GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
LANGSUNG DITAHAN: Terpidana korupsi lelang kendaraan bermotor Djunaedi M. Syafi’i menandatangi berkas penahanan dirinya, saat tiba di Gedung Kejari Jogja, tadi malam 
JOGJA – Pelarian terpidana korupsi lelang kendaraan bermotor Kanwil Departemen Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah DIJ, Djunaedi M. Syafi’i berakhir. Mantan Kepala Seksi Analisa Informasi, dan Potensi (Aipol) Kantor Lelang Negara (KLN) Jogja itu ditang-kap tim kejaksaan di lokasi persembunyian-nya di Aceh, Kamis petang (12/3)
Asisten Pidana Khusus (Aspid-sus) Kejati DIJ Azwar mengata-kan, penangkapan buronan terpidana korupsi senilai Rp 743 juta ini bermula dari informasi masyarakat. Setelah mendapat-kan informasi itu Kejati DIJ langsung berkoordinasi dengan Kejati Aceh untuk mengendus kebenaran lokasi persembu-nyian Djunaedi.”DPO Djunaedi ditangkap pe-tugas Kejati Aceh di Simpang-tiga, Kredelog, NAD,” kata Azwar kemarin (13/3). Setelah penang-kapan, Kejati DIJ langsung me-nerjunkan tim khusus untuk menjemput buronan Djunaedi. Tim penjemput dipimpin lang-sung Kasi Pidsus Kejari Jogja Aji Prasetyo. “Mudah-mudahan hari ini (kemarin, Red) atau be-sok (hari ini, Red) sudah tiba di Jogja,” tambah Azwar.Azwar menerangkan, kasus ini bermula ketika Kanwil Dep-kop dan UKM DIJ pada 1999 ingin melelang 40 unit ken-daraan bermotor, yaitu 11 unit kendaraan roda empat dan 29 unit kendaraan roda dua. Pele-langan kendaraan itu men-indaklanjuti SK Menteri.
Se-lanjutnya, Kepala Kanwil Depkop dan UKM DIJ Syah-benol Hasibuan mengeluarkan surat perintah tentang pem-bentukan tim penjualan barang iventariasi yang akan diusulkan untuk dihapuskan.Dalam perjalanannya, Syahbenol memerintahkan anak buahnya bernama Suyanto se-bagia ketua panitia untuk ber-konsultasi ke Kantor Lelang Negara Jogjakarta dengan maksud membicarakan agar para pejabat struktural Kanwil Depkop dan UKM DIJ yang menguasai kendaraan menjadi pemenang lelang. “Jadi sebelum lelang, sudah ada daftar peme-nang lelang,” beber Azwar.
Akibat perbuatan itu, negara mengalami kerugian Rp 743 juta. Selain Djunaedi, kala itu yang diseret ke pengadilan ada-lah Edy Buwono yang menjabat staf Analisa Informasi, dan Po-tensi (Aipol). Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jogja yang mengadili Djunaedi men-jatuhkan hukuman dua tahun penjara, denda Rp 200 juta sub-sider 2 bulan kurungan, dan uang pengganti Rp 61 juta. “Djunaedi pernah mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi DIJ tapi ditolak. Begitu pula ka-sasinya oleh Mahkamah Agung juga ditolak pada 27 September 2014. Sedangkan Edy Buwono, sudah menjalani hukuman,” jelas Azwar. (mar/laz/ong)