FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
SEGERA AKAN DITELITI:BP2T akan menerjunkan tim khusus untuk meneliti langsung kondisi baliho yang ada di Kota Magelang. Tentu saja, BP2T menggandeng tim ahli yang mengetahui soal konstruksi pembuatan baliho yang tahan angin.
MAGELANG – Kejadian angin ribut yang menumbangkan pohon dan sejumlah baliho dinilai bukan sekedar force majeure. Terutama terkait baliho yang roboh di beberapa tempat. Seperti depan Kantor CPM Kota Magelang dan depan Rumah Dinas Ketua DPRD Kota Magelang. Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) Kota Magelang Singgih Indri Pranggana menilai, kejadian robohnya baliho bukan semata faktor alam atau force majeure. Justru, ia memperkirakan ada faktor konstruksi iklan luar ruang yang tidak sesuai standar. Faktor ini cukup berpengaruh dan membahayakan bagi masyarakat umum
“Kami tidak menyalahkan angin, sehingga baliho tumbang semata. Tapi ada indikasi, kalau konstruksinya tidak sesuai,” ungkap Singgih kemarin (13/3).Ia meneruskan, pascabencana angin ribut, pihaknya bakal lebih selektif dalam memberi per izinan pada pihak ketiga. Khususnya dalam soal pengadaan reklame dan baliho. Bahkan dalam waktu dekat, akan dilakukan cek fisik dengan melibatkan tim ahli untuk menentukan kelaikan baliho yang ada di Kota Sejuta Bunga tersebut.”Saya tidak ingin hanya se batas standar operasional pelaksana-an (SOP) saja yang jadi acuan. Harus ada cek fisik. Apalagi akhir-akhir ini cuaca cukup esktrem,” paparnya.Pemeriksaan akan berlaku bagi seluruh papan iklan. Ter-masuk yang sudah kokoh pada saat angin ribut terjadi tiga pekan lalu. “Kami tidak ingin terjadi (baliho roboh). Makanya, ke depan proses perpanjangan izin baliho, harus menyertakan pe-meriksaan teknis. Termasuk nanti menggandeng DKPT untuk merealisasikannya,” jelasnya.
BP2T akan menambahkan adanya syarat rekomendasi DKPT dalam proses pendirian media luar ruang baru. Sebelum pela-ku usaha jasa periklanan bisa mengurus perizinan di BP2T. Jika tanpa rekomendasi karena alasan konstruksi yang tidak memenuhi, pihaknya memas-tikan tak akan menerbitkan le-galitas.”Kami tidak akan ambil risiko. Jangan sampai, legalitas ini diberikan, tapi justru timbul masalah. Baliho yang tumbang kemarin, tidak sepenuhnya ka-rena bencana. Pasti ada faktor kekuatan fisik. Buktinya, tidak semua baliho dan reklame di kawasan itu roboh,” katanya memduga.Pihaknya juga akan mener-junkan tim khusus meninjau ke lapangan. Mereka akan melihat titik-titik yang dijadikan lahan periklanan. BP2T akan melibat-kan tim khusus yang me meriksa konstruksi tiang, ketebalan besi, perbandingan papan, ke-tinggian, zonasi, hingga ke kuatan hantaman angin.”Permohonan masuk ke BP2T selanjutnya akan ditinjau tim teknis, mengkaji kekuatan, konstruksi, dan lainnya. Saya prioritaskan tim kami terjun langsung. Bukan hanya laporan di atas kertas,” janjinya.
Sepertinya, Pemkot Magelang cukup trauma dengan akibat yang ditimbulkan dari angin ribut yang terjadi pada 26 Februari 2015. Karena banyak pohon dan baliho roboh. Termasuk dahan pohon yang patah dan sempat menimbulkan korban jiwa. Selain pihak DKPT yang rajin memang-kas pohon yang membahayakan, BP2T harus membuat aturan yang bisa “mengamankan” masyarakat dari bahaya baliho roboh.”Intinya, segalah hal yang mem-bahayakan atau rentan me-nimbulkan bahaya, kami tang-gulangi dan tata lagi,” kata Asisten Ekonomi Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkot Magelang Sumartono yang juga Ketua Harian Badan Penang-gulangan Bencana Daerah atau BPBD. (dem/hes/ong)