DWI AGUS/RADAR JOGJA
UNIK: Karya perupa Hendrik yang menggunakan kemeja sebagai media lukis dipamerkan di Tembi Rumah Budaya, Bantul, kemarin (8/3).
Perupa dari Surabaya Hendrik memamerkan karyanya di Tembi Rumah Budaya hingga 14 Maret mendatang. Bertajuk Mikul Dhuwur Mendhem Jero, pameran ini mengangkat konsep yang unik. Seniman ini tidak menggunakan kanvas, melainkan kemeja sebagai media berkaryanya.
DWI AGUS, Bantul
KESAN unik tersirat di Ruang Galeri Tem-bi Rumah Budaya. Karya-karya pria kelahi-ran Pasuruan 4 September 1963 ini hadir dengan nuansa yang berbeda. Menurut Hendrik, dalam pameran ini ia sengaja men-ghadirkan kemeja sebagai media lukis.”Saya mencoba mencari media lain yang jarang digunakan, meski yang saya lakukan bukan sesuatu yang baru. Tapi melalui me-dia ini saya menemukan bentuk seni yang berbeda,” ujar Hendrik.Baginya melukis menggunakan media ke-meja gampang-gampang susah. Ini karena Hendrik terbiasa melukis menggunakan media ini. Apalagi kesehariannya kerap menorehkan cat dalam media kaos ataupun kemeja.
Namun media kaos dan kemeja berbeda dengan kanvas. Selain perbedaan serat, kaos dan kemeja tidak sekaku kanvas. Me-dia ini merupakan kain yang lemas, se-hingga perlu usaha lebih untuk bisa melu-kis di atas kemeja dan kaos.”Beda sama kanvas meski sama-sama dari kain. Tapi tantangan ini justru men-ghadirkan sensasi tersendiri. Ada rasa puas ketika sebuah karya sudah jadi,” kesannya.Kurator pameran Mikke Susanto menilai karya Hendrik adalah khasanah seni yang menarik. Menggunakan kemeja dan kaos sebagai media cat memang bukan suatu hal baru
Namun memandang ini seba-gai karya seni bukan industri itu yang unik.Hendrik, menurut Mikke, mampu memandang ini sebagai wujud karya seni. Menurutnya, banyak perupa yang telah meng-gunakan kemeja untuk dilukis. Terutama lukisannya sebagai hiasan dalam industri sandang maupun keperluan personal, terutama anak-anak muda.”Bedanya, Hendrik justru yang nekat mengangkat lukisan ke-meja dan kaos sebagai karya seni, tidak sekadar sebagai se-buah indistri,” kata Mikke.
Pada karya-karya Hendrik yang dipamerkan ini, Hendrik tak hanya menghadirkan tema-tema yang bersifat personal, namun juga mengangkat kritik sosial. Tema-tema yang menyajikan kritik sosial, misalnya menyaji-kan karya berjudul Hutanku Keputihan, Sketsa 8 Nelayan, Pesakitan, Orang-Orang dan beberapa karya lainnya.Seniman Ons Untoro dari Tembi Rumah Budaya menilai karya Hendrik mengandung makna kegelisahan. Di mana sebagai perupa, mencoba men-cari sesuatu yang lain dari ke-cenderungan yang selama ini sudah dikenali. Ini pun diwu-judkan dalam memilih media lukis yang berbeda dari keba-nyakan seniman.”Meski pilihannya bukan se-suatu yang baru, kini media yang digunakan Hendrik jarang di-pakai oleh perupa untuk sebuah karya seni. Melalui karyanya ini pula ia seperti mengingatkan kepada publik bahwa seni rupa terbuka terhadap berbagai ma-cam media, ” ujar Ons Untoro. (*/laz/ong)