FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
KEBUT: Alat berat didatangkan agar pembongkaran sebagain tanah di TITD Liong Hok Bio cepat dilaksanakan. Klenteng kebanggaan warga Kota Magelang ini mulai dibangun dan diharapkan selesai dalam dua tahun. Panitia berharap pemkot membantu pendanaan karena Klenteng Liong Hok Bio merupakan cagar budaya yang dilindungi pemerintah
MAGELANG – Pembangunan kembali Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) atau Klenteng Liong Hok Bio Kota Magelang sudah di mulai. Tahap awal, dilakukan pembongkaran dan perataan lahan yang semula berdiri ruang pertemuan, kantor TITD, serta dapur. Dalam kegiatan tersebut, digunakan alat berat guna mempercepat proses.”Kami mulai bekerja sejak kemarin pagi (Rabu). Kami dari PT Armada Hada Graha (AHG). Paling hari ini perataan lahan selesai. Untuk pembongkaran sudah dilakukan kemarin. Kalau masih ada yang harus di-ratakan lagi, ya kami teruskan besok,” kata Eren, pengawas lapangan PT AHG di sela-sela pembongkaran di TITD Liong Hok Bio, kemarin (12/3).Ketua Yayasan Tri Bhakti Magelang Paul Chandra Wesi Aji menegaskan, seharusnya pembongkaran dan perataan lahan ditarget selesai akhir Maret ini. Karena digunakan alat berat, dalam dua hari pekerjaan pembong-karan dan perataan lahan sudah selesai
“Ya nanti akan kami lanjutkan dengan pengerukan lahan. Mumpung ada alat beratnya sekalian. Karena rencananya, di bawah klenteng akan dibuat basemen. Bukan untuk parkir, tetapi untuk gudang dan ruang macam-macam,” jelasnya.Basemen akan dibuat seluas 1.000 meter persegi. Kemudian, di atasnya baru didirikan klenteng dengan luas separuhnya. Pada-hal bangunan TITD yang ter bakar pada 16 Juli 2014, hanya 100-200 meter persegi.”Harapannya, tempat ibadah baru ini bisa menampung umat yang jumlahnya semakin banyak. Yang jelas, secara bentuk, bangu-nan baru kami buat mirip dengan bangunan yang telah terbakar. Karena ada nilai sejarahnya,” ungkap pria yang akrab disapa Awe tersebut.
Untuk sementara, Kantor TITD Liong Hok Bio menggunakan bangunan toko yang berada di belakangnya. Yakni, bekas toko jamu di Jalan Pemuda Nomor 6. Sedangkan tempat per ibadatan menggunakan gedung serba guna yang berada di belakang bangunan lama.”Sisa ruangan di sebelah tempat sembahyangan, kami gunakan untuk ruang pertemuan. Dapur digunakan bangunan di kecil di depan tempat sembahyangan,” jelasnya.Saat ditanya dana yang bakal dihabiskan untuk membangun kembali klenteng dengan ruangan basemen, Awe enggan menjawab.”Kami susah menghitungnya. Yang jelas, ditargetkan TITD bisa dibangun dalam dua tahun ini. Soal biaya, biasanya bakal ada bantuan dari umat maupun masyarakat. Juga dari klenteng-klenetng lain,” paparnya.
Awe berharap, Pemkot Magelang memberi bantuan dana untuk pembangunan TITD tersebut. “Ya harusnya tanpa diminta, pemkot secara otomatis langsung memberi bantuan. Wong ini ya musibah. Dan umat kami juga termasuk warga Kota Magelang,” katanya.Seperti diketahui, kebakaran Klenteng Liong Hok Bio hanya berselang sebulan dengan TITD di Banyuwangi dan sembilan bulan dengan TITD di Banyumas. Api yang melalap tempat per-ibadatan warga Tionghoa yang berdiri 8 Juli 1864 tersebut ber-hasil dipadamkan lima unit pemadam kebakaran dalam tiga jam. Tetapi nyaris tidak ada yang bersisa dari bangunan yang masuk cagar budaya di Jalan Alun-alun Selatan Nomor 2 tersebut.
Setelah dilakukan penyelidikan kepolisian, diketahui kebakaran ini akibat kesalahan manusia (human error). Yakni, penjaga lupa mematikan blower atau kipas angin pada saat klenteng sudah ditutup.Padahal, saat itu lilin banyak yang menyala. Karena, se-belumnya digunakan untuk sembah yang umat.”Penjaga kami yang memang teledor. Tapi tak perlu disesali, yang penting kami akan fokus membangun kembali klenteng ini. Rencananya struktur bangu-nan nanti akan banyak meng-gunakan bahan cor. Selebihnya memakai kayu beberapa jenis yang terbaik serta awet. Kayu sendiri tidak hanya dari Indo nesia, tapi ada beberapa yang langsung didatangkan dari Tiongkok,” katanya. (dem/hes/ong)