GUNAWAN/RADAR JOGJA
BERPETUALANGAN: Rombongan wisatawan asal Bekasi saat menyusuri sungai menuju Gua Watu Joglo, kemarin (12/3). Mereka setelah mencapai finis dan menggapai bendera Merah Puti

Terjang Arus Sungai, Finis di Tempat Persembunyian Pejuang

Jika selama ini warga lebih mengenal tempat wisata di Gunungkidul dengan Gua Pindul-nya, kini saatnya juga melirik gua yang lain, yakni Gua Watu Joglo. Apa lagi tempat wisata ini juga menawarkan keberuntungan mendapatkan butiran emas.
GUNAWAN, Gunungkidul
JENIS destinasi wisata yang satu ini, memang membutuhkan nyali, ketahanan fisik, dan tekad yang tinggi. Sebab wisatawan ditantang untuk menaklukkan aliran sungai kurang lebih sepan-jang 1 kilometer. Bahkan, jika beruntung, bisa mendapatkan butiran emas dan batu mulia
Tapi lupakan dulu mencari emas atau batu mulia. Ada baiknya tu-juan utama ke Gua Watu Joglo ini untuk berwisata. Konsentrasi wi-satawan di sini adalah mengem-bara. Menelusuri jejak gerilyawan perang kemerdekaan yang dulu bersembunyi di gua ini. Wisatawan dikatakan lulus ujian, jika mampu sampai finis. Keberhasilan itu dibuktikan dengan memegang bendera merah putih yang sengaja ditaruh di dalam gua paling dalam. Agar misi itu dapat dimulai, diawali dengan membuka peta gerilya. Empunya peta adalah penge lola wisata setempat. Basecame pengelola atau pusat informasi wisata ini, berada di Kampung Emas Plumbungan, Putat, Patuk, Gunungkidul.
Lokasi tersebut, sekitar 27 ki-lometer dari arah Jogjakarta, dan 14 kilomater dari ibukota Gunung-kidul, Wonosari. Dari Wono-sari, jalur satu arah dengan Gunung Api Purba, Nglanggeran. Ciri khas Kampung Emas, ada-lah ikon patung memedi sawah di pinggir jalan.Kalau sudah ketemu, tanda-tanda mengembara segera di-mulai. Untuk menyusuri Gua Watu Joglo yang ekstrem itu, tentu tidak dengan tangan kosong. Pengelola sudah menyiapkan kostum atau atribut, berupa pengamanan, seperti helm, pe-lindung tangan, pelindung lutut, dan sepatu khusus. Kalau sudah lengkap, wisatawan mirip se-perti pendekar.Perjalanan diawali dengan doa bersama dipimpin oleh pemandu. Sejenak diberikan arahan, kemu-dian go! Mengembara dimulai. Pos pertama adalah sekretariat. Lalu jalan kaki menelusuri jalan yang kian lama, makin menyem-pit menuju daerah aliran sungai.
Tantangan dimulai. Kencang-kan ikat pinggang, pastikan se-mua aman, karena tantangan terberatnya berupa aliran sung-ai dan bebatuan. Itu merupakan pos kedua, dan langsung dimu-lai dengan “mandi besar”. Man-di di sungai dengan kedalaman setinggi dada orang dewasa. Kalau lulus, itu pertanda baik. Keberadaan butiran emas dan batu mulia bakal ditemui jika bernasib mujur. Sampai di lokasi, wisatawan disediakan alat tradisional ber-upa tambir (semacam nampan) yang terbuat dari anyaman bambu. Setelah itu, bisa menge-ruk material dalam sungai, pilah dan pilih. Ada tidak kandungan logam mulia tersebut? Jangan sedih misalkan tidak berhasil, karena warga akan menunjukkan benda yang sudah didapat. “Ti-dak boleh dibeli, tapi diperbo-lehkan untuk difoto,” kata warga penemu batu berlapis emas, Tugiran kemarin (12/3).
Tidak hanya itu, pria berambut ikal ini juga menunjukkan batu mulia yang biasa digunakan untuk asesoris akik. “Cepret” wisatawan berlalu melanjutkan perjalanan ke pos terakhir. Tidak gampang mendekati pos paling ujung. Bagi yang kuat, harus berenang terlebih dahulu. “Saya lewat pinggir saja,” ucap Marawan salah seorang pengunjung dari Dinas Perhubungan Kota Bekasi.Pengembaraan empat orang itu akhirnya ada tanda-tanda berhasil. Mulut Gua Watu Joglo sudah terlihat menganga. Ritme jalan mereka semakin diperce-pat. Namun tantangan kian su-lit. Arus dan bebatuan besar menghadang di depan. Sema ngat empat sekawan ini makin ter-bakar, manakala melihat bende-ra merah putih berdiri tegak di lorong gua. Dan, mereka pun lulus. Sang saka merah putih dipegang ramai-ramai. Peninggalan se-jarah berupa tempat persem-bunyian pejuang kemerdekaan sudah ditemukan. Dibantu pemandu, setiap lekuk dan lorong gua bernilai historis dijabarkan satu per satu.Ketua Pokdarwis Kampung Emas, Andri Purwanto menga-takan, wisata mengembara melalui aliran sungai, baru per-tama ada di Gunungkidul. Dia berharap, pertumbuhan wisata di Kota Gaplek ini bisa diman-faatkan masyarakat untuk krea-tif menggali ide. “Jangan jadi penonton,” kata Andri.
Diakuinya, wisata Gua Watu Joglo memang belum terlalu terkenal seperti Gua Pindul. Meski demikian, selalu ada pen-gunjung. Apalagi di saat musim liburan. “Belum terlalu dikenal seperti Gua Pindul, tapi kami yakin, tempat wisata ini juga akan terkenal,” katanya.Untuk saat ini, tempat wisata ini juga belum digarap maksimal. Karena itu juga tidak ada pu-ngutan yang berlebihan.Disinggung tentang kandun-gan emas, atau batu mulia di Gua Watu Joglo ini, Andri menga-takan, hal itu jangan dijadikan tujuan utama berwisata. Karena keberadaannya mesti dibuktikan secara ilmiah. Meski demikian, bukti fisik kandungan emas maupun jenis batu mulia yang lain, memang ada wujudnya. “Bagi yang sudah mengembara ke Gua Watu Joglo, bisa melihat sendiri secara kasat mata,” pungkasnya. (*/jko/ong)