MAGELANG – Kota Magelang kembali menorehkan prestasi tingkat nasional. Memang, tidak seperti sebelumnya yang selalu meraih juara pertama. Kali ini, daerah yang memiliki sebutan Kota Sejuta Bunga ini hanya diposisi nomor dua.Dua kategori penghargaan yang disabet Kota Magelang diumumnkan dalam Anugerah Inovasi Manajemen Perkotaan (IMP) 2014 Bidang Pelayanan Jasa Perkotaan yang diadakan di Surabaya, kemarin (12/3). Yakni, Bidang Penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) di bawah Maros (Sulawesi Selatan). Ke mudian, Bidang Pengelolaan Sanitasi (sampah) di bawah Surabaya, serta di atas Bontan (Kal-tim). Penghargaan diserahkan Mendagri Tjahjo Kumolo pada Wali Kota Sigit Wi-dyonindito.”Iya, hari ini (kemarin) Pak Wali mendapat penghargaan lagi untuk penataan PKL dan pengelolaan sampah,” kata Kabag Humas Protokol dan Santel Kota Magelang Sutomo Haryanto Kamis (12/3)
Saat ramah tamah dengan war-tawan, Senin lalu (9/3), wali kota berterima kasih pada ma-syarakat atas dukunganya, se-hingga penghargaan kembali diraih Kota Magelang. Soal raihan yang di bawah Maros dalam penataan PKL dan di bawah Su-rabaya dalam masalah pe ngelolaan sampah, wali kota tetap berbesar hati. “Tidak apa-apa, ke depan kami berusaha supaya dapat yang terbaik,” janjinya.Pada kesempatan tersebut, juga disinggung juga obsesi mendapatkan kembali Adipura Kencana tahun ini. Hal itu diupayakan dengan komitmen dan kerja sama antara masya-rakat dengan pemerintah.”Termasuk SKPD juga harus menjalankan peran strategis. Jadi, tidak hanya rakyat saja, tetapi PNS juga harus berjuang bersama-sama,” katanya.Ia menyebut, tahun 2014, Kota Magelang berhasil meraih Adipura Kencana dengan nilai yang sesuai. Lalu, selama setahun itu, upaya rapor merah terus diperbaiki. Sehingga tidak hanya usaha mempertahankan, tetapi juga dibidik agar terus me ngalami peningkatan.”Harus ya, merah ke biru, dan yang sudah biru harus lebih baik lagi. Kita itu stabil memang dan itu yang membanggakan,” ungkapnya.
Dijelaskan, penghargaan pe-ngelolan sampah menjadi terbaik ke dua se-Indonesia karena Kota Magelang punya inovasi tersendiri. Salah satu yang paling menonjol adalah keberadaan kampung organik yang rata-rata ada di 17 kelurahan di Kota Magelang. Sementara, untuk pem berdayaan PKL, Pemkot Magelang me-nyiapkan lokasi yang represen-tatif sejak tahun 2011. Hingga kini, ada beberapa titik pusat kuliner untuk PKL. Antara lain, Kuliner Tuin van Java (Alun-alun), Kartika Sari (Jalan Tidar), Sejuta Bunga (Jalan Jenderal Sudirman), Kebonpolo, Badakan, Armada Estate, Jalan Daha, dan lainnya.Hanya, masih ada beberapa persoalan untuk PKL yang masih tersisa. Salah satunya adalah kebocoran tenda-tenda PKL di Tuin Van Java yang ada di Kompleks Alun-alun Kota Ma-gelang. Setiap musim penghujan, pembeli dan PKL di kompleks tersebut disibukkan dengan kebocoran tenda.Luis, 28, salah satu PKL di Tuin Van Java mengakui, jika tenda sudah mengalami ke-bocoran. Apalagi musim hujan seperti ini, merembes-nya air cukup membuatnya pusing. Akibatnya, kenyamanan untuk pembeli berkurang.”Harapannya (tenda) segera diganti. Soalnya cukup meng-ganggu kenyamanan,” keluh Luis. (dem/hes/ong)