya memiliki emosi wajah. Sehingga untuk satu wayang bisa memiliki ba-nyak kepala.Lalu untuk epos cerita, tokoh Sie Jin Kui berkiblat pada wayang Tiongkok. Namun mengalami penyesuaian terutama dalam hal gending pengiring. Gan Thwan Sing mengusung gamelan Jawa sebagai gending pengiring.”Kalau pola dan alur hampir sama dengan yang ada di Jawa. Misalkan Sie Jin Kui bisa malih (berubah) jadi macan putih da-lam wayang Jawa juga dikenal teknik malih ini. Pengetahuan ini akan kita godog bersama tim dari Museum Sonobudoyo se-bagai penyimpan wayang ini,” kata Hanggar. (dwi/ila/ong)