GUNAWAN/RADAR JOGJA
DEMAM AKIK: Bupati Gunungkidul Badingah mengamati kerajinan batu akik karya warga Sendang 2, Sawahan, Ponjong, kemarin (9/3).
GUNUNGKIDUL – Demam batu mulia terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Gunungkidul. Baik usaha perorangan maupun kelompok ramai-ramai men-dulang rupiah dari bebatuan yang diasah menjadi akik. Namun belakangan ini, perajin batu akik resah karena beredar kabar mengenai fatwa haram Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait benda tersebut.Hal tersebut diungkapkan salah seorang perajin batu akik asal Padukuhan Sendang 2, Sawahan, Ponjong, Khomari. Pada saat dikunjungi Bupati Gunungkidul Badingah, dia membeberkan adanya isu fatwa haram MUI tentang batu akik.
Dia menjelaskan, isu tersebut kurang lebih isinya menyatakan bahwa MUI tidak setuju adanya perajin batu mulia. Dengan alasan merusak keyakinan. Masih menurut isu, MUI melarang lantaranbatu akik dianggap mempunyai magis. “Apa benar seperti itu bu? MUI mau ke sini,” tanya Khomari kepada Bupati Badingah.Jika benar, kabar ini membuat resah para perajin. Khomari mengatakan, informasi fatwa MUI beredar sejak sebulan terakhir dari mulut ke mulut. Padahal, lanjut Khomari, batu akik yang dia buat hanya untuk aksesori dan me-ningkatkan perekonomiannya. “Terus terang isu ini membuat kami tidak nyaman,” ujarnya.
Menanggapi curhat perajin, Bupati Badingah menegaskan bahwa isu itu tidak benar. Hanya sengaja disebar oleh orang tak bertanggung jawab untuk memunculkan keresahan. Menurut Badingah, batu akik hanya sekadar aksesori, tidak lebih. “Hingga saat ini kami belum mendengar fatwa MUI yang mengharamkan batu akik. Percayalah ini hanya isu, tidak benar,” tegasnya. Mendengar penjelasan bupati, para perajin terlihat lega. Melalui Radar Jogja, Khomari memastikan bahwa batu akik yang dijual tidak mengandung nilai magis.
Menurutnya, kalaupun ada batu akik dibanderol dengan harga mahal bukan karena memiliki “keampuh-an” namun lebih kepada keindahan bentuk dan warna saja.Lelaki yang sudah menekuni usaha batu akik sejak tahun 1980-an ini memastikan, baik buruk batu akik tergantung pemakai. “Kalau ada yang menawar kita beri. Toh, misalkan nanti dijual lagi dan harganya jauh lebih mahal itu rezeki dia,” ucapnya.
Khomari menjelaskan, batu akik paling mahal miliknya dibanderol Rp 600 ribu, itu karena dari jenis kristal. Sementara ada lain lagi dibanderol Rp 300 ribu karena dalam batu ada gambar. Tapi ada juga pembeli menawar bongkahan batu dengan harga Rp 8 juta. “Jadi, baik buruk bentuk batu akik pada prinsipnya bersifat relatif. Kalau ada yang suka pasti dibeli dengan tawaran tinggi,” ujarnya.
Di bagian lain terkait isu fatwa haram MUI mengenai batu akik, Ketua MUI Gunungkidul Sukamto mengatakan, pada dasarnya kekuatan magis dalam batu akik tidak tampak. Fenomena demikian sebenarnya sudah terjadi sejak zaman dahulu kala. “Tapi di sini kami ingin mengatakan bahwa MUI tidak pernah mengeluarkan fatwa berisi larangan pemakaian batu akik,” kata Sukamto.MUI sendiri tidak mempermasalahkan penggunaan batu akik. Sebab, memakai batu akik kalau tidak meyakini ada kekuatan, tidak ada masalah. Dalam Islam, niat menjadi barometer amal baik buruk. Pihaknya justru beranggapan, isu sengaja dihembuskan untuk me-ningkatkan pamor jual beli batu mulia saja. “Trik pasar biasanya kan begitu, untuk menaikkan harga,” ucapnya. (gun/ila/ong)