ADIDAYA PERDANA/RADAR JOGJA
MEMPRIHATINKAN: Jembatan Kali Pancar nyaris putus dan minta perhatian pemkab untuk segera dicarikan solusi.
MUNGKID – Salah satu jalur alternatif penghubung Ke-camatan Salaman dan Keca-matan Tempuran nyaris putus kemarin (11/3). Kondisi ini disebabkan bahu jembatan Sungai (Kali) Pancar di Dusun Jengkiling, Banjarharjo, Salaman terkena bencana alam tanah longsor. Akibat kondisi ini ken-daraan roda empat harus memu-tar jalan sejauh dua kilometer. Peristiwa bermula saat Kali Pancar mengalami banjir cukup besar pada Januari lalu. Bahu jalan di sebelah jembatan itu tiba-tiba mengalami longsor. Tebing jalan terkikis air dengan tinggi sekitar lima meter, panjang tujuh meter, dan lebar longsor sekitar satu meter. Terpaksa, jalur diberlakukan satu arah dengan sistem buka tutup
“Longsornya tebing di bahu jalan disebabkan banjir pada Januari lalu. Sampai sekarang, belum diperbaiki,” kata salah satu warga setempat Khoirul Makruf kemarin (11/3).Jembatan Kali Pancar merupa-kan peninggalan zaman Belanda yang dibangun pada 1971-1972. Setiap hari, jembatan tersebut dilalui siswa-siswi yang menuntut ilmu di SMPN 3 Salaman, yang tak jauh dari lokasi jembatan. Adapun pengajar dan siswanya, sebagian besar berasal dari luar Desa Banjarharjo. “Jembatan ini juga meng-hubungkan jalur Kecamatan Salaman dan Tempuran. Jalur ini ramai karena menuju SMPN 3 Salaman. Selain itu juga sering dilalui karyawan yang berangkat ke pabrik,” papar pria yang juga sebagai Kasi Pemerintahan dan Pembangunan Pemerintah Desa Banjarharjo ini.
Pascabahu jalan longsor, pe-merintah desa (pemdes) sudah mengajukan bantuan ke Pemkab Magelang. Proposal permintaan bantuan ditujukan ke Bupati Magelang dan Dinas Pekerjaan Umum Energi Sumber Daya Mineral (DPU ESDM) Kabupa-ten Magelang. Pemdes berharap, pemkab segera memberikan perhatian atas kondisi jembatan. “Harapan kami, segera dibangun kembali. Namun jembatan dibangun seperti model zaman sekarang, dicor dan kerangka besi. Karena jembatan itu masih model lama menggunakan kolong yang melingkar,” usulnya.
Dikatakan, sebelum peristiwa bencana longsor itu, pemdes mengajukan proposal bantuan pembangunan jembatan ke Pemkab Magelang. Bantuan diharapkan karena jembatan tersebut mengalami retak di salah satu bagian. Hingga ban-tuan belum turun, jembatan terancam putus.”Kami berharap segera menda-pat perhatian, karena jembatan ini bangunan lama,” jelasnya.Sementara itu, Kepala Bidang Bina Marga DPU-ESDM Kabu-paten Magelang David Ru biyanto menjelaskan, pembangunan jembatan itu dialokasikan pada APBD 2016. Jembatan Kali Pan-car rencananya diganti dengan bangunan jembatan baru. Untuk sementara waktu, pihaknya membangun terlebih dahulu bronjong di sekitar jembatan. “Proposal bantuan juga di-komunikasikan dengan BPBD Kabupaten Magelang. Semoga tetap turun dengan rencana ni-lai pembangunan di bawah Rp 200 juta,” tegasnya.
Ia melanjutkan, pembangunan fisik berupa Jembatan Kali Pan-car tidak bisa dikerjakan secara langsung. Pasca longsor, ada tahapan-tahapan pembangunan yang harus dilalui. Setidaknya harus diusulkan terlebih dahulu di APBD dan ini membutuhkan waktu. David mengungkapkan, selain di Desa Banjarharjo, Kecamatan Salaman, peristiwa hampir serupa juga terjadi di wilayah lain. Di antaranya, jembatan penghubung Desa Kalinegoro-Donorojo Kecamatan Merto-yudan yang mengalami putus total dan Jembatan Desa Sirebet, Kecamatan Kaliangkrik.Sementara jembatan di Desa Giriwetan, Kecamatan Tegal-rejo belum putus total. Di Desa Sambak-Bambusari, Kecamatan Kajoran, bukan jembatan yang putus, melainkan jalan peng-hubung desa. “Dari jembatan-jembatan itu setidaknya kami alokasikan di APBD 2016 untuk rehab rekon. Untuk sementara penanganan, kami akan mengalokasikan di APBD – Perubahan 2015. Semoga bisa diketok lebih awal,” kata-nya. (ady/hes/ong)