HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
PROTES: Warga Banaran saat menggelar aksi penolakan penambangan pasir dengan alat berat di bantaran sungai Progo tepatnya di Pedukuhan IX Banaran, Galur kemarin (9/3)
KULONPROGO – Warga Banaran, Galur, gerah dengan aktivitas penambangan pasir menggunakan alat berat yang dilakukan PT Pasir Alam Sejahtera (PAS) di Pedukuhan IX. Kegerahan itu akhirnya di-wujudkan dengan aksi pema-sangan spanduk berisi kecaman dan penolakan, kemarin (9/3).Pantauan Radar Jogja, aksi diikuti ratusan warga. Mereka menuliskan penolakan dan kecaman terhadap aktivitas penambangan yang dilakukan PT PAS menggunakan cat semprot warna merah di atas spanduk. Puluhan spanduk itu kemudian dibentangkan di sepanjang jalan yang dilalui kendaraan pengakut pasir. Tidak berhenti sampai disitu, warga juga sempat menyegel satu alat berat (backhoe) milik PT PAS yang tengah rehat operasi di bantaran sungai Progo di Pedukuhan IX. Aksi berlangsung damai dan tidak anarki. Kendati begitu, sejumlah aparat Kepolisan, TNI dan Satpol PP tampak berjaga diantara kerumunan warga.
Dalam sksi warga ini juga tercium aroma persaingan, ter-lebih saat diketahui puluhan warga Banaran ternyata juga ada yang melakukan aktivitas penambangan sebagai mata pencaharian utama. Kendati penambangan dilakukan dengan cara manual. Sedikitnya ada sekitar 80 warga Banaran yang hidup sebagai penambangn pasir manual. Ketua Paguyuban Tambang Manual Desa Banaran Agung Klimin, 32 mengatakan, penam-bangan dengan alat berat sangat merugikan, sehingga warga tegas meminta penambangan PT PAS segera ditutup. “Terlebih setelah beberapa warga melakukan penelusuran, ternyata aktivitas penambangan yang dilakukan PT PAS tidak berizin,” tegasnya.
Klimin menjelaskan, aktivitas penambangan PT PAS sebetulnya sempat berhenti sekitar enam bulan lalu. Sebelumnya, PT PAS sempat mengerahkan belasan alat berat untuk mengeruk pasir. Sementara truk pengakut pasir yang melintas di jalan desa Banaran bisa mencapai 300 unit hingga 400 unit setiap harinya. “Setelah diprotes warga, aktivitas penambangan berhenti. Namun tiga hari terakhir PT PAS kembali melakukan penam-bangan di areal yang sama, hingga akhirnya warga menggelar aksi ini,” jelasnya.Rohadi, 53, warga Pedukuhan IX Banaran, Galur mengungkap-kan, tembok rumahnya saat ini dalam kondisi retak-retak. Itu akibat pergerakan lalu lintas truk pengangkut pasir di jalan desa yang persis berada di sisi rumahnya. “Tonase truk pasir itu lebih dari 12 ton dan melintas hingga puluhan bahkan ratusan kali dalam sehari. Sehingga tidak hanya infrastruktur jalan desa saja yang terancam rusak, rumah warga yang berada di dekat jalan juga retak-retak. Belum lagi suara bising truk keluar masuk lokasi penambangan,” keluhnya.
Menurut Rohadi, memang ada warga setempat yang melakukan proses penambangan secara manual, namun itu tidak seberapa jika dibanding penambangan dengan alat berat. “Menambang manual sehari paling hanya dapat 20 rit pasir, sementara penam-bangan pasir dengan alat berat mampu mengumpulkan 100 rit dalam sehari,” ujarnya.Camat Galur Latnyana mengata-kan, pihaknya mengapresiasi warga yang menghentikan aktivitas penambangan pasir dengan alat berat dan ilegal di wilayahnya. Dijelaskan, dulu PT PAS sudah pernah diminta berhenti. “Terlebih daerah operasinya seharusnya di wilayah Bantul (seberang sungai). Namun sekarang kok beroperasi lagi,” katanya.
Latnyana menegaskan, usaha penambangan pasir yang tidak berizin tidak boleh menambang di wilayah Kulonprogo. Terkait penambangan dengan alat berat di Pedukuhan IX pihaknya berencana memanggil kelompok masyarakat yang dinilai tahu dengan aktivitas penambangan menggunakan alat berat tersebut.”Yang saya tahu sudah dilarang, kenapa beroperasi lagi kita akan cari tahu kejelasannya. Saya mengapresiasi warga, namun saya mengimbau jangan me-lakukan tindakan anarki,” tegasnya. (tom/ila/ong)