AHMAD RIYADI/RADAR JOGJA
KAGUMI TOLERANSI: Corrie van der Ven, pegiat toleransi umat beragama asal Belanda di kampus UIN Sunan Kalijaga kemarin (10/3).
JOGJA – Keberagaman dan tole-ransi antarumat beragama yang terjadi di tengah masyarakat Indo-nesia, membuat warga asing kagum. Hal itu seperti disampaikan pegiat toleransi umat beragama asal Be-landa, Corrie van der Ven pada forum International Conference on Costly Tolerance di kampus UIN Sunan Kalijaga, kemarin (10/3). Corrie mengatakan, muslim Indonesia dengan muslim Arab, sangat berbeda. Letak perbedaan itu tidak sekadar pada sisi pakaian, tapi bagaimana menafsirkan alquran dan sunnah rosul dalam setiap men-jalankan ibadahnya. Selain menja-lan syariat Islam yang ada di alquran dan sunnah rosul, muslim Indone-sia masih menjaga dan melestarikan kearifan lokal, seperti kenduri dan berbagai kegiatan adat lainnya.”Muslim Indonesia lebih majemuk dan toleransi. Muslim Indonesia sangat menghargai agama lain seperti Kristiani,” kata Corrie.
Corrie mengaku bangga dengan masyarakat Indonesia. Selama enam tahun tinggal di Makassar, Corrie tidak pernah mendapatkan diskrisminasi dari masyarakat setempat yang mayoritas beragama Islam. “Ma syarakat Indonesia lebih terbuka dan meng-hormati ibadah agama lain, seperti Kristiani,” tambahnya.
Sebaliknya, situasi ini bertolak bela-kang dengan yang ada di Belanda. Di Belanda, umat Kristiani menjaga jarak dan menutup diri dengan umat agama lain. Ini terjadi karena me-reka khawatir umat agama lain akan mempengaruhi ibadah dan ajaran agama yang dipegangnya. “Se mangat toleransi masyarakat Indonesia akan kami tularkan ke masyarakat umat kristiani di Belanda. Kami ingin sam-paikan kepada masyarakat Belanda bahwa umat Islam di Indonesia ber-beda dengan Islam di Arab,” tandas Corrie.
Untuk mencegah perpecahan antarumat beragama di Indonesia, Corrie mengingatkan pentingnya menjaga toleransi. Karena itu, ia meminta kepada lembaga pergu-ruan tinggi untuk terus menjaga dan melestarikan semangat to leransi yang ada di tengah masyarakat. Jangan sampai perguruan tinggi menjadi tempat berdirinya orga-nisasi ekstrem, sehingga mem-bayakan keberadaan toleransi antar umat beragama. “Indonesia menghadapi tantangan, ekstremis. Karena itu, dibutuhkan saling percaya dan itu butuh waktu,” ingat Corrie.
Ketua Jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Dr Phil Sahiron Syamsud-din mengatakan, konferensi inter-nasional ini membahas mengenai pentingnya sikap toleransi dalam menjalani kehidupan di masyarakat yang plural, baik dari segi agama, tradisi, suku maupun bahasa. Dalam even ini, panitia mengundang 15 orang pembicara asal Belanda dan 23 pembicara asal Indonesia.”Mereka diberikan kesempatan menceritakan pengalaman dan pandangannya mengenai toleransi umat beragama di negara asal dan negara lain,” kata Sahiron.
Selanjutnya, pandangan yang disampaikan para pembicara akan dibukukan. Tujuannya agar pan-dangan mengenai toleransi dikenal lebih luas oleh masyarakat, ter utama kalangan akademisi dan pegiat toleransi.”Kami berharap konferensi ini bisa memberikan kontribusi aka-demik dan practical guidance bagi upaya peningkatan sikap dan tindakan yang toleran dan kehidupan yang damai di ma-syarakat yang plural, baik di Indonesia maupun di Balanda,” terang Sahiron. (mar/jko/ong)