GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
SERIUS: Putri pertama HB X, GKR Pembayun (kiri) berbincang dengan KRT Yudhahadiningrat sebelum Sabdotomo Sultan di Keraton Jogja (6/3).
KEMUNCULAN Sabdotomo dari Raja Keraton Jogja Sri Sultan Hamengku Buwono X bermakna luas. Tak hanya larangan untuk membicarakan suksesi, sabdo-tomo juga berisi penegasan jika HB X tak akan melanggar paugeran dan sumpah janji terhadap leluhur. “Sebenarnya secara eksplisit jelas jika Sultan HB X tak akan me ngangkat raja perempuan,” tan das Ghazali, Koordinator Ge-rakan Rakyat Jogja (GRJ) yang sejak 1998 memperjuangkan Ke istimewaan DIJ, kemarin (8/3). Ia menegaskan, di awal sabdo-tomo HB X membuka “Ingsung uga netepi pranatan, paugeran lan janjiku marang Gusti Allah, Gusti Agung kang Kuwasa Cipta uga para leluhur-leluhur kabeh”
Secara tersirat, pembukaan itu menutup kekhawatiran adanya raja perempuan di Keraton Ma-taram. “Saya tahu persis, tidak mungkin Ngarso Dalem mengubah pau-geran yang sudah terbangun ratusan tahun,” ujar Ghazali meyakinkan. Makanya sabdo-tomo tersebut juga berisi la-rangan kepada adik-adik HB X untuk membicarakan suksesi. Hal ini, lanjut dia, agar pem-bicaraan suksesi tidak melebar sampai ke mana-mana. “Beliau tidak mau menyakiti hati anak dan istrinya,” katanya. Tapi, bu-kan berarti HB X akan mengang-kat puterinya menjadi raja Ke-raton, karena tak memiliki anak laki-laki. “Itu (sabdotomo) jelas. Beliau tidak akan menghancur-kan Keraton,” imbuhnya. Mengenai adanya polemik ini, Ghazali meminta Pansus Ran-cangan Peraturan Daerah Isti-mewa (Raperdais) Pengangkatan Jabatan Gubernur dan Wagub bersikap jelas. Pansus sebaiknya tak perlu bingung dalam me-nanggapi sabdotomo itu. “Tidak usah berpura-pura ng-gak paham. Kalau orang Jogja pasti paham raja Keraton tidak pernah berbicara secara vulgar. Itu budaya,” tandasnya meng-ingatkan.
Dari sabdotomo ini, lanjut Gha-zali, sangat jelas Raperdais tak akan mengubah paugeran Ke-raton. Meski dalam Pasal 3 ayat 1 huruf M, membuka peluang kaum perempuan menjabat gu-bernur. “Tapi, Ngarso Dalem tetap sesuai paugeran,” tuturnya. Menanggapi sabdotomo ini, Wakil Ketua II DPRD DIJ Rany Widayati mengungkapkan, itu merupakan hak prerogatif raja yang bertakhta. “Itu ditujukan untuk internal Keraton. Dan kami di dewan memang tidak men-campuri internal Keraton,” katanya.Rany berharap dengan sabdo-tomo tersebut di internal Keraton kembali kondusif. Selain itu pansus Raperdais ‘Suksesi’ tetap bekerja dan berpikir jernih. “Yang penting jangan terlalu mema-suki ranah Keraton,” pesannya.Disinggung apakah sabdotomo berpengaruh terhadap sikap masing-masing fraksi, Rany eng-gan berkomentar. Sebelumnya, masing-masing fraksi memang ada opsi seputar pasal raperdais yang krusial itu. “Kan (sabdo-tomo) baru kemarin, kita belum tahu sikap fraksi masing-masing,” ujarnya.
Politikus Partai Golkar ini ber-harap, dalam waktu yang tersisa bisa membangun komunikasi politik yang positif, baik antar-fraksi maupun dengan Keraton. “Kalau komitmennya permufa-katan, maka komunikasi politik harus dibangun sebaik mungkin. Masih ada waktu untuk mela-kukan itu,” kata Rany.Ketua Pansus Raperdais Sukse-si DPRD DIJ Slamet menamba-hkan, usai HB X mengeluarkan sabdotomo, secara kelembang-gaan di legislatif proses pemba-hasan di pansus tetap berjalan normal. “Saya kira teman-teman Pansus masih fokus,” kata dia.Menurut dia, dalam masa per-panjangan pembahasan ini, Pansus memilih konsentrasi mendalami paparan para pakar serta masukan dalam publik jejaring. “Pansus tidak ada ren-cana mengundang pakar atau menggelar public hearing lagi. Pansus akan mendalami apa yang sudah dipaparkan pakar dan masukan saat public hearing,” jelas Slamet.Di sisi lain, politikus dari Dapil Gunungkidul ini mengapresia-si sabdotomo Sultan HB X. Itu menjadi peredam atas kondisi maupun polemik yang sedang terjadi. “Semoga sabdotomo ini membuat polemik yang muncul menjadi redup,” harap Slamet. (eri/laz/ong)