SETIAKY/RADAR JOGJA
TATTO HELLO KITTY: Terdakwa Nk saat dibawa petugas untuk diajukan ke persidangan di PN Bantul, kemarin (10/3).
BANTUL – Pengadilan Negeri (PN) Bantul akhirnya tetap menggelar persidangan kasus “Hello Kitty” dengan menyeret salah seorang terdakwa penyekapan dan penyiksaan terhadap Laras Aprilia Arisandi, 18, kemarin (10/3). Ini setelah pihak keluarga siswi SMA Budi Luhur tersebut menolak berdamai dengan terdakwa berinisial Nk. Proses mediasi ditempuh lantaran terdakwa berusia 16 tahun. Proses mediasi berjalan tak kurang dari 10 menit. Laras yang didampingi ibunya, Menik Pardjiyem, tampak menangis seseng-gukan keluar dari salah satu ruangan di lantai dua pengadilan, setelah proses mediasi tak menemui kesepakatan damai
“Harus dihukum selama-la-manya,” tegas Laras usai mengik-uti mediasi. Tak lama kemudian, Nk yang menggunakan atasan putih lengan panjang dan wajah tertutup masker tersebut, giliran keluar dari ruang mediasi. Dengan dijaga ketat puluhan personel dari Polres Bantul, Nk dibawa ke ruang persidangan.Pendamping dari Pusat Pelaya-nan Terpadu Perlindungan Pe-rempuan dan Anak (P2TP2A) Bantul Andri Irawan menuturkan, proses mediasi diatur dalam UU No 11/2012 tentang Sistem Per-adilan Pidana Anak. Aturannya, proses mediasi ini ditempuh bila terdakwa masih di bawah umur. Bila kedua belah pihak ada kesepakatan damai, terdakwa tak perlu diseret ke meja hijau. “Faktanya, keluarga korban menginginkan kasus ini berlanjut di persidangan karena perla-kuan terdakwa sudah membuat korban tidak nyaman,” tuturnya.
Nk merupakan salah satu dari sembilan pelaku penyeka-pan dan penganiayaan terhadap warga Kadipolo, Sendangtirto, Berbah, Sleman itu. Selain turut menjemput Laras dan memba-wanya ke indekos yang terletak di Pedukuhan Saman, Bangun-harjo, Sewon, Nk juga ikut aktif menyiksanya. Mulai memukuli, mencukur rambut kemaluan, hingga memasukan botol minuman keras ke dalam kema-luan Laras. Proses persidangan dengan agenda pembacaan dakwaan ini berjalan tertutup. Selain ter-dakwa, persidangan dengan hakim ketua Intan Tri Kumala-sari serta dua hakim anggota yakni Bayu Soho Rahardjo dan Boyke BS Napitupulu ini juga menghadirkan Laras. Proses persidangan sendiri berjalan kurang dari 30 menit.
Ditemui usai persidangan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Heradian Salibi menyatakan, terdakwa dijerat dakwaan al-ternatif komulatif. Yaitu Pasal 170 Ayat 1 dan 2 kesatu juncto pasal 55 Ayat 1 KUHP dengan ancaman hukuman tujuh tahun penjara. Dakwaan alternatif kedua, Pasal 351 Ayat 1 juncto Pasal 55 Ayat 1 dengan ancaman hukuman dua tahun delapan bulan penjara. “Dan kita komu-latifkan dengan Pasal 333 Ayat 1 juncto Pasal 55 Ayat 1 dengan ancaman hukuman delapan tahun penjara,” paparnya.
Sementara itu, Menik Pardjiyem menceritakan, sampai sekarang Laras masih takut keluar rumah. Masih buronnya empat pelaku lain sebagai alasannya. Oleh ka-rena itu, dia pun meminta polisi segera bisa menangkap para pelaku yang masih buron terse-but. “Kalau ada tamu, dia lang-sung lari bersembunyi. Sehari-hari di rumah hanya nonton televisi dan tidur,” jelasnya. Sebagai orangtua, perlakuan sembilan pelaku terhadap anaknya di luar batas. Apalagi, Nk selama ini akrab dengan Laras, bahkan cukup sering bermain ke rumah. Sehingga sudah sepantasnya mereka mendapatkan hukuman sebe-rat-beratnya. Persidangan be-rikutnya dengan agenda men-dengar keterangan saksi yang dijadwalkan Kamis (12/3) besok. (zam/laz/ong)