GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
PECAH: Kondisi rumah warga yang juga tempat usaha mengalami kerusakan akibat dilempari batu oleh sejumlah suporter PSIM Jogja di Jalan Magelang KM. 14, Temulawak, Sleman, kemarin (13/3).
JOGJA – Manajemen PSIM Jogja menya yangkan keributan antara suporter PSIM dengan warga di beberapa lokasi di Sleman (13/3). PSIM me-minta aparat kepolisian menindak tegas para pelaku keributan dan perusakan, termasuk yang memblokir jalan Jogja-Magelang sehing-ga tidak dapat dilewati kendaraan
“Kami menyayangkan peris-tiwa kemarin, suporter seharus-nya lebih dewasa. Tapi kami juga menyayangkan pencegatan di jalan yang membuat arus kendaraan terganggu. Aparat seharusnya bisa tegas,” ujar Agung Damar Kusumandaru, manager sekaligus ketua umum PSIM Jogja kemarin (14/3). Aksi pencegatan di Jalan Jog-ja-Magelang, tepatnya di daerah Murangan dan Temulawak ter-sebut, membuat jalan tidak bisa dilewati dan menggangu masyarakat lainnya. Tim PSIM Jogja, terang Agung, juga baru bisa sampai di Jogja menjelang tengah malam. Pihaknya pun langsung mela-kukan koordinasi dengan dua kelompok suporter PSIM, Bra-jamusti dan Maident.
Dari ha-sil penuturan kedua kelompok suporter PSIM ini, selama per-jalanan ke Magelang sudah mendapat provokasi seperti dilempari batu. Ini yang mem-buat perjalanan beberapa kali terhenti. Manajemen PSIM saat ini juga masih menunggu hasil pen-dataan yang dilakukan Braja-musti dan Maident terhadap anggotanya yang mengalami luka-luka. “Info sementara tidak ada yang parah, tapi ada yang luka bacok dan kebanyakan ke-palanya bocor kena lemparan batu,” terangnya.
Sementara itu ketika ditanya apakah akan mempertemukan semua kelompok suporter di DIJ untuk mengupayakan per-damaian, Agung mengaku hal itu bukan kewenangan mana-jemen PSIM Jogja. Tapi, lanjut dia, setelah manager meeting dan pembagian grup diketahui, ia akan menginisiasi pertemu-an antarsuporter, termasuk dengan pihak keamanan. “Juga untuk teknik pengamanan, ka-rena kemungkinan tiga tim DIJ ini jadi satu grup sangat besar,” terangnya.Terpisah, Presiden Brajamus-ti Rahmad Kurniawan mengkla-rifikasi pemberitaan di media yang menyebut suporter PSIM, terutama Brajamusti, melakukan tindakan anarkistis saat berang-kat ke Magelang. Pria yang bia-sa disapa Mamex ini mengaku sebelum berangkat ke Magelang sudah kulonuwun ke pihak ke-polisian hingga ke dua kelompok suporter PSS Sleman, Slemania dan BCS. “Kami punya tata krama, se-belum berangkat sudah koor-dinasi dengan kepolisian Sleman hingga Magelang, termasuk ke Slemania dan BCS,” terangnya.
Bahkan, lanjut dia, perjalanan dari Jombor hingga Mlati dijem-put oleh BCS dan berjalan kondusif. Namun demikian saat mema-suki Jalan Magelang Km 13 di wilayah Murangan atau di sela-tan RSUD Sleman, mulai menda-pat gangguan lemparan batu. Diakui, rombongan sempat membalas lemparan batu ter-sebut untuk membela diri, se-belum melanjutkan perjalanan ke Magelang. Terkait isu penjarahan, Mamex membantahnya. “Tidak ada penja-rahan. Saat itu berhenti karena dilempari dan segera melanjutkan perjalanan,” terangnya.Begitu pula saat perjalanan pulang, pihaknya sengaja me-milih jalur Magelang-Purwo-rejo-Wates, karena di Jalan Magelang sudah dicegat ri-buan orang.
“Ternyata di Jalan Wates juga masih dilempari batu,” ujar Mamex yang menga-ku baru sampai Jogja pukul 03.00 WIB.Brajamusti sendiri saat ini membuka posko pengaduan sambil terus mendata jumlah korban. Dirinya mengaku belum memiliki data pasti berapa jum-lah anggotanya yang menjadi korban dan kerusakan kendara-an bermotor. Sedangkan untuk komuni-kasi dengan Slemania maupun BCS, diakui belum dilakukan. “Sekarang kami masih fokus pada pendataan internal dulu,” jelasnya.

Rencana Akan Duduk Bersama

Ketua Umum Slemania Lilik Yulianto mengaku prihatin atas peristiwa yang terjadi di Jalan Magelang Jumat (13/3). Padahal menjelang memasuki kompeti-si divisi utama, pihaknya beren-cana melakukan konsolidasi antarsuporter sebagai upaya menciptakan suasana kondusif dan menghentikan permusuhan.”Memang kemarin sebelum kejadian ada rencana pengurus Brajamusti dan Maident mam-pir ke Sleman setelah dari Ma-gelang. Namun dengan keja-dian itu, nampaknya harus cooling down dulu. Menunggu situasi dingin,” jelas Lilik ke-pada Radar Jogja dihubungi kemarin (14/3).
Lilik mengimbau kepada Sle-mania untuk tidak terprovo-kasi dengan kerusuhan Jumat lalu. Sampai saat ini pihaknya masih menunggu klarifikasi dari pihak Brajamusti terkait aksi perusakan terhadap bebe-rapa bangunan yang dilakukan oleh oknum suporter.”Setelah ada klarifikasi, hara-pannya para suporter dari klub PSIM, Persiba maupun PSS bisa duduk bersama meredakan ke-tegangan. Apalagi kompetisi sudah akan dimulai,” terangnya.Dia mengakui, upaya-upaya koordinasi antarpengurus, baik Brajamusti maupun Maident, sudah sering dilakukan. Hanya saja terkadang ulah dari oknum inilah yang sering sulit dipre-diksi.
“Aksi-aksi provokasi kadang sangat mudah menyulut keru-suhan,” terangnya.Menjelang kompetisi dimulai, Lilik berharap ada wadah bagi suporter untuk melakukan ko-ordinasi. Sehingga nantinya kerusuhan antarsuporter bisa diminimalisasi.Dia berharap suporter untuk tidak saling serang dan tawuran. Di saat sepak bola Indonesia mulai menuju ke arah profesio-nal, seharusnya riak-riak yang mencoreng wajah sepak bola nasional harus sudah dihilangkan.”Tawuran yang bisa menim-bulkan perpecahan hanya akan merugikan tim. Karena ada kon-sekuensi dari perbuatan tersebut,” ujarnya. (pra/bhn/laz/ong)