DWI AGUS/RADAR JOGJA
JOGJA AGRO POP: Sebagian karya para seniman kontemporer yang dipamerkan di Langgeng Art Foundation, Suryodiningratan, Jogja, kemarin (9/3).

Galeri Atas untuk Kanvas dan Patung, Bawah Merchandise

Atmosfir seni rupa kontemporer di Jogjakarta selalu memberikan warna yang berbeda. Disiplin ilmu seni ini secara dinamis mengikuti perkembangan masyarakat. Sehingga bisa dibilang seni kontemporer merupakan potret keadaan seni suatu tempat pada waktu terbaru.
DWI AGUS, Jogja
HAL inilah yang dihadirkan adalam pameran bertajuk Jogja Agro Pop di Lang-geng Art Foundation, Suryodiningratan, Jogja. Pameran ini menyajikan karya seniman-seniman kontemporer Jogja-karta. Sebut saja Bambang Toko, Eddie Hara, Nano Warsono, Ermambang Ben-dung, Farid Stevy Asta dan banyak lagi seniman lainnya.”Pameran ini digelar untuk melihat kem-bali lintasan sejarah yang membentuk salah satu kecenderungan seni rupa dewasa ini. Peta seni di Jogjakarta di era pertengahan 80-an terdapat beberapa seniman muda yang cukup kuat memberikan warna baru dalam perkembangan seni,” kata Rain Rosidi, sang kurator, kemarin (9/3).Rain menyebutkan dua nama pelukis Heri Dono dan Eddie Hara. Diungkapkan, peran kedua seniman ini sangatlah besar. Terutama dalam mewarnai perkembangan arah seni lukis di Jogjakarta. Heri Dono memiliki pengaruh karena sepak terjangnya dalam ranah seni internasional
Untuk Eddie Hara, Rain memi-liki pandangan tersendiri. Seni-man ini tidak terlihat menonjol mengenai seni kontemporer di Indonesia. Ini karena proses ber-karya Eddie tidak banyak berada di Indonesia. Selain itu juga arah pandang yang berbeda akan makna kontemporer itu sendiri.Untuk istilah Jogja Agro Pop berawal dari penyebutan sebuah komunitas seni rupa, di mana komunitas memiliki batasan dan gambaran jelas dalam berkarya. Era kelompok ini pula lahir be-berapa istilah seperti lowbrow, street art, dan pop surealism.”Jika bicara kontemporer akan ada banyak pemaknaan sesuai persepsi seniman dan penikmat-nya. Bisa dibilang jika berbicara kontemporer, maka tidak berwajah tunggal, penuh dengan kompleksi-tas dan kontradiksi,” ungkapnya.
Dalam pameran ini setiap seni-man menghadirkan bentuk ber-beda, di mana karya-karya seni terwujud dalam benda-benda komersil. Seperti kaos, topi, tas, cd, poster hingga sofa yang diba-lut warna seni. Selain itu, pameran ini juga menyajikan kanvas dengan warna yang lebih pop art.”Merchandise pasti identik dengan benda komersil. Padahal seni rupa juga bisa termediakan melalui merchandise. Bahkan saat ini berpromosi dengan jalan ini sangat efektif dan efisien,” imbuhnya.
Pameran yang berlangsung hingga 27 Maret ini terbagi dalam dua konsep. Galeri atas menya-jikan karya para seniman dengan media kanvas, sofa dan beber-apa karya patung. Sedangkan galeri bawah menyajikan karya dalam bentuk merchandise. Selain ada karya tunggal, ada pula bentuk-bentuk kolaborasi. Seperti Too Much Art Fair is Unfair kolaborasi Bambang Toko, Uji Handoko, Krisna Widiatama, We-dhar Riyadi dan Nano Warsono. Ada juga karya tak berjudul kolabo-rasi Eko Didyk, Krisna Widiathama dan Sulung Widya. (*/laz/ong)