DWI AGUS/RADAR JOGJA
PANAHAN TRADISI: Jemparingan yang merupakan kekayaan seni tradisi Jogjakarta kini dikemas menjadi potensi wisata menarik.
SLEMAN – Jemparingan atau panahan tradisi saat ini tidak hanya menjadi kekayaan tradisi Jogja-karta. Di tangan Wira Wisata Caraka Mulya (WWCM), kekayaan seni tradisi ini diolah menjadi potensi wisata. Hadir dengan paket wi-sata dari dapur pembuatan hing-ga praktik jemparingan.Salah satu penggagas paket wi-sata ini adalah seniman Whani Darmawan. Menurutnya, jempa-ringan adalah kekayaan seni dan budaya yang dimiliki Jogjakarta. Meski beberapa saat ini sering diadakan di Keraton Jogjakarta maupun Kadipaten Pura Pakua-laman namun konteksnya lain.”Melestarikan dengan menge-masnya melalui paket wisata. Potensi wisata budaya ini sa-ngatlah besar. Untuk mengakses bisa langsung datang ke tempat ini,” katanya kemarin (15/3).
Paket wisata ini diadakan di pusat latihan panahan komu-nitas Dewandanu. Tepatnya berada di Desa Karangnongko, Maguwoharjo, Depok, Sleman. Dalam paket wisata ini tersaji dapur pembuatan panah tra-disi atau akrab disebut gandewa.Proses pembuatan gandewa pun berbeda dengan panah mo-dern. Ada proses panjang dalam pembuatan panah tradisi. Mulai dari lelaku terlebih dahulu hingga dibuat berdasarkan weton pemesan.Menurut empu pembuat Tubagus Ali Mustofa, tiap gan-dewa yang dibuat berbeda. Ini karena menyesuaikan karakter pemesan, sehingga pembuatan tidak bisa dilakukan dengan asal. Bahan baku yang digunakan pun pilihan, yaitu bambu petung yang didiamkan selama empat tahun terlebih dahulu.Batang anak panah pun ter-buat dari bahan terpilih. Mulai dari kayu walikukun, kayu jeruk nipis dan bambu petung. Ukuran anak panah ini memiliki ruas minimal 70cm dengan ketebalan 3 cm. Penebangan kayu, lanjut pria yang akrab disapa Gus Mus, ini menganut sistem nagadina.
“Hampir sama seperti keris tapi medianya yang berbeda. Kita tetap mempertahankan filosofi dan khasanah dalam pembuatan gandewa ini. Karena ini adalah nilai-nilai dari para leluhur yang wajib kita jaga,” katanya.Whani menambahkan dalam kesempatan ini pengunjung yang hadir akan benar-benar belajar. Termasuk memahami bahwa jemparingan memiliki tiga tahapan. Seperti Sirwindo, Danurewedo dan Triwendo.Dalam kesempatan ini juga dikenalkan posisi memanah dengan cara tradisional. Dari posisi kalang kinantang lenggah memanah sambil duduk. Lalu kalang kinantang adeg mema-nah dengan posisi berdiri dan sampak patrol dengan menaiki kuda dalam peperangan.”Tapi untuk di sini dikenalkan dengan posisi sikap kalang kinan-tang lenggah atau duduk. Setiap tamu diberikan kesempatan untuk memanah dengan sasaran target lingkaran. Untuk bandolan seperti jemparingan pada umumnya hanya untuk yang terlatih,” ungkapnya. (dwi/laz/ong)