JOGJA – Menjelang pemilihan bupati (pilbup) serentak Desem-ber mendatang, partai-partai politik mulai memanaskan mesin-nya. Salah satunya PAN yang sudah selesai menggelar hajat pemilihan Ketua Umum DPP dengan Zulkifli Hasan sebagai pemenangnya. Partai berlambang matahari terbit itu menggadang Tutiek Widyo, mantan Wakil Ke-tua DPRD DIJ meneruskan tren perempuan di bumi Handayani. Penyebutan nama Tutiek Widyo ini disampaikan langsung Ketua MPP DPW PAN DIJ Ahmad Hanafi Rais saat menggelar Ra-pat Dengar Pendapat (RDP) di salah satu hotel di Kota Jogja, akhir pekan lalu. Ia menggadang Tutiek bisa meneruskan kepe-mimpinan kaum hawa dari Bupati Badingah. “Bu Tutiek mungkin bisa untuk bertarung di Gunungkidul,” ujar Hanafi yang datang dalam ka-pasitasnya sebagai anggota DPR RI. Hal itu lantas mendapatkan teriakan dukungan dari ibu-ibu Sekar Surya yang hadir.
Kepemimpinan perempuan di DIJ, kata Hanafi, selama ini men-jadi tren. Kaum ibu itu pun men-jawab dengan berbagai keber-hasilan saat memimpin daerah. Yang bersangkutan ditemui usai RDP mengaku menyerahkan ke partai. Hanya saja Tutiek menegas-kan, kalau hal itu memang telah menjadi keputusan partai, dirinya mau tak mau harus siap. “Kalau partai sudah menugaskan demikian, harus siap,” tandas Tutiek. Sosok Tutiek Widyo bukan nama asing bagi publik di Kabupaten Gunungkidul. Begitu juga di du-nia politik. Selama kurun 2009-2014, Tutiek menjadi Wakil Ketua I DPRD DIJ. Bahkan, dalam per-tarungan Pileg 2014 lalu, Tutiek merupakan peraih suara terba-nyak ke kedua dari PAN Dapil Gunungkidul. Ia kalah bersaing dengan Sutata dengan selisih 200 suara. Tutiek meraup 15.800 su-ara, Sutata 16.000. “Di Gunungkidul itu karakter masyarakatnya rubuh-rubuh gedang. Mereka akan mengikuti sosok pemimpin di lingkungan-nya,” kenangnya menceritakan kala berjuang mendapatkan jatah kursi DPRD DIJ.
Dengan kondisi sosial tersebut, lanjut Tutiek, memang cukup sulit untuk bisa memenangkan pilbup. Sebab, popularitas tak mesti bisa berjalan beriringan dengan elektabilitas. “Kalau populer tapi tidak mendapat dukungan dari sosok yang di ikuti di sana, sulit,” imbuhnya. Selama dua kali pilbup, tahun 2010 dan 2005, di Gunungkidul memang tak bisa dipisahkan dari sosok perempuan. Nama Badingah dua kali memimpin saat pilbup tersebut. Tahun 2005 ia maju dan menang kala men-jadi Wabup berpasangan dengan Suharto. Kemudian tahun 2010 ia kembali sukses saat berganti dengan Sumpeno yang tak sam-pai setahun kemudian mening-gal. Posisi bupati pun berhak dijabat Badingah yang meng-gantinya atasannya. Keberadaan perempuan yang selalu memenangi perebutan kursi kepala eksekutif ini tam-paknya menarik bagi PAN. Apa-lagi, partai terbesar kedua di DIJ ini juga tak mau kehilangan posisi sebagai penguasa ekse-kutif di Gunungkidul.
Tapi, soal peluang itu, Tutiek buru-buru menegaskan, pe-ngusungan calon bupati (cabup) dan calon wakil bupati (cawa-bup) tak bisa ditentukan PAN sendiri. Sebab, sejak pemben-tukan Koalisi Merah Putih (KMP), pengusungan calon wajib menjadi kesepakatan partai lain anggota KMP. Soal strategi pemenangan pil-bup, Ketua Pelaksana KMP DIJ Nazarudin menuturkan, tetap mengusung satu cabup dan ca-wabup. Ini sudah menjadi kese-pakatan anggota KMP yaitu PAN, Golkar, Gerindra, PKS, Partai Demokrat, PPP, dan PBB. “Se-karang, diserahkan ke masing-masing partai untuk konsoli-dasi,” ujar Nazar. Sekretaris DPW PAN DIJ ini mengatakan, konsolidasi itu un-tuk mengetahui nama-nama yang pantas diusung KMP. Kemudian nama-nama itu akan diuji di in-ternal KMP. “Siapa yang elekta-bilitasnya kuat? Itu akan jadi parameter penting,” tuturnya. Kemudian dari elektabilitas, KMP juga telah melakukan perhitungan skor dari masing-masing partai anggota. Itu un-tuk menentukan partai peng-usung yang masuk dalam pendaftaran di KPU. “Jadi ada dua, skoring dan elektabilitas atau figur dari calon itu,” lanjutnya. (eri/laz/ong)