DWI AGUS/RADAR JOGJA
PAGELARAN: Wacinwa diciptakan di tahun 1925 dengan pengantar bahasa Jawa namun mengangkat kisah dari mitos Tionghoa. Wacinwa saat dipentaskan di PBTY beberapa waktu lalu.
JOGJA – Pekan Budaya Tiong-hoa Yogyakarta (PBTY) yang berlangsung sejak 1 Maret lalu resmi ditutup, Kamis malam (5/3) lalu. Gubernur DIJ Ha-mengku Buwono (HB) X menilai PBTY merupakan akar persa-tuan, di mana wujud akulturasi budaya antara Tionghoa dan Jawa terukir kuat.HB X berharap, PBTY dapat terus terlaksana ke depannya. Terlebih pekan budaya ini tidak hanya sebuah acara seremonial semata. Namun dapat mengha-dirkan keindahan kebudayaan khususnya, budaya Tionghoa.”Tahun ini memiliki nilai lebih dengan adanya penampilan budaya Tionghoa, akulturasi hingga nusantara. Juga menguat-kan 13 paguyuban Tionghoa yang ada di Jogjakarta.
Sinergi ini mampu menghasilkan ke-kuatan multikultural yang lebih baik,” katanya saat penutupan di Panggung Utama Kampung Ketandan.Secara khusus HB X juga mem-beri atensi dengan diangkatnya Wayang China Jawa (Wacinwa). Menurutnya, akulturasi dua ke-budayaan sangat terasa kuat dalam kesenian ini. Wayang yang dihadirkan terinspirasi dari ce-rita di Tiongkok namun berko-laborasi dengan kebudayaan Jawa. Menurut HB X, melalui kesenian ini, generasi sekarang dapat berkaca. Bagaimana dua kebudayaan dapat bersatu bukan berseteru. Bersatunya kebu-dayaan ini, lanjutnya, turut memperkuat kekayaan Jogja-karta dan Indonesia.”Melihat sejarahnya diciptakan di tahun 1925 dengan pengantar bahasa Jawa dan gamelan. Mengangkat kisah dari mitos Tionghoa tapi nuansa Jawa-nya juga kental. Sayangnya, beber-apa arsip turut dibakar saat penciptanya Gan Thwan Sing meninggal, sesuai tradisi Tiong-hoa,” katanya.
Beberapa arsip yang sempat diselamatkan pun tersimpan apik di Museum Sonobudoyo. Selain itu, beberapa wayang juga ada yang tersebar hingga ke Jerman. Dalam kesempatan ini, HB X juga membuka kesem-patan bagi masyarakat yang ingin memboyongnya kembali ke Jogjakarta.”Agar warisan budaya ini bisa kembali ke tanah kelahirannya di Jogjakarta. Tapi saya sangat mengapresiasi dengan dipen-taskannya Wacinwa. Menghidup-kan kesenian yang sudah lama tertidur,” katanya.Ketua Umum PBTY Tri Kirana Muslidatun mengungkapkan PBTY dari tahun ke tahun se-makin kokoh. Tema tahun ini Merajut Budaya Merenda Ke-bersamaan mampu merangkul semua kalangan. Tidak hanya warga Tionghoa namun warga Jogjakarta secara umum.Perayaan ini, lanjutnya, mam-pu melestarikan dan menge-nalkan budaya Tionghoa seba-gai aset bangsa. Terutama wu-jud persatuan dalam akultura-si kebudayaan Tionghoa dan Jawa. Selain itu juga mendukung sektor ekonomi dan wisata di Jogjakarta.
PBTY X, menurut penuturan istri Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti ini, mampu meraup nilai ekonomi yang tinggi. Selama lima hari penyelenggaran telah terjadi transaksi dengan omzet pemasukan hingga Rp 2 miliar. Pemasukan ini berasal dari pro-ses transaksi stan yang berdiri di sepanjang jalan Ketandan.Dalam kesempatan ini turut dilelang seperangkat filateli yang telah ditanda tangani HB X. Edisi perdana dengan gam-bar Shio Kambing ini laku dengan harga Rp101 juta. Pem-belinya adalahh owner toko Progo Djawadi. Selain itu juga menampilkan Bedaya klasik Rengganis Widaninggar yang merupakan akulturasi Jawa dan Tiongkok. (dwi/ila/ong)