ADIDAYA PERDANA/RADAR JOGJA
SANGAT BERBAHAYA: Pinggir Sungai Progo, tepatnya di Dusun Sampang, Gondangrejo, Windusari yang tergerus air sungai. Jalan yang menghubungkan dengan Desa Jambewangi ini terancam putus seandainya tidak ada upaya dari pemerintah. Sampai saat ini warga setempat bergantian mengawasi lokasi longsoran
MUNGKID – Kejadian banjir di Sungai Progo Sabtu Sore (14/3), mengancam infrastruktur jalan desa di Dusun Sampang, Gondangrejo, Windusari. Jalan yang menghubungkan dengan Desa Jambewangi, Secang ini terancam putus. Lantaran tebing jalan setinggi enam meter mengalami longsor. Selain jalan, bencana ini juga mengancam 23 rumah yang berpenghuni sekitar 43 jiwa. Bahkan, satu bangunan masjid ikut terancam, seandainya ada longsor susulan.Peristiwa bermula saat hujan deras dan banjir di Sungai Progo menerjang talud senderan jalan Desa Gondangrejo. Akibat-nya, jalan yang dibangun tahun 2011, mengalami longsorsepanjang 40 meter dan lebar tiga meter. “Sebelum terkena longsor, jalan me ngalami retak terlebih dahulu. Aliran air hujan yang turun cukup deras, lalu masuk ke dalam rekahan,” ungkap Budi Hartono, salah satu saksi mata, kemarin (15/3)
Budi mengaku, dirinya melihat langsung detik-detik terjadinya tanah longsor yang menerjang samping rumahnya tersebut. Kemudian, ia bergegas menga-mankan keluarga dan barang-barang yang ada di dalam rumah untuk dipindahkan. Ia me lakukan itu karena panik. Apalagi long-sornya ruas jalan, ada enam rumah yang terdampak langsung.”Kami satu keluarga terpaksa mengungsi terlebih dahulu di tempat saudara.Harapanya, pemerintah segera memikirkan nasib keluarga kami,” keluhnya.Kepala Desa Gondangsari Sukamto, 43, menjelaskan, akibat tanah longsor ini setidaknya ada 23 rumah yang berpenghuni 43 jiwa dalam kondisi terancam logsor susulan. Ada 18 rumah di RT 1, Dusun Sampang yang berpenghuni 27 jiwa dan lima rumah di RT 4 yang ber penghuni 16 jiwa.”Bahkan selain rumah, di RT 4 juga mengancam bangunan masjid. Sementara di RT 1 ada enam rumah yang terdampak langsung tanah longsor,” jelasnya.
Dari jumlah tersebut, ada dua KK terpaksa mengungsi semen-tara. Mereka tidak diizinkan menempati rumahnya saat hu-jan deras maupun pada malam hari. Karena potensi bencana tanah longsor susulan masih ada. Enam rumah yang berdampak langsung hanya berjarak tiga meter dari tanah longsor.”Sebelum longsor, dua minggu yang lalu jalan sudah retak-retak. Desa juga sudah melaporkan peristiwa ini ke bupati. Tetapi karena faktor cuaca jadi belum ditangani,” jelasnya.Kades segera mengajukan ban-tuan ke Pemkab Magelang dan instansi terkait, agar ada penanga-nan. Jalan ini merupakan jalur penting yang biasa dilalui warganya bekerja dan berangkat ke sekolah di Kota Magelang.”Dari lima ribu warga di sini, 60 persennya bekerja di Kota Magelang dan melewati jalan ini. Jika sampai muncul longsor susulan, warga terpaksa harus memutar sejauh 7 kilometer melewati jalan Payaman – Wi-dusari,” imbuhnya.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabu-paten Magelang Joko Sudibyo menyampaikan, ke enam rumah yang berada persis di tebing longsoran adalah milik Budi Har-tono, Asnawi, Sumadi, Hadi Su-roso, Pardi, dan Aziz. Pemkab Magelang sudah meninjau lo-kasi longsoran dan memberikan bantuan logitik ke pemerintah desa setempat. (ady/hes/ong)