JOGJA – Sultan Hamengku Bu-wono X baru saja mengeluarkan sabdotomo. Perintah raja terse-but berisi delapan poin Satu di antaranya menyangkut seruan agar siapa pun kerabat atau orang yang telah diberikan kedudukan oleh Sultan tidak sekali-kali berbicara terkait suksesi. HB X juga telah mengakui sab-dotomo itu ditujukan kepada adik-adiknya agar tidak asal bi-cara. “Kami menghormati sabdo-tomo yang telah disampaikan Ngarso Dalem. Namun kami juga punya pandangan soal me-nyangkut suksesi,” ungkap Gus-ti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Hadisuryo kemarin (8/3).
Hadisuryo merupakan salah satu adik HB X. Di lingkungan keraton, putra HB IX yang lahir dari garwa dalem Kanjeng Raden Ayu (KRAy) Pintoko Purnomo ini merupakan pangeran senior kedua setelah KGPH Hadiwi-noto. Dari sisi urutan keturunan HB IX, Hadisuryo persis berada di tengah antara KGPH Hadiwi-noto dan GBPH Prabukusumo. “Saya ini kakaknya Mas Prabu, dan adik HB X setelah Kangmas Hadiwinoto,” ujar pangeran yang di masa muda bernama Bendo-ro Raden Mas (BRM) Kasworo ini.Menurut Hadisuryo, memba-has suksesi tidak bisa hanya diputuskan oleh HB X saja. Namun keputusan berada di tangan Dewan Saudara atau musyawarah seluruh putra-putra HB IX. Keturunan HB IX seluruh-nya ada 22 orang. Terdiri 15 orang laki-laki dan tujuh perempuan. Mereka lahir dari empat istri HB IX. Semasa hidup HB IX me-miliki lima istri. Satu orang ya-kni istri nomor lima KRAy Nor-ma Nindyo Kirono tidak dikaru-niai anak. Dari 15 orang putra laki-laki HB IX itu masih ada 12 orang. Sebelas orang berstatus pangeran dan satu orang naik takhta sebagai raja. Tiga orang lainnya telah meninggal dunia.”Saya lahir dari istri tertua. HB X dan Kangmas Hadiwinoto dari istri kedua, Mas Prabu dan Mas Yudhaningrat dari istri ke-tiga, dan Mas Pakuningrat putra tertua dari istri keempat,” te-rangnya.
Menurut Hadisuryo, Dewan Saudara inilah yang memiliki hak membahas soal suksesi. Sebab, Dewan Saudara sepakat menunjuk KGPH Mangkubumi menjadi HB X menggantikan HB IX yang wafat pada 3 Oktober 1988 di Amerika Serikat. Perte-muan Dewan Saudara itu dige-lar pada akhir 1988 hingga awal 1989 silam. “Kami mufakat memilih Kang-mas Mangkubumi untuk men-jadi HB X. Beliau naik takhta karena mendapatkan mandat dari keluarga, khususnya dari kami putra-putra HB IX. Jadi kalau mau bahas suksesi harus kembali ke Dewan Saudara,” paparnya. Prosesi itulah yang membeda-kan dengan sultan-sultan sebe-lumnya. Alasannya, hingga wa-fat, HB IX tidak pernah menunjuk putra mahkota. Ini berbeda dengan HB IX yang mendapat-kan sinyal sebagai pengganti HB VIII setelah menerima keris Kyai Joko Piturun dari ayahnya. Sedangkan HB VIII dan HB VII sebelum menjadi sultan lebih dulu ditetapkan sebagai adipa-ti anom alias putra mahkota.
Terkait soal suksesi, Hadisuryo mengatakan seluruh adik-adik HB X yang lahir dari empat istri HB IX punya pandangan sama. Mereka sepakat mempertahan-kan paugeran (aturan baku) syarat menjadi seorang raja. Di antaranya, calon raja harus laki-laki, dan keturunan raja yang pernah bertakhta. “Kalau bukan keturunan raja jelas tidak bisa. Selama ini dari HB I hingga HB X yang bertakhta sebagai sultan adalah laki-laki. Belum ada se-jarahnya perempuan bertakhta di Keraton Jogja,” tuturnya.Disinggung soal pembahasan Raperdais Pengisian Jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur DIJ yang menimbulkan polemik, Hadisuryo berharap DPRD DIJ bersedia mendengarkan masu-kan dari putra-putra HB IX. Ba-hkan bila perlu pansus dewan mengundang semua putra HB IX yang lahir dari empat istri guna memberikan masukan. “Dengan senang hati kami semua akan datang,” katanya.
Hadisuryo saat HB X menyam-paikan sabdotomo di Bangsal Kencana Jumat (6/3) juga tam-pak di Keraton. Awalnya dia tidak mengetahui acara yang digelar secara dadakan tersebut. Pagi itu, Hadisuryo datang ke Keraton untuk bertemu dengan KGPH Hadiwinoto. Lantaran kakaknya itu masih mengikuti pisowanan di Bangsal Kencana, ia menunggu di Bangsal Srimanganti. Usai acara, Hadiwi-noto terlihat menemui Hadisuryo. Keduanya terlihat akrab dan se-rius saat bertemu empat mata di Bangsal Srimanganti. “Kami se-pakat akan mengadakan perte-muan keluarga pada pertengahan bulan ini,” jelasnya.Tentang pertemuan keluarga yang terjadi 26 tahun silam, di-benarkan GBPH Yudhaningrat. Bahkan Gusti Yudha termasuk orang yang angkat bicara me-nyangkut penentuan putra ter-tua sebagai pengganti raja. Ia mengajukan pertanyaan kepada Kanjeng Panembahan Puroboyo, kakak HB IX yang didaulat se-bagai narasumber. “Saya mem-berikan pembanding pada masa HB VII sebelum menunjuk HB VIII,” tuturnya.
Rapat keluarga itu dipimpin KGPH Mangkubumi dan GBPH Prabukusumo sebagai notulis. Hasil keputusan menunjuk Mang-kubumi sebagai HB X kemudian diumumkan Penghageng Kawe-danan Sri Mardowo (semacam setneg) GBPH Hadikusumo.Sementara itu Direktur Legal Center (LC) 97 Heniy Astiyanto meminta agar dewan tidak ragu-ragu melakukan voting. Menurut dia, perdebatan soal pasal 3 ayat (1) huruf m itu harus se-gera diputuskan. “Sabdotomo dari HB X itu bisa menjadi refe-rensi. Sultan telah memberika sikap, maka dewan jangan lagi bingung,” desak praktisi hukum ini. (eri/laz/ong)