ADIDAYA PERDANA/RADAR JOGJA
LEBIH MAHAL: Petani Desa Tanjunganom memperlihatkan produksi beras berkualitas tinggi yang ditanam secara organik. Dalam sebulan mampu memproduksi 1.000 pack.
MUNGKID – Petani di Desa Tanjunganom, Kecamatan Salaman berhasil mem produksi beras dengan kualitas tinggi. Selain ber-beda dengan beras umum yang beredar di pasaran, beras yang dihasilkan ini layak menjadi konsumsi penderita penyakit gula. Karena, beras jenis ini berguna mengen-dalikan kadar gula darah. Penanaman beras oleh petani bermula saat akhir 2014. Beras tersebut berasal dari varietas cisokan yang ditemukan Balai Besar Penelitian Tanaman Pangan Suka-mandi. Ini merupakan salah satu dari lima jenis beras fungsional untuk penderita diabetes.Direktur Utama Badan Usaha Milik Petani (BUMP) Tanjungmulia Agronusa Ahmad Syafii mengatakan, petani memilih pro-duksi beras fungsional untuk diabetes, setelah mencermati belakangan pende-rita penyakit diabetes. Di Indonesia, jum-lah penderita gula terus mengalami pening-katan
Penderita penyakit gula ini tidak boleh mengkonsumsi ter-lalu banyak makanan yang mengandung karbohidrat atau dengan kadar gula tinggi. Salah satunya beras. Padahal hampir semua orang Indonesia lebih suka mengonsumsi nasi dari beras. “Dengan asumsi ini, kami mencoba memasuki bisnis beras fungsional untuk diabetes,” kata Ahmad kemarin (10/3).Sasaran para petani agar beras bisa mencapai area pemasaran satu persen dari keseluruhan penderita diabetes. “Padahal, kabarnya penderita gula sudah mencapai sekitar 9 juta orang saat ini,” jelasnya. Direktur BUMP Tanjungmulia Agronusa Desa Tanjunganom Sukarjono menambahkan, pro-duksi beras fungsional diabetes ini ditanam 25 petani.
Mereka berasal dari dua kelompok tani Desa Tanjunganom. Lahan tanaman seluas sekitar 10 hek-tare. “Mereka terbagi dalam dua kelompok tani,” katanya. Menurut Sukarjono, setiap musim beras, cisokan diuji laboratorium di Universitas Ga-jah Mada (UGM). Itu untuk me-mastikan indeks glikemik (IG) atau kadar gula darahnya be-rada di angka 44,4. Jika kadar IG kurang dari 55, tergolong rendah. “Kami harus memastikan kadar IG dalam beras aman untuk di-konsumsi penderita diabetes,” katanya.Dijelaskan, varietas cisokan memiliki beberapa keunggulan. Di antaranya, umurnya lebih pendek dibanding beras biasa, perlakuan tanamanyalebih mu-dah, dan produksinya lebih tinggi. Umur varietas cisokan mencapai 110 hari. Sedangkan beras biasa rata-rata berumur 125 hari. Produktivitas beras cisokan mencapai 8,2 ton per hektare.
Produksi beras ini di-beri label Dearice atau rice for diabetic. “Varietas ini dibudidayakan secara organik,” imbuhnya.Pihaknya baru mulai me-masarkan beras tersebut sebulan terakhir. Area pemasarannya mencapai Semarang, Jakarta, Kediri, dan Magelang.”Produksi kami sebenarnya sudah mulai dilakukan sejak November 2014. Namun, hingga sampai packaging dan pe masaran baru dilakukan sekitar sebulan terakhir,” tuturnya.Saat ini beras, Dearice mem-peroleh beberapa sertifikat mutu. Antara lain mutu certifica-tion international dari Bogor, dari Kementerian Pertanian, dan UGM. Meski baru sebulan di-pasarkan, beras Dearice sudah disambut baik konsumen.”Produksinya saat ini men capai 1.000 pack per bulan. Tiap satu pack berisi satu kilogram beras. Sehingga angka produksinya mencapai kisaran satu ton per bulan. Beras Dearice dijual dengan harga Rp 30 ribu per pack ke tangan konsumen,” katanya. (ady/hes/ong)