YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
HEMAT AIR: Bupati Sleman Sri Purnomo dan sejumlah pejabat Pemkab Sleman saat kampanye hemat air di Embung Sendari, Tirtoadi, Mlati kemarin (15/3).
SLEMAN- Di sebagian wilayah di tanah air, hujan menyebabkan banjir hingga menggenangi rumah warga dan lahan pertanian. Tetapi di Sleman, Kepala Sumber Daya Alam Air, Energi, dan Mineral Sapto Winarno justru mengajak warga Sleman memanen hujan. Maksudnya, memanfatkan air hujan untuk menjaga sumber daya alam tersebut. Ajakan itu didasarkan atas fakta bahwa seiring berkembangnya jumlah penduduk, kebutuhan air meningkat. Sebaliknya, potensi sumber daya air justru menyusut. Nah, kondisi itu menuntut masyarakat mengatur dan menghemat penggunaan air untuk kebutuhan rumah tangga. Seperti, minum, mencuci, mandi, dan mengairi sawah maupun kolam ikan. “Strategi ini perlu dilakukan agar semua ke-butuhan air dapat terlayani dengan baik,” ujar Sapto dalam kampanye hemat air di Embung Sendari, Tirtoadi, Mlati kemarin (15/3).
Selain memanen hujan, lanjut Sapto, masyarakat bisa berperan mandiri untuk mempertahankan sumber daya air. Di antaranya, membuat biopori atau sumur resapan.Bupati Sleman Sri Purnomo meng-ingatkan agar masyarakat tidak melihat air sebagai hal biasa di wilayah beriklim tropis yang bercurah hujan tinggi. Lebih dari itu, masyarkat diminta menyadari bahwa air tidak hanya dimanfaatkan, tetapi juga perlu diselamatkan.Untuk itu, bupati berharap peran masyarakat dalam konservasi, pendayagunaan, dan pengendalian sumber daya air. Pembangunan embung menjadi salah satu cara untuk mendayagunakan air bagi keperluan pertanian, perikanan, dan pariwisata. “Ke depan semoga bisa dikembangkan menjadi sumber air minum pedesaan,” harapnya.
Sri mewanti-wanti, tidak boleh ada kelompok tertentu memonopoli sumber daya air. Pada hakekatnya air adalah milik bersama dan diatur undang-undang. Sri menengarai saat ini masih banyak terjadi pemborosan air. Di antaranya, untuk irigasi, industri, jasa, dan rumah tangga. “Ini butuh kesadaran semua pihak, agar bersikap hemat,” pintanya.Penyadaran masyarakat harus dimulai sejak dini. Agar ke depan generasi muda lebih bijak dalam pemanfaatan dan mengelola air. Di Sleman, saat ini telah terbangun 25 embung. Lima di antaranya milik pemkab, 12 Pemprov DIJ, dan 8 Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak. (yog/din/ong)