FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
HARAPAN BARU: Sinar Joyoboyo Plastik bersiap mengekspor kantong plastik ke Somalia dan Kenya. Diskoperindag berharap ini menjadi titik balik kebangkitan ekspor perusahaan di Kota Magelang.
MAGELANG – Volume dan nilai ekspor Kota Magelang turun drastis pada 2014. Salah satu penyebabnya, karena kalah bersaing dengan ekspor negara lain. Terutama Tiongkok yang mengandalkan harga murah. Ini ter-ungkap setelah hasil evaluasi Dinas Koperasi Perindustrian Perdagangan dan UMKM (Diskoperindag) Kota Magelang.”Faktornya kalah saing dari China (Tiong-kok). Terutama sisi harga. China produksi dengan kualitas sama, tapi harga lebih murah. Tentu saja, ini sangat berpengaruh pada kelangsungan usaha dalam negeri,” kata Kasi Ekspor Impor Diskoperindag Kota Magelang Ismail kemarin (13/3)
Ismail menambahkan, dari 2011 sampai 2013, Kota Magelang mempunyai empat jenis komo-diti yang selalu bisa dikirim ke luar negeri. Yakni kulit sapi jadi, kulit sapi wet blue, kulit sapi crush, dan laminating board. Namun, memasuki 2014, hanya dua komoditi yang bisa meng-ekspor produknya ke luar negeri. Yakni, kulit sapi wet blue se banyak 1.130.348,2 square feet (SQ FT) dan laminating board sebanyak 7.023,7 meter kubik. “Dari data ini terlihat, ekspor terjadi penurunan. Karena pada 2013, ekspor empat komoditi tersebut cukup tinggi. Kulit sapi jadi sebanyak 502.930,86 SQ FT, kulit sapi wet blue mencapai 1.463.142,22 SQ FT, kulit sapi crush ada 1.298.916,16 SQ FT, dan laminating board sebanyak 2.612,92 meter kubik,” paparnya.
Tidak hanya soal jumlah, dari nilainya juga merosot. Khusus nilai ekspor kulit sapi wet blue dan laminating board, pada tahun 2014 meningkat dibanding 2013. Nilai ekspor kulit sapi wet blue naik dari US Dollar 2.635.100,53 menjadi US Dollar 3.104.727,8.”Nilai ekspor laminating board juga meningkat menjadi US Dollar 1.720.251,9 dari sebelumnya US Dollar 721.875,03. Dua komo-diti ini masih bertahan sampai sekarang. Kami harap tetap ekspor untuk menunjukkan kalau pro-duk kita tidak kalah berkualitas,” katanya berharap.Menurut Ismail, faktor lain penurunan karena belum ada pesanan lagi dari negara pe mesan. Seperti dari Singapura, Korea, Italia, Hongkong, dan lainnya. Untuk meningkatkan ekspor, pihaknya mendorong pe rusahaan yang bersangkutan mencari pa-sar baru di negara lain.”Pengusahanya sedang nego-siasi dengan negara lain, tapi sepertinya belum deal. Kami harap bisa segera mendapat pasar baru,” katanya.
Ditambahkan Ismail, tahun ini akan ada perusahaan baru me-lakukan ekspor ke Afrika. Yakni, Sinar Joyoboyo Plastik (Lidah Buaya Group).Kabid Perdagangan Diskoperin-dag Ratna Haryati menambah-kan, satu lagi penyebab turunnya volume dan nilai ekspor adalah bangkrutnya perusahaan pem-buatan tembakau krosok. Sejak 2011, produsen tembakau krosok gulung tikar. Secara otomatis, mereka tidak bisa lagi ekspor.”Alasannya tidak ada generasi penerus. Disayangkan, karena volume ekspor tiap tahunnya cukup banyak mencapai 30.800 kilogram senilai 33.880 euro. Semoga tidak ada lagi per usahaan di Kota Magelang yang bangkrut, gara-gara kalah saing atau tidak ada penerus,” katanya.Sebelumnya, CEO Sinar Joyo-boyo Plastik Magelang Hengky Sidharta menargetkan, pada akhir Maret ini bisa go international. Mereka bersiap mengekspor kantong plastik ke dua negara di Benua Afrika. Yakni, Somalia dan Kenya. Ekspor tersebut bakal menjadi pengalaman pertama per usahaan yang memproduksi aneka plastik sejak 1995. “Bahkan, yang per-tama juga sejak Lidah Buaya Grup berdiri pada 1982 oleh bapak saya, Iming Sidharta,” ungkap Hengky. (dem/hes/ong)