JOGJA – Pengembangan pasar modal di Indonesia masih ba-nyak menemui hambatan. Itu lantaran terbatasnya infrastruk-tur pendukungnya. Melihat itu, PT Kustodian Sentral Efek Indo-nesia (KSEI) kembali melanjut-kan sosialisasi fasilitas Acuan Kepemilikan Sekuritas (AKSes). Hal itu dilakukan guna mendu-kung pengembangan infrastruk-tur pasar modal. Sosialisasi dila-kukan dengan menggandeng Bank Mandiri untuk pengembangan fasilitas AKSes melalui infrastruk-tur e-channel bank dengan meng-gunakan anjungan tunai man-diri (ATM) dan internet banking.Kepala Divisi Komunikasi dan Perencanaan Strategis KSEI Alec Syafruddin mengatakan, luasnya jaringan perbankan dan kemu-dahan masyarakat dalam meng-gunakan ATM, e-banking dan mobile banking dapat mendukung pengembangan Fasilitas AK-Ses. Karena selama ini peng-hambat pengembangan pasar modal di Indonesia ialah terba-tasnya infrastruktur “Dengan adanya kerja sama ini, bisa menjadikan kegiatan investasi di pasar modal mudah dan nyaman,” terang Alec ke-pada wartawan, kemarin (13/3).
Dengan menggandeng per-bankan, terangnya, diharapkan infrastruktur yang telah ada dan mapan milik perbankan bisa mendukung pengembangan infrastruktur pasar modal. Se-hingga semakin banyak masya-rakat yang berpartisipasi dan memilih pasar modal sebagai alternatif untuk berinvestasi. “Ini sejalan dengan program pendalaman pasar untuk me-ningkatkan jumlah investor, Emiten (penerbit Efek) maupun produk-produk investasi di pa-sar modal,” ungkap Alec. Lebih lanjut, Alec menyatakan, potensi DIJ dalam pengembangan pasar modal di masa depan sangat menjanjikan. Berbagai program peningkatan jumlah investor pasar modal melalui kerja sama dengan perguruan tinggi cukup berhasil untuk mengajak mahasiswa sebagai investor muda memulai berin-vestasi di pasar modal. Alec mengatakan, secara nilai, investasi yang dilakukan oleh para mahasiswa ini jumlahnya belum terlalu besar. Namun sei-ring berjalannya waktu, pihaknya optimistis lima atau sepuluh tahun ke depan saat sudah mu-lai mereka akan menjadi inves-tor pasar modal yang benar-benar paham berinvestasi. “Dengan begitu, dapat mendu-kung ketahanan pasar modal kita,” ungkapnya. Tercatat, di DIJ terdapat 7.000 investor, sesuai alamat kartu iden-titasnya. “Kami yakin jumlahnya melebihi angka tersebut karena sebagai kota pelajar tentunya ba-nyak mahasiswa yang berasal dari luar dearah,” terang Alec.Kerja sama co-branding fasilitas AKSes telah mulai dicanangkan KSEI sejak akhir 2013, me lalui penjajakan dengan enam Bank Administrator RDN (Rekening Dana Nasabah). Kerja sama itu telah berhasil diimplementasikan dengan beberapa bank, salah satunya dengan PT Bank Man-diri (Persero) Tbk di tahun 2014.
Sebagai salah satu bank terbe-sar di Indonesia, Bank Mandiri telah memiliki ribuan kantor cabang di berbagai daerah. Juga ditunjang dengan fasilitas ATM dan e-channel yang meliputi in-ternet banking, mobile banking dan SMS banking. “Pengembangan AKSes Co-Branding tersebut da-pat menjadi alternatif bagi inves-tor pasar modal untuk memantau portofolio Efek pada Sub Rekening Efek dan dana di RDN yang se-belumnya dapat diakses melalui website maupun aplikasi mobile,” terangnya.Di tempat yang sama, Senior Manager ATM Business Depart-ment Bank Mandiri Yuanita Si-taniapessy mengungkapkan, peluncuran Co-Branding Bank Mandiri dan AKSes KSEI meru-pakan wujud nyata Bank Man-diri dalam mendukung secara penuh perkembangan pasar mo-dal Indonesia. Kerja sama Co-Branding Fasilitas AKSes dengan e-channel Bank Mandiri telah dapat digunakan sejak akhir 2014.”Melalui kerja sama antara KSEI dan Bank Mandiri ini diharapkan mendukung pengembangan pa-sar modal nasional yang mampu menopang pertumbuhan eko-nomi nasional,” terangnya.Dari sisi perkembangan jumlah investor, berdasarkan data KSEI per akhir Februari 2015, provinsi DIJ menempati urutan ke-7 dari 34 provinsi di Indonesia dengan jumlah investor sebanyak 7.021 orang. (bhn/ila/ong)